
...AKU MELIHATMU, WANITA GILA!...
Waktu telah berlalu. Matahari telah terbangun dari tidurnya. Menyinari salah satu jendela kamar di Penginapan Star.
“Nara, bangunlah! Ini sudah pagi!” Ucap seorang wanita cantik berambut pirang keputihan membangunkan pria tampan berambut hitam legam.
“Sebentar lagi!” Ucap seorang pria tampan berambut hitam legam.
“Ini sudah kelima kalinya kau ngomong begitu.” Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan sambil mengambil selimut yang membungkus rapat tubuh pria tampan.
“Hoam, iya-iya aku bangun, Fiona.” Ucap pria tampan yang menguap sambil melihat wanita cantik yang dengan merapikan selimut.
Aah!
“Kau kenapa sih? Nara!” Ucap Fiona yang tiba-tiba terjatuh dalam pelukan Nara.
“Karena kau mengganggu tidurku.” Ucap Nara sambil tetap memeluk Fiona dari belakang.
“Dasar kau ini!” Ucap Fiona yang pasrah dengan sikap Nara.
...—–—...
Sementara kedua sepasang manusia itu bermesraan. Terlihat seekor burung Gagak Hitam dan seekor Ular Putih yang sangat akrab.
“Menjauh kau dari makananku, dasar burung aneh!” ucap Ular Putih sambil menjauhkan mangkuk makan dari Gagak Hitam.
“Kau yang menjauh dari makananku, dasar ular gila!” Ucap Gagak Hitam sambil mematuk makanannya.
Nara yang telah selesai mandi dan berpakaian. Merasa terganggu dengan suara berisik dari pojok kamar.
“Oakh-Oakh Sssss-Ssss”
Suara berisik berasal dari dua jenis Beast berbeda yang saling mematuk dan menggigit.
Ehem!
“Sepertinya kalian bersenang-senang.” Ucap Nara sambil tersenyum.
Ketika dua Beast itu mendengar suara Nara mereka langsung diam dan melanjutkan makan dengan tenang.
...—–—...
Sudah hampir lima hari Nara berada di Penginapan Star. Hari ini adalah hari dimanah wilayah Marquess Pablo resmi menjadi milik Nara.
“Fiona, kita akan berangkat hari ini.” Ucap Nara kepada Fiona yang sedang mengambilkan makan Nara.
“Baiklah, lagi pula semua barang sudah aku rapikan.” Ucap Fiona dengan santai sambil duduk.
“Mm, baiklah. Terima kasih.” Ucap Nara sambil mulai makan.
...—–—...
Setelah makan, Nara dan Fiona turun dari kamar menuju pintu keluar penginapan. Terlihat kereta kuda hitam telah siap untuk perjalanan panjang.
“Selamat pagi, Tuan Nara dan Nyonya Fiona.” Ucap sambutan dari Tiara, Lisa dan Vania.
“Pagi.” Ucap Nara yang tak acuh langsung memasuki kereta kuda.
“Selamat pagi juga.” Ucap Fiona dengan santai sambil mengikuti Nara masuk.
Setelah Nara dan Fiona masuk ke kereta kuda. Tiara dan Lisa juga masuk ke dalam kereta kuda dan duduk di hadapan Fiona dan Nara. Sementara Viona berperan menjadi kusir kereta kuda.
Setelah itu kereta kuda mulai dipacu dengan kecepatan sedang berjalan melintasi jalan ibukota yang ramai penduduk.
...—–—...
Tidak terasa sudah hampir seminggu. Kereta kuda Nara berjalan tanpa hambatan.
“Haa, membosankan. Apakah tidak ada bandit yang menghadang? Setidaknya wild beast begitu? Perjalanan ini terlalu membosankan.” Ucap Nara sambil memakan keripik buah.
“Emangnya siapa orang bodoh yang akan menyerang kereta kuda kita? Kereta kuda yang diawasi oleh berbagai macam beast yang sangat mengerikan itu.” Ucap Fiona yang tidak mengerti dengan isi kepala Nara.
“Huh, membosankan." Ucap Nara sambil terus memakan keripik buah.
“....”
...—–—...
Setelah beberapa jam kemudian.
“Tuan Nara, kita sudah mendekati wilayah Marquess Pablo.” Ucap Viona dengan terus memacu kereta kuda.
“Hoam, akhir sampai.” Ucap Nara sambil meregangkan tubuhnya.
Tuan Nara Satya telah tiba!
Suara keras menyambut kereta kuda Nara yang memasuki area mansion. Kereta kuda Nara berhenti di depan mansion. Dan turunlah Nara dan diikuti oleh Fiona, Tiara, Lisa, dan Viona.
“Selamat datang di selatan kerajaan Majapahit. South Of Eternal Majapahit, Tuan Nara Satya.” Ucap seorang prajurit yang menyambut Nara.
“Maafkan saya. Nama saya Diego. Saya ketua barisan prajurit dalam.” Ucap prajurit tersebut sambil membungkuk hormat dan diikuti oleh seluruh prajurit yang menyambut Nara.
