The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Kamu Pria Aneh



...Kamu Pria Aneh...


Di suatu tempat di dalam gunung Sacred Mountain. Terlihat sebuah desa? Tidak, itu terlihat seperti sebuah kota yang dipenuhi oleh sebuah mesin-mesin yang bergerak sendiri.


Sebuah kota yang di dihuni oleh Ras yang memiliki penampilan berbadan pendak namun kekar dan Ras yang diberkati kemampuan dalam mengolah mana bumi.


...—–—...


Di sebuah bangunan yang terlihat lebih besar dari pada bangunan yang lainnya.


Terlihat seorang wanita yang sedang memperhatikan sebuah buku yang memperlihatkan sebuah kereta hitam yang mendekati gerbang kota.


...—–—...


Beberapa jam lalu, di hutan tidak jauh dari gunung Sacred Mountain. Terlihat sebuah kereta berwarna hitam.


Di dalam kereta tersebut terdapat pria tampan berambut hitam legam yang dari tadi melihat ke arah belati yang berada di tangannya.


Kemudian Nara memasukkan belati tersebut ke dalam cincin dimensi.


“Hmm, apakah ini di buat oleh ras Dwarf?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Kemungkinan seperti itu, Tuan Nara.” Ucap Lidya dengan tenang.


“Apakah kita bisa menemukan desa Dwarf?” Ucap Nara sambil melihat jendela.


“Kalau kita bertemu dengan salah satu dari mereka. Mungkin kita bisa masuk dengan tenang.” Ucap Joy dengan berandai-andai.


“Hmm, Kala coba kamu lihat sekitar hutan ini.” Ucap Nara dengan tak acuh.


Kemudian muncul asap hitam dari bayangan Nara dan keluar dari jendela kereta.


Tidak lama setelah asap hitam tersebut keluar dari kereta.


“Tuan Nara, saya melihat pertarungan antara wild beast dan seorang pria berbadan pendek.” Ucap Kala dari pikiran Nara.


“Bagus, tetap awasi situasinya.” Ucap Nara dengan tersenyum.


“Ada apa, Tuan Nara?” Ucap Tiara yang melihat Nara tersenyum.


“Kala mendapatkan petunjuk. Javier pergi ke arah timur laut.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Baik, Tuan Nara.” Ucap Javier sambil mengarahkan kereta menuju timur laut.


Kemudian kereta bergerak dengan cepat ke arah timur laut.


...—–—...


Di bagian hutan timur laut. Terlihat seorang pria berbadan pendek yang sedang melawan wild beast babi hutan merah.


Pria tersebut melawan babi hutan merah tersebut dengan pisau pendek.


Babi hutan merah yang sudah dalam mode marah menyerang pria tersebut dengan membabi-buta.


Pria tersebut yang melihat babi hutan merah yang berniat menerjang dengan tanduknya langsung memasang posisi bertahan.


Tidak kuat menahan serangan babi hutan tersebut. Pria berbadan pendek terhempas ke belakang.


Kemudian babi hutan merah tersebut bergerak dengan cepat menerjang kembali ke arah pria tersebut.


Tapi bukannya merasa takut akan nyawanya yang terancam. Pria tersebut tersenyum dan berkata.


“Kena kau dasar babi!” Ucap pria berbadan pendek tersebut.


Lalu saat babi hutan merah hampir mengenai pria berbadan pendek tersebut.


Tiba-tiba tanah yang berada di atas babi hutan merah runtuh.


Dan tepat di bawahnya terdapat tombak-tombak tanah yang mengarah langsung ke atas.


Sehingga membuat babi hutan merah langsung meninggalkan dunia seketika.


“Hahaha, kerja bagus Phers.” Ucap pria berbadan kecil.


Kemudian keluar dari tanah seekor tikus berukuran besar dan menghampiri pria yang terduduk di bawah pohon rindang.


...—–—...


Tidak lama kemudian terlihat kereta hitam yang berhenti tepat di depan pria yang terduduk di tanah.


Kemudian pintu kereta terbuka dan memperlihatkan seorang pria tampan bermata merah gelap.


Pria tampan tersebut dengan raut muka tak acuh menghampiri pria berbadan pendek yang terduduk.


