
Alina mengerjapkan mata, melihat sekeliling, "Astaga! aku ketiduran." Alina mencari ponselnya, melihat jam yang berada di layar utama, "huh! jam 8?" serunya dengan terkaget. Ia segera pergk keluar dari kamar kevin. ia keluar dan di sana ada mbak lisa yang sudah membersihkan sisa piring bekas makan.
"Selamat pagi nyah." sapa Lisa dengan senyum ramah.
"pagi mbak." sautnya seraya berjalan mengambil minuman dari dalam kulkas lalu menengguknya.
"Kevin sudah pergi mbak?" tanya nya seraya meletakkan gelas ke meja makan.
"Baru saja pergi nyah." kata mbak lisa, tangannya seraya mencuci piring. Alina manggut manggut.
"Kalau gitu saya pulang mbak." ucapnya berpamitan.
"baik nyah."
Alina keluar dengan wajah yang sudah bersih, sebelum pergi ia sudah mencuci mukanya terlebih dahulu.
Ia membuka pintu rumahnya, ia merasa sangat lelah, apalagi tidur dalam keadaan duduk, itu membuat tubuhnya merasa pegal.
"Hoammmm...." ia menguap dan merenggangkan otot tubuhnya yang masih kaku. melihat keadaan rumah yang masih seperti biasa. Kemudian dering telpon dari balik tas nya membuat ia mengalihkan kegiatannya untuk melanjutkan tidurnya.
"halo." terdengar ada keributan dari balik telepon.
"Alina,,, aku rindu..." seorang wanita khas bule mengatakan dalam bahasa inggris. Alina tertawa.
"ya aku juga. kapan kau akan datang, aku sudah lama juga merindukanmu." ucapnya.
"ya, oke, tunggu saja kejutannya, aku pasti datang. hahaha, ohya, kau tau max sangat merindukanmu juga."
"hahaha, dia pasti sekarang sangat sibuk."
"tentu saja, demi dirimu dia rela bekerja."
"hahaha, itu pasti membuatnya sangat lelah."
"yeah, oh ya, aku masih ada kerjaan lain, aku merindukanmu. bye." sambungan pun terputus. Alina meletakkan ponselnya, tersenyum menerawang.
"max." gumamnya.
#
Giandra menatap seorang gadis di depannya, ia tersenyum lebar, sedangkan gadis yang duduk di depannya ini hatinya merasa gelisah, tapi ia memaksa untuk tersenyum.
"yeah, katakan babe, ada apa menemuiku." ucap giandra senang. wanita itu masih dengan senyumnya.
"aku ingin mengajak kamu ke tempat orang tuaku." senyum giandra semakin lebar.
"wah secepat itu." dan gadis di depannya ini mengangguk.
"tapi...!" gadis itu terlihat muram. "menikahi kakakku." itu adalah pernyataan. giandra melepaskan tautan tangan bersama gadis itu, wajahnya seolah marah.
"Kau gila ya!" ucapnya marah.
Gadis yang disebut dengan nama dewi ini, meneteskan air matanya. "kakakku menyukaimu, dan dia sedang hamil." ungkap dewi.
"Dewi, apa maksud kamu seperti ini, aku tidak menyukainya, kau tau itu, aku sangat menyukaimu, apa kau gila, aku harus bertanggung jawab anak orang. yang bahkan dia saja tidak mau bertanggung jawab padanya." ucap giandra yang semakin meninggi.
gadis itu menitikkan air matanya semakin deras, "dia anakmu dra, bukan anak orang lain." pernyataan dewi membuat Giandra syok.
"apa maksud kamu?" tanyanya tak percaya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, aku melihat semuanya, aku bahkan berada di sana, aku melihat kau masuk ke dalam kamar hotel dengan mabuk, waktu itu kakakku juga ada di sana."
"Katakan dengan jelas dew."
"Kau lah yang memperkosa dia!" mata giandra membelalak. jadi malam itu adalah memang nyata, ia kira itu mimpi merasakan hal di luar kendalinya. tapi saat terbangun, sudah tidak ada orang melainkan dia seorang diri. ia hanya melihat sepray yang memang ternoda dengan darah, tapi ia tak menghiraukannya.
Dewi berlari keluar dari cafe, tempat ia dan giandra bertemu. Giandra terlihat sangat syok dengan kejadian ini, apa apaan ini! geramnya. ia merasa sangat gila.
*
*
*
"Ndra,, hei...kenapa melamun?" Alina mengambil duduk di hadapan giandra, mereka tengah berada di dalam ruangan pribadi Giandra.
"Gak ada? eh sejak kapan kau masuk?" tanya giandra.
"Baru saja, gimana perkembangan dengan dewi?" tanya Alina sambil memegang gelas jus dan meminumnya perlahan.
"baik baik saja, tumben kamu sendiri, mana kevin kecil?"
"Dia di sekolah, sebentar lagi pulang, oiya, aku turun ya. mungkin abbas genit itu sudah menunggu."
"hah, abbas genit." tanya giandr ingin tertawa.
"ya, itu arsitek usulanmu, dia sangat genit, untung aku punya cara ampuh untuk mengusirnya.
"hhahaha....sangat lucu, padahal dia adalah arsitek yang terkenal dengan profesionalisme kerja." kata giandra seraya menertawai julukan yang di berikan alina.
"heist, kau tidak tau saja, ohya, aku segera turun, nih orang sudah menelpon." ucapnya kemudian berlalu pergi.
...----------------...