
...Pelayan Magang...
Setelah menghabisi seluruh beast hitam yang menukik tajam ke arah mereka. Fiona dan Marissa melanjutkan perlombaan mereka.
Tapi dengan tujuan yang sama. Yaitu membuat Nara dan burung jelek menjadi pelayan mereka. Hal itu terlihat jelas pada raut wajah mereka yang tersenyum.
Kemudian mereka bergerak dengan cepat secara bersama-sama menuju ke kota Eternal Center.
...—–—
...
Seorang pria yang terlihat tertidur pulas di atas bulu rambut domba hitam raksasa. Langsung terbangun dengan raut muka tidak enak.
“Teman kecil, sepertinya kita harus serius.” Ucap pria berambut hitam legam dengan ekspresi tidak enak di mukanya.
Domba hitam raksasa mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu bulu rambut yang lebat dan lembut rontok secara perlahan.
Bulu rambut yang rontok berganti menjadi bulu rambut yang pendek dan tajam. Dengan mulut domba hitam raksasa mengeluarkan taring tajam.
Kemudian berancang-ancang untuk melesat. Dengan pandangan domba hitam raksasa ke depan. Lalu melekat dengan kecepatan tinggi.
...—–—
...
Di atas langit terlihat paus putih raksasa dan ular putih raksasa terbang dengan cepat ke arah gerbang wilayah Eternal Center.
“Sepertinya tujuan kita akan tercapai dengan mudah, Fiona.” Ucap wanita yang menaiki paus putih raksasa dengan raut wajah senang.
“Aku tidak berpikir demikian, kak Marissa.” Ucap wanita yang menaiki ular putih raksasa dengan tidak yakin.
“Kenapa kamu tidak yakin? Bahkan Nara belum terlihat.” Ucap Marissa sambil melihat ke bawah dengan hamparan hutan yang tenang.
“Coba kak Marissa lihat kesan.” Ucap Fiona sambil menunjuk ke arah asap hitam yang bergerak cepat di hutan.
“Bagaimana bisa? Bukankah Nara menaiki seekor domba? Ayo kita cepat ke kota Eternal Center. Sebelum Nara mencapainya.” Ucap Marissa dengan ekspresi jengkel.
Kemudian ular putih raksasa dan paus putih raksasa bergerak dengan kecepatan tinggi. Dengan asap hitam yang bergerak cepat membayangi mereka.
Dan jarak mereka dari gerbang wilayah Eternal Center semakin dekat. Tapi yang berhasil memasuki gerbang kota Eternal Center lebih dulu adalah paus putih raksasa.
“Haha, aku menang Nara.” Ucap Marissa dengan tersenyum sambil turun dari paus putih raksasa.
“Terus? Apa yang kamu inginkan?” Ucap Nara dengan tak acuh sambil turun dari domba hitam raksasa.
“Kami ingin kamu menjadi pelayan kami dan burung jelek yang berada di belakangmu itu juga menjadi pelayan kami.” Ucap Marissa dengan tersenyum sambil menunjuk Nara.
“Tunggu, kami? Sejak kapan perlombaan ini menjadi ajang untuk membuatku menjadi pelayan.” Ucap Nara dengan tak percaya.
“Tentu saja sejak kamu dan burung jelekmu membuat rencana untuk menghambat kami.” Ucap Fiona dengan ekspresi jengkel.
“Haa, baiklah kita lakukan itu di Mansion.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Nona.” Ucap Marissa dengan tersenyum.
“Apa?” Ucap Nara dengan bingung.
“Nona.” Ucap Fiona dengan tersenyum.
Nara yang menyadari maksud dari kedua wanita itu.
“Baiklah, nanti kita lakukan itu di Mansion, Nona Marissa dan Nona Fiona.” Ucap Nara dengan menatap tajam ke arah Fiona dan Marissa.
“Hehehe, bagus untuk pelayan magang.” Ucap Fiona dengan tersenyum.
“Baiklah ayo kita pergi ke Mansion.” Ucap Marissa sambil menaiki paus putih raksasa.
“Bagaimana kalau kita menaiki domba hitam raksasa saja, Nona Marissa dan Nona Fiona?” Ucap Nara dengan terpaksa.
“Kenapa memangnya, pelayan magang?” Ucap Fiona dengan tersenyum.
“Supaya warga kota Eternal Center tidak panik melihat beast Anda, Nona Fiona.” Ucap Nara dengan menatap tajam ke arah Fiona.
“Ide yang bagus, pelayan magang. Pikiranmu seperti penguasa wilayah saja.” Ucap Marissa dengan tersenyum manis.
