
...Sebenarnya Siapa Kamu?...
Beberapa saat telah berlalu.
Di sebuah ruangan yang hanya berisi oleh dua orang yang memiliki aura kepemimpinan yang kuat sedang saling menatap.
Ruangan di penuhi kesunyian selama beberapa saat dan perasaan canggung dari seorang pemimpin wanita yang duduk dengan tenang.
“Jadi, apa maksudnya tadi, Nyonya Agnes?” Ucap pria bermata merah gelap sambil meminum Wedang Uwuh.
Tersadar dari lamunannya Agnes segera melihat ke arah Nara dan menetap wajah tampan pria yang berada di depannya itu.
“Jadi kami sebenarnya akan menghadapi bencana yang disebut The Wrath of the Red Moon.” Ucap Agnes dengan jujur.
“The Wrath of the Red Moon?” Ucap Nara dengan bingung.
“Benar, itu adalah bencana di mana Wild Beast akan mengamuk ketika melihat cahaya bulan merah.” Ucap Agnes dengan tenang.
“Apa hal itu terjadi pada waktu tertentu?” Ucap Nara dengan santai.
“Hal ini bertepatan pada bulan purnama setiap 100 tahun sekali.” Ucap Agnes dengan tenang.
“Begitu.” Ucap Nara sambil menutup matanya.
“Jadi, apa yang Anda inginkan?” Ucap Nara dengan terus terang sambil membuka matanya.
Agnes tersenyum dengan sikap terus terang Nara dalam menanggapi masalah.
“Saya ingin Anda menemukan sumber bencana The Wrath of the Red Moon.” Ucap Agnes dengan menatap mata Nara.
“Bukankah masalahnya ada di cahaya bulan merah?” Ucap Nara dengan bingung.
“Tidak, cahaya bulan merah hanya sebagai perantara kekuatan saja.” Ucap Agnes dengan yakin.
“Saya pernah melihat di dalam buku ramalan.” Ucap Agnes dengan yakin.
“Ada kelompok aliran sesat yang menggunakan kekuatan bawah untuk membuat kekacauan.” Ucap Agens dengan khawatir.
“Jadi, apa yang Anda tawarkan sebagai gantinya, Rekan Bisnis?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Saya menawarkan kesetiaan para Dwarf kepada Anda.” Ucap Agnes dengan sungguh-sungguh.
Nara tersenyum kemudian mengulurkan tangannya kepada Agnes.
“Saya terima proposal bisnis Anda, Nyonya Agnes.” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Mohon bantuannya, Tuan Nara.” Ucap Agnes sambil menjabat tangan Nara.
Sejak saat itu terjalin hubungan yang erat antara penguasa South Of Eternal dengan wanita dari Dwarf.
...—–—...
Kemudian setelah sehari telah terlewati. Terlihat Nara yang sedang berjalan santai di kota Dwarf.
Tepat di belakangnya terlihat beberapa orang yang mengikuti Nara dengan mata berbinar.
“Wow! Di sini terdapat banyak hal yang aneh.” Ucap Joy dengan memperhatikan sekitar.
Memang pemandangan yang menarik jika berbicara tentang teknologi Dwarf. Ucap Lidya dengan tenang.
“Apa kita akan membeli beberapa teknologi Dwarf?” Ucap Javier dengan penasaran.
“Kita memang akan membeli teknologi Dwarf.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Tapi bukan beberapa teknologi mereka tapi semua teknologi Dwarf akan di transfer ke South Of Eternal.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil tetap berjalan.
Sementara rombongan Nara yang mendengar omongannya menjadi bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi di masa depan jika hal itu terjadi.
“Anda memang hebat, Tuan Nara.” Ucap Tiara dengan tersenyum.
“Anda memang mengerikan, Tuan Nara.” Ucap Javier dengan takut.
“Seperti yang diharapkan dari seorang penguasa South Of Eternal.” Ucap Lidya dengan tenang.
“Tuan Nara memang hebat.” Ucap Joy dengan senang.
...—–—...