“Aku pikir aku akan menjadi pahlawan yang menyelamatkan orang di saat terakhir.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil melihat lubang di tanah.


“Anda tidak terlalu cocok untuk menjadi pahlawan, Tuan Nara.” Ucap Javier dengan tersenyum.


“Kenapa? Aku adalah pria tampan yang baik hati dan rendah diri.” Ucap Nara dengan narsis.


Javier hanya bisa mengangguk dan tersenyum.


...—–—...


“Siapa kamu?” Ucap pria tersebut dengan raut muka bingung.


Kemudian Nara mengeluarkan koin emas lalu melemparkannya ke arah pria tersebut.


Pria tersebut menangkap koin emas yang dilemparkan Nara.


“Aku terhibur dengan pertempuranmu.” Ucap Nara dengan menatap pria tersebut.


Pria tersebut dengan muka bingung lalu diam sejenak.


Kemudian pria tersebut menatap Nara dengan raut muka malas.


“Jadi kamu pria aneh yang memberikan koin emas padaku dulu.” Ucap pria tersebut dengan menatap Nara dengan tatapan aneh.


“Apakah aku aneh?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Lupakan, jadi ada apa kamu menemuiku?” Ucap pria tersebut dengan menatap Nara.


“Kamu berasal dari desa Dwarf?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Benar, jadi apa yang kamu mau?” Ucap pria tersebut dengan menatap Nara


“Bisa kamu tunjukkan jalan menuju desa Dwarf.” Ucap Nara dengan serius.


“Kenapa aku harus membantumu?” Ucap pria tersebut dengan menatap Nara.


“Karena hidupmu.” Ucap Nara dengan tersenyum.


“Apa maksudm-” Ucap pria tersebut terpotong dengan bilah sabit hitam yang berada di lehernya.


“Tenang saja aku tidak bermaksud buruk dengan desamu.” Ucap Nara dengan tersenyum.


Haa, baiklah aku akan mengantar kalian. Ucap Pria tersebut dengan pasrah.


Kemudian Nara menarik kembali sabit ke dalam cincin dimensi.


“Hem, pilihan yang bagus.” Ucap Nara dengan tersenyum.


Setelah itu Nara mengulurkan tangannya kepada pria tersebut untuk membantunya berdiri.


Dan pria berbadan pendek tersebut menyambut tangan Nara.


“Jadi siapa namamu?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Namaku Hugo Terra dan kamu siapa?” Ucap Hugo dengan penasaran.


“Aku Nara Satya. Ayo cepat antarkan.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil berjalan menuju kereta.


Hugo yang mendengar nama pria di depannya menjadi terdiam dengan pandangan terkejut.


“Kenapa diam saja. Cepat tunjukkan jalannya.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Baik, Tuan Nara.” Ucap Hugo dengan tiba-tiba sopan.


Kemudian Hugo langsung menghampiri Nara yang telah berdiri di depan pintu kereta.


“Kamu duduk di depan dengan Javier.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil masuk ke dalam kereta.


“Baik, Tuan Nara.” Ucap Hugo dengan sopan


“Phers, ayo kita pulang.” Ucap Hugo sambil duduk di depan bersama dengan Javier.


Tidak lama kemudian beberapa butiran tanah menuju ke pergelangan tangan kanan Hugo.


Butiran tanah membentuk sebuah gelang tanah.


Kemudian Hugo berkenalan dengan Javier dan mulai mengarahkan jalan menuju desa Dwarf.


...—–—...


Beberapa jam kemudian, di depan gerbang kota terlihat sebuah kereta berwarna hitam yang berhenti.


Di depan gerbang tersebut terlihat beberapa prajurit yang berjaga.


“Berhenti dulu!” Ucap salah seorang prajurit yang berjaga.


“Biarkan mereka masuk.” Ucap Hugo dengan tenang.


“Apakah mereka tamu, Hugo?” Ucap salah seorang prajurit yang berjaga.


“Benar mereka adalah tamuku.” Ucap Hugo dengan tenang.


“Begitu, kalau begitu biarkan mereka masuk.” Ucap salah seorang prajurit yeng berjaga.


Kemudian gerbang kota Dwarf terbuka dan memperlihatkan penampilan kota Dwarf.