Nara yang mendengar ucapan Marissa hanya bisa tersenyum. Setelah itu Fiona dan Marissa menyuruh Wendy dan Naraya untuk kembali.
“Baiklah ayo kita pergi, pelayan magang.” Ucap Fiona sambil menaiki domba hitam raksasa.
Setelah itu mereka mulai berjalan menuju pusat kota Eternal Center. Prajurit yang berjaga di gebang kota Eternal Center hanya diam dan memberi hormat ketika melihat Nara.
...—–—
...
Tidak lama setelah domba hitam raksasa berjalan. Tibalah mereka di pusat kota Eternal Center. Marissa yang baru pertama kali datang ke Eternal Center mata tidak bisa diam menatapi seisi kota.
Di kota Eternal Center terdapat banyak bangunan mewah dan mahal. Dengan terlihat banyak bangsawan, saudagar, dan warga biasa yang berjalan di trotoar jalan.
Saat mereka melihat domba hitam raksasa yang melintas. Mereka langsung menunduk hormat lalu melanjutkan kegiatannya.
“Kamu seperti yang dirumorkan kamu memang di hormati, pelayan magang.” Ucap Marissa dengan melihat orang-orang yang membungkuk hormat.
Nara hanya diam dan memperhatikan orang-orang yang membungkuk hormat kepadanya.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke ujung jalan kota Eternal Center. Terlihat sebuah Mansion yang terlihat elegan.
...—–—...
Di halaman Mansion Nara. Terdapat beberapa orang yang sedang menunggu. Mereka menantikan kehadiran seorang.
“Selamat datang, Tuan Nara, Nona Fiona.” Ucap mereka secara bersamaan.
Kemudian Nara, Fiona, dan Marissa turun dari domba hitam raksasa. Dan terlihat domba hitam raksasa menghilang menjadi asap hitam.
“Terima kasih atas sambutannya.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil melangkah ke dalam Mansion.
...—–—...
Di dalam Mansion. Nara langsung menuju ruang kerjanya. Kemudian duduk di kursi kerja.
Di dalam ruang kerja Nara. Terlihat tiga orang menghadap Nara dengan raut muka tegang.
“Maaf merepotkan kalian dengan urusan wilayah.” Ucap Nara dengan menatap mata mereka.
“Sudah tugas kami, Tuan Nara.” Ucap mereka secara bersamaan.
“Laporkan apa saja yang terjadi saat aku pergi.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil membaca dokumen-dokumen.
“Kalau begitu saya duluan, Tuan Nara.” Ucap wanita berambut hitam panjang.
“Silakan Tiara.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil tetap fokus membaca dokumen.
“Untuk perkembangan prajurit militer pengintaian. Berkembang sesuai dengan keinginan Anda, Tuan Nara.” Ucap Tiara sambil menyerahkan dokumen.
Nara menerimanya dan melihat sekilas. Kemudian tersenyum melihat perkembangan militer pengintaian.
“Perkembangan yang bagus, Tiara.” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Terima kasih, Tuan Nara.” Ucap Tiara dengan membungkuk hormat.
“Saya juga ingin melapor, Tuan Nara ” Ucap wanita berambut hijau muda dengan telinga runcing yang menarik perhatian.
“Silakan Lisa.” Ucap Nara dengan melanjutkan memeriksa dokumen.
“Untuk keuangan wilayah South Of Eternal meningkat sebesar 20%. Itu didukung dengan peningkatan kualitas petani.” Ucap Lisa dengan gugup sambil membaca dokumen.
“Laporan yang bagus, Lisa.” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Terima kasih, Tuan Nara.” Ucap Lisa dengan membungkuk hormat.
“Lalu bagaimana dengan perkembangan militer pertahanan dan penyerangan, Diego dan Viona?” Ucap Nara dengan menatap dua orang yang belum melapor.
“Untuk perkembangan militer penyerangan cukup bagus, Tuan Nara. Banyak anggota baru yang baru bergabung.” Ucap Diego yang memakai armor hitam
“Untuk perkembangan militer pertahanan tidak kalah bagus, Tuan Nara. Kami sudah banyak melatih dan mengembangkan sihir dan strategi pertahanan.” Ucap Viona yang memakai pakaian militer ringan.
“Laporan yang memuaskan semuanya.” Ucap Nara dengan senang.
“Terima kasih, Tuan Nara.” Ucap mereka secara bersamaan.
“Kalian bisa langsung pekerjaan kalian. Kecuali Lisa aku ingin mendiskusikan tentang produk baru.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Sesuai perintah, Tuan Nara.” Ucap mereka kemudian keluar dari ruang kerja Nara.
Dengan hanya tersisa Lisa yang terlihat gugup.