
...Kenapa Harus Balapan?...
Di dalam ruang kerja Laura. Terlihat Nara sedang menyusun huruf di atas kertas.
“Kamu baca surat perjanjian ini.” Ucap Nara sambil menyerahkan kertas berisi tulisan.
Kemudian Laura membaca kertas yang diberikan oleh Nara dengan saksama.
Isi kertas kesepakatan kerja sama adalah Pihak Nara Satya sebagai penguasa South Of Eternal menawarkan dana untuk Pihak Laura Kiara sebagai alkemis.
Sebagai gantinya Pihak alkemis Laura Kiara akan memasok Mystical Plant Seeds kepada Pihak Nara Satya sebagai pemberi dana.
Dan Pihak Nara Satya sebagai penguasa South Of Eternal menawarkan kemudahan dalam mendapatkan sumber daya dengan harga yang terjangkau.
Sebagai gantinya Pihak alkemis Laura Kiara akan membuat berbagai jenis Mystical Plant Seeds. Dan Pihak Nara Satya akan membelinya dengan harga yang lebih terjangkau dari pasaran.
Pihak alkemis Laura Kiara akan menerima 5% dari hasil penjualan atau kegiatan yang menghasilkan uang yang dilakukan oleh Pihak Nara Satya.
Dan Pihak Nara Satya akan mendapatkan saham dalam toko atau perusahaan alkemis Laura sebesar 10% sebagai ganti dari apa yang diberikan oleh Pihak Nara Satya.
Setelah cukup lama Laura membaca kertas kerja sama dengan saksama.
“Bagaimana? Apakah ada yang ingin kamu ubah atau tambahan?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Tidak ada, semuanya cocok dengan apa yang Anda bilang, Tuan Nara.” Ucap Laura dengan menandatangani kertas kerja sama.
“Baiklah dengan kamu menandatangani kontrak. Kerja sama kita resmi di mulai, alkemis Laura.” Ucap Nara dengan mengeluarkan tangannya.
“Mohon kerja samanya, penguasa South Of Eternal, Tuan Nara.” Ucap Laura dengan tersenyum sambil menjabat tangan Nara.
Kemudian mereka keluar dari ruangan kerja ura. Dari luar ruangan terlihat dua wanita yang terlihat menunggu dengan bosan.
...—–—...
“Kenapa lama sekali?” Ucap Fiona dengan ekspresi jengkel sambil menghampiri Nara.
“Iya, kenapa lama sekali? Dan kenapa dengan mukamu, Laura?” Ucap Marissa dengan ekspresi penasaran sambil menghampiri Nara.
“Hehe, perjanjian kerja sama antara saya dan Tuan Nara telah resmi terbentuk.” Ucap Laura dengan senang.
“Syukurlah kalau begitu. Aku berharap yang terbaik untukmu, Laura.” Ucap Marissa dengan tersenyum sambil mengelus rambut Laura.
“Terima kasih, Nona Marissa.” Ucap Laura dengan tersenyum.
“Laura di mana Mystical Plant Seeds yang aku beli kemarin?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Ini Tuan Nara. Sudah saya simpan dalam cincin dimensi.” Ucap Laura dengan menyerah cincin dimensi.
“Karena semuanya telah selesai. Aku mau berpamitan. Aku akan kembali ke Eternal Center.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Aku juga mau berpamitan kepadamu, Laura.” Ucap Marissa dengan menatap mata Laura.
“Anda juga akan pergi ke Eternal Center, Nona Marissa?” Ucap Laura dengan tidak percaya.
“Iya, karena bagaimanapun aku sudah menjadi milik Nara.” Ucap Marissa dengan tersenyum.
“Tapi siapa yang akan menjadi pemimpin kami, Nona Marissa?” Ucap Laura dengan ekspresi sedih.
“Untuk kepimpinan akan aku serahkan kepada Emilio. Tapi aku yang akan tetap menjadi pemimpin kalian.” Ucap Marissa dengan tersenyum sambil mengelus rambut Laura.
“Aku akan merindukan Anda, Nona Marissa.” Ucap Laura sambil sambil memeluk Marissa.
“Kita akan sering bertemu. Bukankah kamu ada bisnis dengan Nara. Jadi kita akan sering bertemu.” Ucap Marissa dengan membalas pelukan Laura.
Setelah beberapa saat kemudian. Laura melepaskan pelukannya dari Marissa.
“Kalau begitu sampai bertemu lagi, Laura.” Ucap Fiona dengan melambaikan tangannya.
“Sampai jumpa lagi, Laura.” Ucap Marissa dengan tersenyum sambil melambaikan tangannya.
“Semoga penelitianmu lancar tentang Mystical Plant Seeds, Laura.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Baik, sampai bertemu lagi, Tuan dan Nona.” Ucap Laura dengan tersenyum sambil menunduk hormat.
Kemudian Nara, Fiona, dan Marissa pergi meninggalkan toko Laura. Dengan ditandai dengan bunyi.
Kring
...—–—...
Setelah beberapa saat berlalu. Terlihat di depan resepsionis penginapan Star Sea. Nara, Fiona, dan Marissa sedang berbincang dengan Emilio.
“Terima kasih telah menginap di penginapan kami, Tuan dan Nona Satya.” Ucap Emilio dengan tersenyum.
“Pelayanan penginapan Star Sea juga bagus. Aku cukup terkesan dengan pelayanan kalian.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Anda terlalu memuji, Tuan Nara “ Ucap Emilio dengan tersenyum.
