
"Papa!" teriak Alina begitu masuk kedalam rumah, Bhara yang sedang meninjau salah satu dokumen di ruang tengah pun menatap putrinya yang berjalan mendekat.
"Eh anak papa, baru pulang sayang?" kata bhara lembut.
"iya pa." kata alina langsung mengecup pipi bhara.
"Sana mandi, ih bau asem." goda bhara.
Alina mengendus bau di badannya dan tertawa. "hehe, tadi mas Rafka ngajak main ke mall pa, jadi bau keringat deh, oiya nih Alina bawakan menu kesukaan papa, Tahu gejrot pedas poll." kata alina seraya memberikan Paperbag berisi tahu kepada bhara.
Setelah menerima dan mengintip isi paper bag itu, bhara meletakkan kembali di mejanya. "Mandi dulu sana, nanti kita makan bareng." kata bhara.
"ya deh papa ku sayang, aku ke atas dulu ya." kata alina kembali mengecup pipi ayahnya sekilas dan pergi menaiki tangga.
#
"Rafka!" panggil Fandi begitu putranya masuk, Fandi yang sedari tadi duduk diruang tengah sedang menunggu kedatangan putranya.
"Ayah." Rafka datang menghampiri dan mencium punggung tangan Fandi.
"Hari ini, teman ayah akan datang, bisa kan kau menemuinya?" kata fandi.
"ya baiklah, kalau gitu Rafka pergi bersih bersih ya." jawab Rafka kemudian berlalu.
Tepat jam 7 malam, teman yang di maksud Fandi datang bersama keluarganya, Aryasatya Raditya beserta istri dan kedua putrinya. Mereka duduk berbincang di ruang tamu. saling berbasa basi dan tertawa. Rafka yang sudah bersiap pun menuruni tangga menghampirinya.
"Ah ya ini adalah putraku satu satunya, Rafka Shaquelle Zhafran." sebut Fandi memperkenalkan. Rafka langsung menjabat tangan Arya beserta istri dan kedua putrinya.
"Ah ya, aku sudah tau, Rafka pengusaha terkenal di kalangan bisnis, sungguh suatu kehormatan bisa datang kemari." ungkap Arya tertawa
Fandi dan Shaqaella tersenyum menanggapi,
"Dan ini adalah kedua putri saya, Rania dan Salma." ungkap Arya juga memperkenalkan kedua putrinya.
"oh ya, wah kebetulan sekali kalian sudah kenal." Arya masih betah dengan tawanya.
Membicarakan hal ini, Rafka hanya diam taj menanggapi, Setelah lama berbicara, Fandi dan beserta istrinya mengajak makan malam bersama di rumahnya. Semua sudah duduk secara teratur, memulai makan malam dengan tenang.
Hingga di Akhir, Arya baru mengungkapkan niat dan tujuannya datang.
"Wah kebetulan kalian berdua sudah kenal terlebih dahulu, kami sebagai orang tua, bagaimana jika kita menjodohkan keduanya sebagai bentuk kerja sama kita." ungkap Arya yang tak bisa lagi menahan tujuannya.
Fandi tertawa. "Pak Arya, saya setuju saja dengan niat anda datang kemari, tetapi selepas itu, saya hanya bisa menyerahkan ini kepada anak anak, itu adalah keputusan anak saya."
Tatapan Arya tertuju kepada Rafka yang terdiam, "Bagaimana kamu Rafka, apakah kau bisa menerima perjodohan yang saya ajukan ini nak?"
Rafka tersenyum, "Biar saya pikirkan, dan untuk bisnis mungkin bisa berjalan sesuai rencana, tetapi untuk perjodohan ini, maaf saya tidak bisa." kata Rafka tegas.
Arya menghentikan senyumnya, ia menghela nafas, bahkan raut wajah kedua putrinya berubah. namun Lidya masih menampakkan senyum,"Jeng Shaquel, kita kan sudah berteman sejak lama, mungkin Rafka masih belum bisa memutuskan, kita anggap saja ini masa percobaan."
"Oh, jeng Lidya, ya saya juga berharap seperti itu." jawab Shaqaella tersenyum.
Wajah Arya kembali menampakkan senyum, tapi hatinya masih terlibat buruk. selesai makan malam, mereka akhirnya berpamitan pulang.
"Fandi, kenapa kau tak membujuk putramu untuk menyetujui permintaan mereka?" kata shaquel begitu keluarga Aryasatya sudah pergi.
Fandi masih duduk bersandar di sofa ruang tengah, menghela nafas. "Aku tidak bisa memaksakan kehendak putraku sayang, mungkin dia punya pilihan sendiri."
"Lihatlah, kau ini bahkan tidak mau mendukungku, kau tentu tau umur kita sudah semakin menua, dan anak kita juga umurnya sudah pantas untuk mendapatkan jodoh, bahkan anak temen bunda sudah punya anak sekarang, apa kau tega sebelum aku pergi tidak bisa melihat cucu kita nanti?" rajuk Shaquella.
"Sudahlah sayang, soal ini kau bisa tanyakan sendiri pada putramu, saya capek, mau istirahat." kata fandi beranjak. Shaquel hanya diam memikirkan cara selanjutnya untuk menyetujui perjodohan ini.
***