The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Kota Densar Coast



...Kota Densar Coast...


Saat sang matahari tersenyum cerah. Hingga senyumannya menyengat kulit. Terlihat sebuah kereta kuda? Itu tidak seperti kereta yang ditarik oleh kuda.


Kereta itu seperti ditarik oleh dua ekor macan kumbang yang berukuran besar dengan tubuh terbuat dari kegelapan gelap.


Seorang wanita cantik berambut hijau pendek yang mengenakan armor ringan sambil memegang tali berwarna hitam yang terhubung dengan dua ekor macan kumbang yang menarik kereta dengan kecepatan tinggi.


...—–—...


Di dalam kereta.


Seorang pria tampan berambut hitam legam sedang menikmati keripik buah.


Dengan sesekali pria tampan itu menyuapi wanita cantik berambut pirang keputihan yang kepalanya berada di pundak pria tampan itu.


“Kita akan kemana sih?” Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan dengan muka jengkel.


“Kita akan pergi ke suatu tempat yang cocok untuk berlibur di cuaca yang panas ini.” Ucap pria tampan berambut hitam legam dengan menyuapi wanita cantik yang mengerutkan keningnya.


“Awas kalau tidak bagus. Kamu tidak boleh menyentuhku selama sebulan.” Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan dengan mengambil topes keripik buah dari tangan pria tampan berambut hitam legam tersebut.


“Heh, jika tempatnya bagus kamu harus melayaniku sebulan penuh tanpa istirahat dan kamu harus membantuku mengurus wilayah.” Ucap pria tampan berambut hitam legam dengan tersenyum sambil menjilat remah-remah keripik buah yang berada di sudut mulut wanita cantik tersebut.


“Bagaimana Fiona?” Ucap pria tampan berambut hitam legam dengan tersenyum.


“Terserah!” Ucap Fiona yang tidak peduli dengan sikap pria tampan itu yang aneh.


Sementara sepasang kekasih itu bermesraan. Mereka tidak memperhatikan bahwa ada dua wanita yang wajah mereka merah dan mengeluarkan asap ketika melihat kemesraan yang ada di depan mata mereka.


Dunia serasa milik berdua, seperti pepatah itu benar.


...—–—...


Tidak berselang lama setelah itu. Terdengar suara dari luar kereta.


“Tuan Nara, kita sudah memasuki kota Densar Coast.” Ucap wanita cantik berambut hijau pendek dari luar kereta.


Setelah mendengar itu Nara membuka tirai jendela kereta dan terlihatlah suasana kota Densar Coast.


Dari balik tirai jendela terlihat kota Densar Coast yang banyak orang-orang lalu-lalang membawa ikan-ikan dalam jaring. Banyak toko-toko yang menjual hasil penangkapan di laut.


Bangunan kota Densar Coast banyak yang menggunakan bahan kayu sebagai bahan untuk dan hiasan. Dan sepanjang jalan, rata-rata warga kota Densar Coast adalah rakyat biasa dan saudagar jarang terlihat seorang bangsawan.


Kemudian kereta Nara berhenti di depan penginapan yang bernama Star Sea yang terlihat cukup indah dengan perpaduan bangunan Eropa dengan ukiran kayu.


Saat Nara, Fiona, dan yang lain turun dari kereta langsung tercium aroma laut yang sangat khas dengan daerah pesisir.


Saat Nara, Fiona, dan para pelayannya memasuki penginapan langsung disambut oleh beberapa pelayan dan seorang pria berambut hitam pendek.


“Selamat datang di penginapan Star Sea, Tuan Nara dan Nona Fiona.” Ucap pria berambut hitam pendek.


Setelah mengatakan itu para pelayan langsung menghampiri Nara dan Fiona sambil mengalungkan untaian bunga dengan sopan.


Setelah mengalungkan untaian bunga kepada Nara dan Fiona para pelayan kemudian mengalungkan juga kepada Tiara, Lisa, dan Vania.


“Bagaimana kau tahu hmm?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Siapa yang tidak tahu sosok hebat seperti Anda di wilayah South Of Eternal.” Ucap pria berambut hitam pendek dengan tersenyum.


