The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Agak Memaksa



...Agak Memaksa...


Saat pintu tertutup. Dua manusia berbeda kelamin itu masih tidak berbicara dan menciptakan suasana canggung.


“Haa, jadi siapa namamu?” Ucap Nara memulai percakapan.


“Heh, jadi seperti ini sopan santun bangsawan kerajaan Majapahit. Sungguh sopan sekali!” Ucap wanita berambut pirang keputihan tersebut dengan nada mengejek.


“Ka-, haa. Perkenalkan namaku Nara Satya, putra tunggal Duke Satya, bangsawan Kerajaan Majapahit.” Ucap Nara memperkenalkan dirinya.


“Perkenalkan juga namaku Fiona Larissa. Putri 'haram’ Raja Kerajaan Sriwijaya, Oba Morgan. Tuan berlumuran darah dan Tuan penguntit.” Ucap Fiona memperkenalkan diri sebagai mengejek Nara.


“Kau, jangan mengetes kesabaranku, Nona Fiona!” Ucap Nara sambil mendekati tubuh Fiona sehingga tubuh Nara berada di atasnya dan memegang rahangnya.


“Emangnya, kau mau apa, Tuan Nara.” Ucap Fiona tersenyum mengejek.


Nara mendekatkan wajahnya sambil tersenyum menatap mata Fiona.


“Astaga, Nara!” Ucap ibu Nara yang tiba-tiba masuk sambil membawa nampan berisi teh.


“Ibu, ini tidak seperti yang ibu lihat.” Ucap Nara sambil menjauh dari tubuh Fiona.


“Hiks-hiks”


Suara tangisan terdengar dari Fiona.


Ibu Nara yang mendengar Fiona menangis langsung menghampirinya.


“Sudah, tidak apa-apa. Dasar anak bodoh. Tidak apa-apa sayang anak Tante akan bertanggung-jawab.” Ucap ibu Nara sambil memeluk Fiona dan menenangkannya.


“Apa! Tapi-“ Ucap Nara terputus.


“Kau harus menjadi pria sejati Nara. Jangan lari dari tanggung jawab.” Ucap ayah Nara yang muncul sambil menatap tajam ke arah Nara.


Sialan! Dasar Gadis gila!


Pikir Nara ketika melihat situasi yang tengah terjadi.


“Haaa, selamat tinggal hari-hari santaiku.” Ucap Nara pelan.


Setelah kesalahpahaman yang terjadi antara Nara dan Fiona. Pertunangan mereka di laksanakan dengan dasar 'bertanggung jawab’ pada Fiona.


Waktu terus berjalan. Sudah sekitar tiga hari dari kejadian kesalahpahaman. Fiona sudah tiga hari tinggal di Mansion Duke Satya. Tentunya tidak di kamar yang sama dengan Nara.


...—–—...


Di taman belakang Mansion.


Terdapat seorang pria tampan berambut hitam legam yang sedang bersantai pada kursi malas.


Dengan ditemani oleh seorang wanita cantik berambut pirang keputihan yang duduk di sebelah pria tampan sambil membaca buku.


“Sebenarnya, apa tujuanmu bertunangan denganku, Fiona?” Ucap pria tampan berambut hitam legam sambil mengunyah keripik buah.


“Kau tahukan aku adalah anak haram. Sebagai seorang anak haram, aku tidak memiliki perlindungan di kerajaan Sriwijaya, Nara.” Ucap wanita berambut pirang keputihan sambil membaca buku.


“Jadi kau menginginkan perlindungan? Dari seseorang yang kau sendiri tidak kenal? Sungguh gadis gila.” Ucap Nara yang tidak mengerti jalan pikiran Fiona.


Kau hanya menambah bebanku, dasar gadis gila.


“Iya, kau benar. Mungkin aku gila karena mempercayakan tubuh dan jiwaku pada seseorang yang bahkan tidak aku kenal.” Ucap Fiona sambil menatap Nara yang terlihat tak acuh dan fokus pada keripik buah.