“Kalau begitu kami pergi dulu.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil melangkah pergi dengan Fiona.
“Aku pergi dulu, Emilio. Tetap laporan situasinya. Dan jika ada hal serius cepat hubungi aku.” Ucap Marissa dengan ekspresi tenang.
“Terima kasih, Emilio.” Ucap Marissa dengan tersenyum lalu pergi menyusul Nara dan Fiona.
Setelah itu mereka berjalan keluar dari penginapan Star Sea. Saat di luar penginapan, terlihat Nara berhenti.
“Ada apa, Nara?” Ucap Marissa dengan menatap Nara yang berhenti.
“Kita kembali ke Eternal Center dengan apa?” Ucap Nara dengan bingung.
“Bagaimana kalau dengan beast kita? Sekalian menikmati perjalanan.” Ucap Fiona memberi saran.
“Ide bagus, Fiona. Lagi pula, jarak dari kota Densar Coast ke Eternal Center tidak terlalu jauh.” Ucap Marissa setuju dengan saran Fiona.
“Baiklah, tapi kita berjalan dulu ke luar kota. Supaya tidak membuat panik warga kota.” Ucap Nara dengan tak acuh.
Mendengar ucapan Nara. Fiona dan Marissa mengangguk. Lalu mereka keluar dari kota Densar Coast dengan berjalan kaki.
...—–—...
Setelah berjalan cukup lama. Akhirnya mereka sampai di luar gebang kota Densar Coast.
“Kita keluarkan beast dari sini.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Baik, Wendy keluarlah “ Ucap Fiona dengan bersemangat.
Kemudian keluar ular putih dewasa dari bagian bawah Fiona. Ular putih dewasa bergerak menggeliat di tanah.
“Aku juga, Naraya keluarlah.” Ucap Marissa dengan tidak mau kalah.
Lalu keluar paus putih berukuran kecil dari belahan dada Marissa. Paus putih kecil bergerak melayang di udara.
Nara yang dari tadi melihat cara aneh beast wanitanya keluar. Nara hanya melihat dengan wajah bingung.
Tidak bisakah keluar dengan bagian tubuh yang biasa. Keluar dari belahan dada? Keluar dari bagian bawah perut? Apa mereka tidak-. Sudahlah Nara lupakan.
...—–—...
“Sudahlah, Kala keluarlah dengan benar.” Ucap Nara dengan menekankan kata benar.
Setelah itu asap hitam keluar dari bayangan Nara. Asap hitam terbang ke pundak Nara. Dan berubah menjadi gagak hitam.
“Bagus Kala, kamu keluar dengan tidak aneh.” Ucap Nara dengan mengelus bulu hitam Kala.
“Bagaimana kalau kita balapan?” Ucap Fiona dengan ekspresi senang.
“Terdengar seru.” Ucap Marissa dengan tertarik.
“Biar semakin seru, kita bikin yang kalah akan menjadi pelayan yang menang dalam seminggu. Kalau takut tidak perlu ikut.” Ucap Fiona dengan ekspresi senang.
“Baik, aku terima.” Ucap Marissa dengan semangat membara.
“Haha, ayo kita kalahkan ikan itu, Wendy.” Ucap Fiona dengan tersenyum.
“Kita harus kalahkan, cacing itu, Naraya.” Ucap Marissa dengan menatap mata Fiona.
“Kenapa jadi balapan?” Ucap Nara dengan bingung.
“Biar seru saja. Dan kamu juga harus ikut, Nara. Aku ingin merasakan kamu menjadi pelayanku.” Ucap Fiona dengan ekspresi senang.
“Iya, kamu juga harus ikut.” Ucap Marissa dengan ekspresi bersemangat.
“Baiklah, aku akan ikut.” Ucap Nara dengan pasrah.
Kemudian mereka menyiapkan Beastnya masing-masing. Mata persaingan muncul di antara Fiona dan Marissa.
...—–—...
Ular putih Fiona membesar menjadi ukuran raksasa. Dan rantai emas melayang di sekitarnya. Pada punggungnya muncul empat buah sayap yang besar berwarna putih.
Sedangkan paus putih Marissa merubah menjadi membesar mencapai ukuran raksasa. Melayang di udara dengan terlihat air yang mengalir di sekitarnya.
Nara yang terlihat tidak tertarik dengan perlombaan. Mengetukkan kakinya ke tanah. Kemudian terbentuk lingkungan sihir hitam.
“The Dark Giant Sheep”
Dari lingkaran sihir hitam keluar domba dengan bulu rambut berwarna hitam. Dengan sepasang tanduk besar melingkar menghiasi kepalanya.
“Kamu yakin balapan dengan itu.” Ucap Fiona dengan ekspresi tidak percaya yang telah berada di atas tubuh ular putih raksasa.
“Iya, aku yang yakin.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil melompat di atas tubuh domba hitam raksasa.
“Tapi domba hitam itu tidak terlihat meyakinkan.” Ucap Marissa dengan ekspresi tidak yakin yang telah duduk di atas tubuh paus putih raksasa.
“Kita lihat saja nanti. Siapa yang memenangkan perlombaannya.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Sudahlah, mari kita berbaris.” Ucap Fiona sambil mengarahkan Wendy ke barisan.
Marissa dengan paus putih raksasa berbasis di samping ular putih raksasa Fiona. Dan Nara menghampiri mereka lalu berbaris di sebelah mereka.