“Hmm, pelayanan yang cukup bagus.” Ucap Nara sambil memegang untaian bunga.


“Terima kasih, Tuan Nara. Itu pelayan standar di sini.” Ucap pria berambut hitam pendek.


“Pelayanan standar? Sampai seorang kepala cabang Grup Star menyambut?” Ucap Nara dengan tak acuh.


Pria berambut hitam pendek sedikit terkejut lalu kembali tersenyum.


“Seperti yang diharapkan dari seorang penguasa South Of Eternal. Saya merasa tersanjung Anda mengenal saya. Perkenalkan nama saya Emilio Smith.” Ucap pria berambut hitam pendek memperkenalkan diri.


“Mari silakan ikuti saya.” Ucap Emilio membungkuk hormat lalu memandu Nara, Fiona, dan yang lain.


...—–—...


Kemudian mereka sampai di meja resepsionis.


“Jadi Anda ingin memesan kamar berapa, Tuan Nara?” Ucap Emilio sambil memegang pena.


“Satu kamar yang besar dan 3 kamar yang standar.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Baik, kebutuhan ada satu kamar besar yang langsung menghadap ke arah laut dan 3 kamar standar di sampingnya.” Ucap Emilio sambil merekomendasikan kamar.


“Bagus, lalu pesan selama satu minggu.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Baik, lalu ini kunci kamarnya.” Ucap Emilio sambil menyerahkan kepada Nara.


Nara menerima dan membagikannya kepada Tiara, Lisa, dan Vania.


“Jadi berapa totalnya?” Ucap Nara dengan santai.


“Totalnya menjadi 12.000 koin emas hitam. Termasuk makan tiga kali dengan suasana luar ruangan.” Ucap Emilio memberikan harga.


Nara lalu mengeluarkan kantong berisi koin emas hitam dari cincin dimensi dan memberikannya kepada Emilio.


Setelah itu Emilio menerima dan melihat isinya lalu tersenyum.


“Selamat menikmati liburan dan semoga suka dengan pelayanan kami.” Ucap Emilio sambil membungkuk hormat.


Setelah itu seorang pelayan menghampiri Nara.


“Silakan ikuti saya, Tuan dan Nona.” Ucap pelayan tersebut dengan sopan.


Nara, Fiona, dan para pelayan pribadinya. Pergi mengikuti pelayan yang memandu mereka.


Lalu pelayan itu memandu Nara menuju ke lantai tiga dan menunjuk kamar mereka masing-masing. Dan pergi setelah Nara dan lainnya sampai di kamar mereka.


...—–—...


Di kamar Nara.


Terlihat seorang wanita cantik berambut pirang keputihan sedang duduk sambil menghadap ke luar jendela.


Dari luar jendela memperlihatkan pantai yang indah dengan pasir putih yang berkilau. Dan laut biru yang memancarkan keindahan alam.


“Bagaimana baguskan?” Ucap seorang pria tampan berambut hitam legam sambil duduk di sebelah wanita cantik tersebut.


“Iya, ini bagus.” Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan tersenyum manis.


“Haa, melihatmu tersenyum membuatku ingin memakanmu, Fiona.” Ucap pria tampan berambut hitam legam sambil meminum jus naga merah.


“Hehe, aku memang cantik dan seksi.” Ucap Fiona sambil memainkan bibirnya dengan jari.


Nara yang melihat tingkah Fiona langsung tidak tahan lalu menaruh gelas jus naga yang telah kosong. Nara menghampiri Fiona lalu membopongnya ke kasur.


“Kamu terlalu nakal, Fiona.” Ucap Nara dengan menindih tubuh Fiona.


“Nakal pada tunanganku sendiri masak tidak boleh.” Ucap Fiona sambil mencium bibir Nara.


Cup


“Iya, kamu memang tidak salah.” Ucap Nara dengan membalas ******* bibir Fiona.


Setelah aksi saling serang bibir. Suasana menjadi semakin memanas di salam kamar sepasang kekasih itu.


Dan terus berlanjut hingga sang bulan menampakkan dirinya di langit yang cerah dengan di temani ribuan bintang.