
Alina menatap setiap sudut ruang kamar yang beberapa hari ini ia tinggali, tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil jika ia tinggali sendiri, Meskipun tidak ber-Ac seperti kamar yang berada di rumahnya, namun itu cukup bisa membuatnya Nyaman.
Tidak Terasa, dua hari menginap di sana, malah membuat dirinya merindukan sesuatu, Paman Fandi dan sekeluarganya memiliki keluarga yang hangat, tidak seperti dirinya yang selalu jauh dari kedua orang tuanya, mungkin saat sampai di jakarta nanti, Bhara akan segera meninggalkannya.
Yach, bagi Alina itu sudah cukup baginya, meski tidak selama yang ia inginkan, tetapi setidaknya perlakuan ayahnya bisa membuat jatinya sedikit menghangat. Alina menutup koper yang berisi baju bajunya dengan rapat, lalu menariknya keluar Pintu. Namun gerakan itu terhenti saat Bhara berada di depan pintu kamarnya.
"Papa." lirih Alina. Bhara mengulas senyum dan mengusap pucuk rambut Alina.
"Sini, biar papa yang bawa." Bhara mengambil alih koper Alina, dan tangannya yang kosong mengeratkan di bahu Alina. "Ayo." Keduanya menuruni tangga menghampiri Fandi dan Shaqaelle yang sedang berada di ruang tengah.
"Bhara. Apa kau sudah akan pulang?" Tanya Fandi ikut berdiri lalu melirik Koper yang berada di samping Bhara, dan detik kemudian ia kembali menatap Bhara.
"Iya, Fan. Kita sudah sangat merepotkanmu, lagi pula aku harus kembali ke malaysia. melakukan pekerjaanku." sahut Bhara yang di angguki Fandi.
"Baiklah. Tapi aku pasti akan merindukan kalian, kita sudah lama tidak berkumpul seperti ini." Sahut Fandi.
"Em,,,terima kasih atas kebaikan kalian. kak Shaqaelle, Fandi kita pamit ya. jaga kesehatan kamu, jangan terlalu bekerja keras." Bhara kemudian merangkul Fandi sejenak lalu beralih ke arah shaqaelle dengan menajabat tangan saja.
"Paman, Alina pamit ya, salam untuk om Rafka." Ucap Alina, Fandi mengangguk, kemudian menatap shaqaelle. "Bibi, Maaf jika Alina selalu merepotkan bibi." lanjut Alina.
"Tidak apa sayang, kalian hati hati." Ucap Shaqaelle.
Ayah dan Anak itu keluar. Bhara membuka bagasi mobil lalu meletakkan koper di sana, sedangkan Alina duduk di bangku penumpang samping. Bhara mengangguk saat melewati pasangan suami istri itu masih menatapi mereka, Bhara memutari depan mobil dan masuk ke dalam mobil.
Perlahan mobil mulai melaju, lalu meninggalkan pekarangan rumah sederhana itu menuju kota.
***
Wanita cantik tengah memberesi baju ke dalam kopernya, dan dilihat dari sisi wanita seperti akan meninggalkan kota yang telah membesarkan namanya.
"Kau akan kemana, sayang?" Willi merangkul Quenby dari belakang, Quenby berhenti sesaat memegang tangan Willi yang merangkul pinggangnya.
"Willi, ada sesuatu yang harus aku urus. mungkin aku akan pergi le indonesia selama satu minggu, aku sangat rindu dengan putriku."
Willi membalikkan tubuh quenby menghadap ke dirinya. "Apa kau juga akan bertemu dengan Suamimu juga?"
Quenby menatap manik mata hitam Willi, dan Willi memdorong tubuh Quenby mundur satu langkah, ia duduk di sofa menundukkan kepalanya.
"Willi, dia masih suamiku. bahkan aku belum bercerai, tapi tenanglah aku akan tetap bersamamu. ku mohon, kau jangan seperti ini." Quenby duduk menyandar di bahu willi.
Willi menatap Quenby dan menggenggam jari perempuan itu dengan erat.
"Baiklah aku percaya."
Quenby bangkit dan melanjutkan mengemasi barang barangnya.
"Apa kau bisa mengantarku ke bandara?" tanya quenby.
"Aku sedang ada urusan yang harus ku selesaikan, kau bisa pergi dengan sopirku." kata willi.
Quenby mengecup pipi willi, dan keluar apartemen miliknya, tanpa ia sadari bahwa willi mempunyai cara yang licik untuk mendapatkan sesuatu.
***