“Baik. Dan bisa tunjukkan mansion dan ruang kerjaku.” Ucap Nara sambil berjalan menuju pintu masuk mansion diikuti oleh Fiona dan para pelayan pribadi.
“Baik, Tuan Nara.” Ucap Diego sambil berjalan mendekati Nara.
...—–—...
Di ruang kerja mansion Marquess.
“Dan ini adalah ruang kerja mansion Marquess.” Ucap Diego sambil menunjukkan ruang kerja.
“Emm, bisa tolong kumpulkan dokumen tentang prajurit, daerah kekuasaan yang akan aku kelola, dan dokumen yang harus ditandatangani.” Ucap Nara sambil memperhatikan ruang kerja Marquess Pablo.
“Baik, Tuan Nara.” Ucap Diego yang kemudian pergi keluar dari ruang kerja.
Nara berjalan dan kemudian duduk di kursi kerja Marquess. Dan di depan meja kerja terdapat Tiara dan Lisa yang berdiri dengan siap menerima tugas.
“Tok-tok”
“Masuk.” Ucap Nara dari dalam.
Pintu terbuka memperlihatkan Diego yang sedang membawa setumpuk dokumen-dokumen.
“Taruh semuanya di meja.” Ucap Nara kepada Diego.
“Hanya ini yang bisa saya temukan, Tuan Nara.” Ucap Diego sambil meletakkan dokumen-dokumen.
“Terima kasih.” Ucap Nara kepada Diego sambil memeriksa dokumen.
“Tidak apa-apa, Tuan Nara. Ini sudah menjadi tugas saya melayani pemilik wilayah yang baru.” Ucap Diego sambil membungkuk hormat.
“Kamu boleh pergi.” Ucap Nara sambil tetap fokus membaca dokumen.
“Baik, Tuan Nara.” Ucap Diego sambil berjalan pergi.
“Untuk Tiara, bisa tolong kirimkan surat kepada para mantan Count untuk menghadiri makan malam pada lima hari dari sekarang.” Ucap Nara kepada Tiara.
“Sesuai perintah Anda, Tuan Nara.” Ucap Tiara sambil membungkuk hormat lalu pergi.
“Lalu Lisa, karena kamu dulu adalah seorang putri bangsawan. Seharusnya kamu mengetahui tentang kepengurusan wilayah.” Ucap Nara kepada Lisa sambil menyerahkan dokumen.
“Benar, Tuan Nara.” Ucap Lisa sambil menerima dokumen.
“Itu adalah dokumen tentang keuangan wilayah South Of Eternal. Kamu bisa pelajari dokumen keuangan ini bila ada yang tidak sesuai dan hal aneh kamu bisa laporkan kepadaku.” Ucap Nara sambil membaca dokumen.
“Baik, Tuan Nara. Saya akan menjadi berguna bagi Anda.” Ucap Lisa dengan tatapan membara lalu pergi.
“Hmm, apa yang sebenarnya kamu lakukan kepada Lisa, Tiara?” Ucap Nara kepada udara kosong di pojok ruangan.
“Saya tidak melakukan macam-macam. Hanya beberapa motivasi kecil. Hihi.” Ucap Tiara yang muncul dari angin membungkuk hormat.
“Haa, sudahlah. Apa sudah kamu kirim surat ke semua Count?” Ucap Nara sambil membalik-balik dokumen.
“Sudah saya kirimkan, Tuan Nara.” Ucap Tiara dengan bibir merah merona.
“Terima kasih, dan bisa kamu temui Fiona. Dan bilang padanya untuk menemuiku. Entah berkeliaran di mana saja wanita itu.” Ucap Nara sambil menghela nafas.
“Baik, Tuan Nara.” Ucap Tiara dengan langsung menghilang di telan angin.
“Dan sekarang giliran para dokumen-dokumen ini.” Ucap Nara dengan tidak semangat menatap tumpukan dokumen.
...—–—...
Sementara pria tampan berambut hitam legam itu frustrasi dengan para dokumen-dokumen. Wanita cantik berambut pirang keputihan tengah asyik meminum teh di halaman mansion yang ditanami bunga-bunga cantik berwarna-warni.
“Suasana di sini enek juga.” Ucap wanita cantik dengan menikmati teh.
“Anda benar, Nyonya.” Ucap wanita berambut hijau pendek.
“Akhirnya, saya bisa menemukan Anda, Nyonya Fiona.” Ucap seorang wanita berpakaian Maid keluar dari angin.
“Ada apa, Tiara.” Ucap Fiona dengan ekspresi datar.
“Anda di minta untuk menemui Tuan Nara, Nyonya Fiona.” Ucap Tiara sambil membungkuk hormat.
“Bilang padanya, kalau aku sibuk.” Ucap Fiona sambil tetap menikmati teh.
“Tapi-“ Ucap Tiara terhenti ketika melihat Fiona yang menutup telinganya.
“AKU MELIHATMU, WANITA GILA!” Terdengar suara Nara yang keras.
“KAU KENAPA SIH! DASAR PRIA ANEH!” Ucap Fiona memaki maki dan kemudian menghilang di telan cahaya rantai.
“...” Tiara dan Vania hanya diam melihat Tuan dan Nyonya mereka.