The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Dimulainya Akademi pelatihan



...Dimulainya Akademi pelatihan...


Tidak berselang lama, setelah pertunjukan penjinakan buaya yang dilakukan Nina dan Darius.


Terdengar suara dari dalam halaman kastel.


“Perhatian! Untuk para peserta akademi silakan berkumpul di halaman kastel!” suara yang terdengar berasal dari halaman kastel.


Para peserta yang mendengar suara tersebut langsung pergi menuju halaman kastel begitu pula Nara dan teman-temannya. Sementara itu para pelayan yang mengantarkan para peserta mulai pergi pulang.


Di halaman kastel.


Terlihat para peserta yang tadinya berada di luar. Terlihat mulai berkumpul di halaman.


Di halaman terdapat seorang pria berbadan besar memakai penutup mata pada mata kirinya. Hal itu menambahkan kesan kengerian. Tidak hanya itu tubuh pria tersebut juga terdapat beberapa luka cakaran.


Para peserta yang melihat penampilan pria tersebut tidak bisa menahan diri untuk bergosip.


“Diam!” suara tersebut langsung membungkam suara para peserta.


“Dengarkan aku! Kalian sudah tahu untuk apa kalian disini?” Ucap pria tersebut.


“Sudah, Sir.” Ucap para peserta secara serempak, terus saja tidak dengan Nara dia terlalu malas untuk berteriak.


“Bagus! Bagi yang belum tahu. Kalian disini akan mendapatkan pelatihan dasar bertarung, mau Itu pertarungan jarak dekat atau jauh. Dan disini kalian akan di bimbing atau diajarkan tentang apa itu Job/Class.


Dan beberapa teknik dan cara memaksimalkan potensi beast kalian dan cara meningkatkan beast kalian.”


“Sebelum aku menjelaskan tata tertib di akademi pelatihan ini. Aku akan memperkenalkan diri. Namaku Tronson Knit. Kalian bisa memanggilku Sir Tron.” Ucap Sir Tron.


“Baiklah aku akan menjelaskan tata tertib disini. Pertama kalian akan menginap di dalam kastel mulai sekarang sampai satu bulan ke depan.


Kedua kalian dilarang merendahkan para peserta yang lainnya, jika hal tersebut terlihat kalian akan menerima hukuman.


Ketiga kalian akan menjalani pelatihan ini mulai dari pagi hari sekitar jam 8 sampai menjelang sore sekitar jam 15.


Keempat pada akhir pelatihan ini kalian akan menjalani beberapa tes, tes ini bertujuan untuk merekrut kalian menjadi kesatria. Tes ini bersifat hanya formalitas dan untuk mencari bibit kesatria dari kalian.


Bagi nanti tidak memenuhi syarat tes kalian tidak akan mendapatkan sebuah surat rekomendasi yang berguna jika kalian ingin menjadi kesatria kerajaan Majapahit.” Ucap Sir Tron.


Di barisan peserta.


“Hoam, kenapa lama sekali.” Ucap Nara yang dari tadi menguap.


“Bersabarlah Nara, baru beberapa menit kau berbaris.” Ucap Ryan memperhatikan Nara.


“...” Nara hanya diam saja.


“Kenapa manusia beruang itu, lama sekali. Apa dia tidak tahu energi yang aku keluar untuk berbaris sanggatlah banyak.” Ucap Nara dalam hati.


Di tengah halaman kastel.


“Baik, sekian beberapa tata tertib yang ada di akademi pelatihan ini. Kalian bisa masuk ke dalam kastel nanti petugas akan menunjukkan kamar kalian masing-masing.” Ucap Sir Tron.


Setelah mendengar itu para peserta langsung menuju kastel.


Di dalam kastel.


“Baik, semuanya dengarkan aku. Aku adalah petugas yang akan bertanggungjawab atas semua yang terjadi di dalam kastel. Kalian bisa memanggilku Sir Adin.


Para peserta laki-laki kalian bisa mengikuti pelayan pria itu, untuk mengantarkan kalian ke kamar.


Sementara peserta perempuan kalian bisa mengikuti pelayan wanita ini, untuk mengantarkan kalian ke kamar.” Ucap Sir Adin dengan menunjukkan pelayan pria sebelah kiri dan pelayan wanita sebelah kanan.


Setelah itu para peserta segera pergi mengikuti pelayan yang ditugaskan untuk mengantarkan mereka.