Ehem!


“Apakah ibu mengganggu waktu bermesraan kalian?” Ucap ibu Nara mengagetkan Nara.


“Tidak, ibu.” Ucap Fiona kepada ibu Nara.


“Ada apa Bu?” Ucap Nara sambil memperhatikan ibunya.


“Kamu dipanggil oleh ayahmu untuk menemuinya di ruang kerjanya.” Ucap ibu Nara kepada Nara.


“Haa, mau apa lagi orang tua itu.” Ucap Nara sambil berdiri.


...—–—...


Di ruang kerja Duke Satya.


Tok-tok


“Masuk!” Suara dari dalam mengizinkan masuk.


Pintu terbuka memperlihatkan seorang pria yang memiliki wajah hampir sama dengan pria paruh baya yang sedang duduk sambil mengerjakan kertas-kertas.


“Oh, kamu sudah sampai, Nara.” Ucap ayah Nara dengan memperhatikan Nara.


“Tidak usah berbasa-basi, langsung saja ada apa?” Ucap Nara dengan tak acuh.


Pasti sesuatu yang merepotkan.


Pikir Nara ketika melihat senyum di wajah ayahnya.


“Begini, karena kamu sudah bisa dianggap dewasa. Kamu mendapatkan tugas dari kerajaan Majapahit. Untuk mengurusi wilayah yang berada di bagian selatan kerajaan Majapahit.” Ucap ayah Nara dengan menyerahkan kertas.


“Karena pemimpin wilayah tersebut terlibat dalam kasus pemberontakan. Jadi semua orang keluarga di eksekusi mati oleh Raja Cyrus Lewis. Dan kamu sudah terlalu bermalas-malasan, ayah rasa ini adalah hal yang bisa membangkitkan semangatmu.” Ucap ayah Nara sambil tersenyum.


Sial, dasar paman Cyrus. Seenaknya menyerahkan tanggung jawab kepada anak tidak bersalah ini.


“Haa, baiklah. Kapan aku harus ke sana?” Ucap Nara dengan pasrah.


“Kamu akan pergi ke ibukota terlebih dahulu untuk mengambil surat perintah. Dan kamu bisa ke ibukota tiga hari lagi.” Ucap ayah Nara menjelaskan.


...—–—...


Seminggu telah berlalu. Di ibukota Kerajaan Majapahit.


Terlihat kereta kuda yang terlihat sederhana tapi memancarkan kemewahan berhenti di depan istana kerajaan Majapahit.


“Putra Duke Satya, Nara Satya, Telah tiba!”


Suara salah satu prajurit ketika melihat seorang pria tampan berambut hitam legam turun dari kereta kuda.


“Selamat datang, Nara.” Ucap seorang pria gagah yang memancarkan kewibawaan.


“Siapa kau?” Ucap pria tampan berambut hitam legam dengan nada tak acuh.


“Ini aku, Ryan Lewis. Kau sudah melupakanku setelah bertunangan? Dasar tidak berperasaan.” Ucap pria tampan berwibawa dengan muka masam.


“Oh.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Haa, ayo!” Ucap Ryan sambil berjalan masuk ke istana utama.


Nara dan rombongan masuk ke dalam istana utama mengikuti Ryan.


...—–—...


Di salah satu ruangan di dalam istana utama.


“Nara, duduklah dulu! Aku akan memanggil ayah.” Ucap Ryan sambil berjalan pergi meninggalkan Nara.


Kemudian Nara duduk dan diikuti oleh Fiona duduk di sebelahnya. Tidak lama kemudian muncullah Ryan bersama dengan dua orang.


“Kakak Nara!” Ucap wanita cantik berambut putih berlari menghampiri Nara dan berhenti di depan tepat di depan Nara.


“Kau sudah besar, Ellisa.” Ucap Nara sambil memperhatikan Elisa yang melihat ke arah Fiona.


