The Little Sunshine

The Little Sunshine
BAB 27



Malam yang pekat, Alina duduk di kursi yang berada di balkon rumahnya, ia tengah berkonsentrasi membuat sketsa gaun yang akan ia rancang, ia memang sangat ahli dalam merancang gaun tapi ia belum memilki tempat untuk memamerkan keahliannya, di tengah fokusnya ia menggambar tenggorokannya terasa kering ia mengambil gelas yang berada di sampingnya, saat mengangkatnya terasa ringan ia melihat ternyata gelasnya kosong, ia kemudian beranjak dan menuju lantai dapur untuk mengisi air.


Sampai didapur, ia mengisi gelasnya dan menengguknya, kemudian ia beralih membuka kulkas, ternyata ia lupa kalau ia belum belanja apapun untuk mengisinya.


Sejak pulang dari luar negeri ia belum sama sekali berbelanja, ia hanya mendapatkan roti dan sering makan di luar.


"oh iya, aku lupa kalau belum belanja." ucapnya kemudian ia kembali ke kamarnya untuk melanjutkan menggambar.


Paginya, ia tidak melakukan lari pagi seperti biasanya, ia justru melakukan olahraga hanya di sekitar halaman.


"Selamat pagi." sapa ibu ibu yang sedang lewat depan rumahnya karena memang pagarnya terbuka jadi sangat kelihatan setiap ada orang yang lewat.


Alina menengok ke sumber suara, lalu tersenyum. "pagi bu, mau kemana bu pagi pagi begini?" tanya Alina ramah.


"hehe, mau ke warung neng, oiya neng? eneng kok rajin bener olahraganya?"


"iya bu."


"kalau gitu saya permisi neng, selamat pagi." ucap ibu ibu itu tersenyum kemudian berlalu.


Alina balas tersenyum dan melanjutkan aktifitas paginya, ia kemudian masuk setelah di rasa sudah merasa lelah. ia segera menyegarkan dirinya dan hari ini memang niatnya untuk berbelanja, jadi ia bergegas pergi ke supermarket.


Sampai di sana ia memilah sayuran, daging dan yang lainnya untuk mengisi keperluannya.


Disisi lain, Rafka sengaja mengajak putranya untuk sekedar berjalan jalan ke mall, karena pengurus yang biasanya sedang pulang kampung dan keperluan di kulkas juga habis jadi ia juga memutuskan untuk berbelanja.


"Kevin, kamu mau yang mana?" tanya Rafka memberikan pilihan pada putranya.


"daging," jawab kevin, ia duduk di atas troleey memandang ayahnya memilih bahan.


"oke." kemudian ia memasukkan daging ke keranjang, selanjutnya ia pergi ketempat yang menyediakan berbagai sayuran.


Rafka masih memilih sayuran yang segar, dan tiba tiba ia mendapatkan panggilan, jadi seraya menerima telpon tangannya memilih sayuran.


Disaat Rafka lengah, mata kevin mengedarkan pandangan melihat seorang gadis yang tengah memilih sayuran yang tak jauh darinya, kevin turun dari troleey dan menghampiri gadis itu.


"Mama.!" sontak membuat gadis yang tengah memilih sayur itu terkaget, apalagi lelaki kecil itu seraya memeluk kakinya yang berbalut celana bahan itu.


"Ah." Alina terkejut dan melihat lelaki kecil itu.


"Mama." panggil kevin dan mendongak, nampak matanya sedang berkaca kaca.


Alina mengedarkan padangan ke sekeliling lalu menunduk menatap lelaki kecil itu sambil tersenyum.


"Mama!" ucap kevin seraya menunjuk alina. Alina mengedarkan padangan ke sekiling, orang orang di sekitar juga sedang berbisik dan menatap Alina dengan tatapan aneh.


"Aku!" tunjuk Alina menunjuk diri sendiri.


"Mama." ucap kevin dan mengangguk. Alina tersenyum namun dalam hati ia merasa kebingungan.


Rafka selesai menerima telpon, saat akan memasukkan sayuran ke dalam keranjang, ia syok, putranya sudah tidak ada di sana.


"Kevin!" Panggil Rafka panik karena kehilangan putranya, ia berlari mengelilingi mall itu.


"Kev, kevin!" teriaknya pada salah satu anak pengunjung.


Ia menghampiri anak lelaki tersebut tapi saat anak lelaki itu menengok ternyata bukan. ia kemudian berlari ke arah lain. mencari putranya.


Di satu sisi, Alina sudah bisa akrab dengan lelaki kecil di sampingnya.


"mama, mau es krim." ucap kevin di sela Sedang memilih bahan lainnya.


"ah, es krim.?" tanya Alina.


"KEVIN!" teriak Rafka yang sudah dapat menemukan putranya.


Alina dan Kevin sama sama memandang pria yang tengah berlari ke hadapannya. ia segera memeluk putranya.


"Papa!" ucap Kevin lalu menunduk ketakutan.


"Kevin lain kali kalau pergi bilang papa ya, papa sampai ketakutan mencari kamu." ucap Rafka.


Alina yang dapat melihat Rafka ia membalikkan tubuhnya, ia berdiri membelakangi, kakinya ingin berlari tapi sulit untuk di gerakkan.


"Aku mau es krim papa." kata Kevin.


"Baiklah! ayo kita beli es krim, tapi kita ke kasir untuk membayar belanjaan." ucap Rafka seraya menggandeng prutranya.


Alina merasa lega, ia membalikkan badannya, memandang punggung pria itu yang tengah berbincang dengan akrab menjauh.


Ia kemudian mengambil troleey, lalu segera bergegas ke kasir dan pulang.


***