Matahari terlihat sudah mulai mengantuk, menandakan bahwa sudah waktunya Bulan untuk terjaga.


“Kriiiiinggggg” bunyi semacam bel.


Aula makan.


“Hai, Nara. Bagaimana kamarmu?” Ucap Darius memanggil Nara.


“Biasa saja.” Ucap Nara acuh.


“Lebih nyaman tidur di Padang rumput yang luas dengan bantal domba air.” Lanjut Nara sambil membayangkan tidur di Padang rumput.


“Kau ini, jika membicarakan tentang tidur kau langsung bersemangat.” Ucap Darius merasa aneh dengan sikap sahabatnya yang terobsesi dengan tidur nikmat.


“Hai kalian, disini!” Ucap Ryan memanggil Nara dan Darius dari salah satu meja.


Nara dan Darius langsung menghampiri Ryan. Di meja juga terlihat Ellisa dan Nina. Dan mereka mulai makan bersama.


Tidak terasa akademi pelatihan sudah terlewat satu minggu. Dalam satu minggu terakhir para peserta di latihan penguatan tubuh dan dasar latihan senjata.


Di arena latihan.


“Pelatihan kali ini adalah untuk mengetahui kecocokan Job/Class kalian.” Ucap Sir Tron.


“Untuk mengetahui kecocokan Job/Class kalian, itu bisa dilakukan dengan melalui Crystal Ball. Crystal Ball tersebut sudah dibawa oleh penyihir kerajaan.” Ucap Sir Tron sambil menunjuk penyihir yang ada d sebelahnya.


“Baiklah, kalian bisa maju satu-persatu mulai dari barisan depan kanan.” Ucap Sir Tron.


Peserta barisan depan kanan mulai maju satu-persatu. Peserta pertama yang maju adalah remaja pria, bernama Ryan Lewis.


Di depan barisan peserta.


“Putra mahkota Ryan Lewis.” Ucap penyihir kerajaan membungkuk hormat.


“Bangunlah.” Ucap Ryan Lewis.


“Baik, Tuan muda Ryan Lewis silakan untuk meletakkan tangan Anda di atas Crystal Ball dan mulai mengalir mana ke dalam Crystal Ball.” Ucap penyihir kerajaan sambil memberikan arahan kepada Ryan Lewis.


Ryan Lewis mulai mengikuti arahan yang dijelaskan penyihir kerajaan. Saat tangan Ryan Lewis berada di atas Crystal Ball dan mulai mengalir mana. Crystal Ball tersebut bercahaya dan mengeluarkan cahaya bertuliskan “Ice templer”.


Class Ice Templer merupakan Kesatria Agung yang memiliki pertahanan, memiliki kecepatan kekuatan yang melebihi Class knight dan menyerang menggunakan kekuatan Ice.


“Selamat Tuan muda Ryan Lewis, Anda mendapatkan Class Ice Templer. Class yang berada lebih tinggi dibandingkan Class knight.” Ucap penyihir kerajaan yang kagum dengan bakat Putra Mahkota Ryan Lewis.


“Terima kasih.” Ucap Ryan Lewis.


Setelah itu Ryan Lewis kembali ke dalam barisannya. Saat Ryan Lewis kembali dia mendapat berbagai pujian dari peserta lainnya.


“Selamat Pangeran Mahkota Ryan Lewis.”


“Sepertinya Kerajaan Majapahit akan tetap mempertahankan gelar kerajaan terkuat di benua Nusantara.”


“Selamat”


Di barisan peserta.


“Selamat kakak.” Ucap Ellisa Lewis memberi selamat sambil memeluk Ryan Lewis.


“Iya.” Ucap Ryan sambil mengelus rambut Ellisa.


“Hei Ryan, seperti kau memiliki bakat yang mengerikan, hahahaha. Tapi aku tidak akan kalah, karena aku adalah Panglima Darius Bima, Hahahaha.” Ucap Darius sambil tertawa.


“Sepertinya kau kasihan sekali.” Ucap Nara secara tiba-tiba.


“Kenapa?” Ucap semua sahabat Nara yang mendengar itu.


“Kau tidak akan bisa mengerti betapa nikmatnya tidur siang. Karena kau akan begitu populer dan mendapatkan pelatihan yang khusus. Kasihan sekali.” Ucap Nara sambil memuja tidur siangnya.


Semua sahabatnya yang mendengar itu hanya menghelanya nafas dengan sifat malas Nara yang terlalu menginginkan tidur siang.


“Haaa....”