
Dalam perjalanan pulang, Alina melihat luar jendela, awan mendung menutupi cahaya siang hari, seakan langit sedang menangis. tiba tiba mobil terhenti.
"Maaf Non, mobilnya mogok."Sopir taksi itu menoleh memberitahukan.
"Yah pak, rumah saya masih jauh, bagaimana ini?"
"Aduh Non, saya juga bingung, maaf ya non." ucap sopir itu memohon. Akhirnya Alina turun dari mobil, berniat mencegat taksi kembali, tak di sangka mobil phantom berwarna hitam datang dan berhenti di depannya, kening Alina sempat mengerut, saat kaca jendela terbuka ia mengubah ekspresi wajahnya.
"Masuklah." ucap pria itu tenang.
Alina terdiam sesaat, "Hei..." Pria itu turun dan menghampiri Alina seraya membuka pintu mobil.
"Ah.." Alina terbengong.
"Cepat masuk sebentar lagi hujan." kata pria itu.
Dengan segumpal keberanian, Alina masuk ke dalam mobil, pria itu mengintari dan masuk ke kursi kemudi. Rafka melajukan mobil menuju jalan raya. Alina bergerak gelisah, pria ini justru terlihat tenang. matanya fokus pada jalanan.
"Kevin menanyakan kamu, ia kemarin sempat demam." tiba tiba ia memberitahukan keadaan Kevin.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Alina sangat khawatir dengan keadaan kevin. Rafka melirik sekilas kemudian pandangannya kembali fokus pada jalanan, ia tersenyum tipis.
"Aku mengajukan satu syarat, jika kamu ingin menemui kevin." uajr Rafka.
Alina terdiam sesaat. "Apa itu?" tanya Alina.
"Kau bisa bekerja di tempatku sebagai pengasuh Kevin, dan aku akan menggajimu sesuai standart." Ucap Rafka.
"Aku tidak butuh uangmu, cukup kau mempertemukan aku dengan kevin."
"Sudah ku duga. kau pasti akan mengambil Kevin suatu saat nanti."
"Apa maksud kamu!" Rafka menaikkan sudut bibirnya.
"Kau tidak perlu tau alasannya."
Mobil phantom berwarna hitam ini memasuki sebuah pekarangan yang luas. Alina sempat tercengang, warna cat rumah ini berwarna cream seperti yang ia sukai. begitu keluar dari mobil, seorang anak kecil sambil tertawa menghampiri.
"Mama!" pekik anak itu, yang membuat Alina reflek dan menangkap tubuh kecil itu ke dalam dekapannya, ia menghirup aroma susu yang keluar dari tubuh anak kecil itu.
"Mama, kevin punya hadiah buat mama." Anak kecil itu langsung menarik tangan Alina masuk ke dalam rumah, memperlihatkan kado besar yang terbungkus dengan rapi, Alina tersenyum sambil mengusap kepala Kevin lembut.
"Apa ini sayang?" tanya Alina lembut.
"Buka saja ma, ini kejutan tadinya buat caca tapi caca pergi ke tempat kakeknya jadi ini buat mama." kata kevin sumpringah.
"Terima kasih sayang." kata Alina mencium pipi kevin yang tembem.
Rafka dari kejauhan tersenyum, ia bisa melihat betapa senangnya kevin dengan Alina, meski sebenarnya Kevin adalah memang anak nya, tapi karena sebuah kecelakaan membuat Alina lupa ingatan tentang Kevin yang sudah ia lupakan. ia juga sebenarnya sudah pernah menikah meski tanpa restu Shaqaella.
Rafka menahan segala gejolak dalam dada, ia ingin sekali mengatakan, anak ini adalah putramu. kecelakaan itu mengakibatkan melupakan semua kenangan indah bersama Rafka, yang ia ingat ketika ia masih berumur 16 tahun saat Rafka masih menjdi temannya dan itu pun karena Fandi yang memberitahukan. tapi disisi lain, Shaqaella menginginkan Rafka dengan meninggalkan Alina dan membawa anak mereka sebagai cara ampuh untuk memisahkan mereka.
Alina sedang tertawa di ruang tengah bermain bersama Kevin, hingga tak terasa waktu sudah begitu malam.
"Sayang, mama akan pulang, ini sudah malam, mama masih ada kerjaan lain." pamit Alina kepada Kevin.
"Tidak boleh, mama harus tidur disini! kata kevin sambil merajuk.
"Tapi..."
Tiba tiba, rafka masuk ke dalam kamar Kevin, dan duduk di tepian ranjang.
"Kevin, mama harus pulang, besok kita boleh main lagi."
"Beneran pa."
"iya. besok main lagi, sekarang kau tidur dan papa akan mengantarkan mama."
"Janji, mama akan selalu ada datang kan pa." kata kevin.
"iya." Rafka tersenyum lalu menyelimuti kevin sebatas dada. ia mencium kening kevin lalu mengganti lampu tidur yang temaram.
Alin dan Rafka keluar kamar Kevin, menutup pintu dan berjalan menuju tangga.
"Alina..." suara itu sangat rendah. Alina menoleh. "iya pak."
"Terima kasih."
"untuk?"
"mau menemani kevin, dia sejak lahir sudah tidak memiliki ibu, banyak wanita yang ingin menjadi ibunya, tapi dia selalu menolak, dan entah dari mana ia tiba tiba ketika melihat kamu ia senang memanggilmu mama. maaf sudah merepotkan kamu." kata Rafka yang sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya tapi lidahnya terasa kelu dan mengucapkan hal yang berbeda dengan pikirannya.
"Ooh soal itu, ga pa-pa pak, saya juga sangat senang dengan anak pintar seperti kevin, dia anak yang mandiri dan sangat protektif." kata alina.
keduanya sudah sampai di teras, "biar sopir yang mengantar," kata rafka, tak berapa lama mobil terhenti di depan alina.
"Selamat malam pak," kata Alina kemudian masuk mobil dan pergi.
...----------------...