“Ini siapa kak?” Ucap Ellisa sambil memperhatikan wanita yang duduk di sebelah Nara.


“Perkenalkan ini Fiona Larissa, tunanganku.” Ucap Nara kepada Ellisa.


“Salam kenal, Putri Ellisa Lewis.” Ucap Fiona sambil memperkenalkan diri.


“Halo, salam kenal juga, kak Fiona.” Ucap Ellisa sambil duduk di sebelah Fiona.


“Selamat datang dan selamat telah bertunangan, Nara.” Ucap pria paruh baya berbadan tegap berambut sama dengan Ryan.


“Salam hangat dari saya, Raja Cyrus Lewis.” Ucap Nara dengan nada santai sambil berlutut.


“Berdirilah, kau sudah seperti keluargaku sendiri.” Ucap Raja Cyrus Lewis sambil duduk di sofa di depan Nara.


Nara kembali duduk dan Ryan duduk di sebelah Nara.


“Seperti yang telah kamu ketahui, Nara. Aku akan menyerahkan wilayah Marquess Pablo Caso. Karena Marquess Pablo telah memberontak kepada kerajaan Majapahit.” Ucap Raja Cyrus sambil menyerahkan dokumen penyerahan wilayah kepada Nara.


“Jadi kenapa paman meminta aku untuk memimpin wilayah itu? Bukankah ada Ryan? Ataupun bangsawan lain.” Ucap Nara dengan muka masam.


“Karena hubungan keluarga Lewis dan keluarga Satya yang sangat dekat. Jadi tidak ada salahnya mempercayakan wilayah ini kepadamu. Lagi pula ayah dan ibumu setuju dengan keputusanku.” Ucap Raja Cyrus sambil tersenyum.


“Kenapa tidak Ryan?” Ucap Nara sambil melihat ke arah Ryan yang sedang menikmati teh.


“Aku? Aku tidak bisa. Aku harus mempelajari sesuatu di istana kerajaan dan bukannya kau dua tahun terakhir hanya berbaring di ranjang saja.” Ucap Ryan dengan senyum di wajah.


“Apakah kau memata-mataiku?” Ucap Nara dengan wajah serius.


“Tentu saja tidak. Aku hanya menebak dari sifatmu yang pemalas. Dan siapa di kerajaan Majapahit yang tidak mengetahui 'Nara Satya Pangeran Kemalasan’ hampir setiap orang pasti mengetahui rumor tentang dirimu.” Ucap Ryan dengan mengejek Nara.


“Haa, baiklah aku menerimanya.” Ucap Nara dengan pasrah.


Ini pemaksaan.


“Baguslah, kamu bisa memulai menempati wilayah itu seminggu kemudian. Karena bangsawan yang berada di tempat itu sedang proses penurunan jabatan.


Lalu karena ini adalah permintaan yang bersifat agak memaksa. Kamu diberi kebebasan untuk memilih bangsawan yang berada di bawahmu dan juga wilayahmu akan dibebas pajak pada kerajaan.” Ucap Raja Cyrus dengan menekan 'Agak memaksa.’


“Ini tidak ada maksud tersembunyi kan?” Ucap Nara dengan tidak percaya wilayahnya dibebas pajak kan.


“Tentu saja tidak. Ini sebagai bentuk hadiah. Karena bagaimanapun keluarga Lewis dan keluarga Satya dekat dan kompensasi atas memaksamu untuk memimpin wilayah Marquess.” Ucap Raja Cyrus dengan nada tulus.


“Kalau begitu saya permisi, Raja Cyrus.” Ucap Nara sambil berdiri lalu membungkuk dan diikuti oleh Fiona.


“Baiklah.” Ucap Raja Cyrus mengangguk.


“Kenapa kalau menginap di tempatku, Nara?” Ucap Ryan kepada Nara yang berpamitan.


“Tidak.” Ucap Nara dengan tak acuh lalu langsung keluar dari ruangan dengan Fiona.