Kemudian Nara melihat ke sekelilingnya. Terlihat kota yang begitu unik dan berbeda dari kota-kota lainnya di South Of Eternal.
Sebuah kota yang dipenuhi oleh teknologi Dwarf yang begitu maju.
Banyak warga kota yang memakai teknologi Dwarf seperti barang bisa. Dan banyak toko-toko dan bangunan yang terlihat unik.
Sebuah bangunan yang memiliki plat nama “Raging Iron” di depan bangunan tersebut.
Nara yang tertarik berjalan mendekati bangunan tersebut.
“Kring”
Terdengar bunyi bel yang menandakan pintu terbuka.
Di pintu terlihat seorang pria tampan berambut hitam legam dengan mata merah gelap memandang ke dalam toko Raging Iron.
Terlihat di dalam seperti kebanyakan toko pandai besi lainnya. Dan ada satu hal yang menarik perhatian.
Yaitu setiap senjata yang dibuat di toko Raging Iron terlihat memancarkan aura yang berbeda-beda tiap senjatanya seperti memiliki jiwa di dalamnya.
Kemudian terdengar suara yang menyambut pria tampan dan rombongannya tersebut dengan ramah.
“Selamat datang di Raging Iron, Tuan Nara Satya.” Ucap seorang wanita berambut coklat kemerahan.
“Kamu tahu namaku?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Tentu saja, Anda adalah penguasa kota Dwarf sekarang.” Ucap wanita berambut coklat kemerahan.
“Begitu.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Jadi, apa yang membawa Anda ke toko kecil saya?” Ucap wanita tersebut dengan ramah.
“Aku sedang mencari senjata.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Kalau begitu Anda datang di tempat yang tepat.” Ucap wanita tersebut dengan senang.
“Apa yang kamu miliki, Nona?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Anda bisa memanggilku Grace Bile. Anda bisa melihat terlebih dahulu.” Ucap Grace dengan tersenyum.
“Baiklah, kalian juga lihat-lihatlah. Bila ada yang cocok aku akan membelikannya.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Baik, Tuan Nara.” Ucap rombongan Nara dengan bersemangat.
Terutama Joy, hanya dirinya yang tidak memiliki senjata yang cocok untuknya.
“Anda Tuan yang baik, Tuan Nara.” Ucap Grace dengan tersenyum.
“Dia wanita yang aneh.” Ucap Nara dalam pikirannya.
Nara tidak menghiraukan dan mulai melihat-lihat senjata yang ada di toko Raging Iron milik Grace Bile seorang wanita yang menurut Nara dia wanita yang aneh.
...—–—...
Saat Nara melihat-lihat, sebuah belati yang seharusnya berada di dalam cincin dimensi Nara.
Tiba-tiba keluar dan terbang ke arah salah satu etalase yang berisi sarung pedang yang berukuran pendek.
“Pyaar”
Belati tersebut terus terbang hingga memecahkan etalase kaca tersebut.
Dan belati tersebut melayang di atas sarung pedang tersebut dan kemudian masuk ke dalamnya.
Setelah itu belati yang telah masuk ke dalam sarung pedang diam seperti belati bisa tanpa ada yang terjadi.
...—–—...
Kemudian setelah beberapa saat, muncullah Grace menghampiri Nara yang terlihat tak acuh sambil melihat belati yang tiba-tiba menjadi tenang.
“Akhirnya dia kembali, Keris Avarus.” Ucap Grace dengan tenang.
“Kamu tahu tentang belati itu?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Tentu saja, saya yang membuat belati tersebut.” Ucap Grace dengan santai.
“Kamu yang membuat belati tersebut?” Ucap Nara dengan penasaran.
“Benar.” Ucap Grace dengan santai.
“Sebenarnya siapa kamu?” Ucap Nara dengan serius sambil menatap Grace.
“Saya adalah seorang Dwarf.” Ucap Grace dengan santai.
Mendengar ucapan Grace, Nara diam dan menatap tajam ke arahnya.
“He-he.” Ucap Grace dengan canggung.