The Little Sunshine

The Little Sunshine
Bab 4



Sinar mentari sudah menampakkan sinarnya dari balik peraduan. Alina mengenakan seragamnya menuruni tangga, Dengan senyum yang terukir di wajahnya langsung menghampiri Bhara yang sudah menunggunya di ruang makan.


"Selamat pagi papa." sapa Alina mendekap sang papa dan mencium pipi Bhara, begitu juga bhara membalas ciuman Alina di pucuk kepalanya.


"Pagi sayang."


Alina duduk di samping tempat duduk Bhara, masih tetap menatap sang papa yang sedang membaca koran dengan seriusnya.


"Kenapa menatap papa seperti itu?" Tanya Bhara seraya melipat koran paginya, lalu memberikan koran pagi itu kepada mbok jah.


Bhara tersenyum hangat kepada anak tunggalnya,


"Tidak apa apa, Pa. Alina hanya senang jika papa berada di rumah. tapi...." sahut Alina menggantungkan kalimatnya. menatap kursi yang biasa di duduki sang mama. Bhara mengalihkan pandangannya menuju ke arah yang di pandang Alina. Bhara mengelus tangan Alina yang ia letakkan di atas meja.


"Mau ga jalan jalan?" Tawar Bhara. Alina melebarkan matanya, sambil terus mengunyah makanannya ia mengangguk.


"wow, jalan jalan. mau mau." Jawab Alina antusias.


"Dan nanti setelah pulang sekolah, kita akan melakukan perjalanan jauh, biar nanti mbok jah yang akan menyiapkan barang barangmu." Ucap Bhara yang membuat Anak semata wayangnya itu menyunggingkan senyum lebar di wajahnya.


"Makasih papa." Alina merangkul papanya, dan Bhara mencium pipi Alina berkali-kali.


***


Jam 5.00 A.M


Saat Fajar menyongsong, Alina menyadari jika mobil yang mereka tumpangi tidak bergerak sama sekali. Meskipun matanya masih terasa berat. ia memaksa matanya agar segera terbuka. Ia menoleh dan mendapati papanya terlelap di belakang kemudi, Bhara bergerak mengelus lengannya tetapi matanya masih terpejam.


Alina menundukkan wajah, menatap selimut yang membalut tubuhnya. Kemudian ia melepas selimut itu dan menyematkan ketubuh ayahnya. Bhara membuka mata saat selimut itu terpasang di tubuhnya.


"Sudah bangun?" kata Bhara.


Alina mengulas senyum dan mengangguk.


"Mau keluar?" Tanya Bhara yang mengacu tawaran.


"Disini gelap pa." sahut Alina mengedarkan pandangan keluar jendela.


Bhara mengelus pucak rambut Alina seraya tersenyum. kemudian ia menatap keluar jendela yang memang masih tertutup kabut.


"Disini tempatnya sejuk, Ayah akan menunjukkan kepadamu sesuatu. Ayo kita turun." Ajak Bhara.


Alina bergidik lalu menggeleng. "Tidak ayah, di sini dingin." Tolak Alina.


Klek. Bhara membuka seatbealt yang masih melilit tubuhnya, merapatkan jaket yang ia kenakan lalu menoleh ke arah Alina sebelum membuka pintu.


"Yakin tidak mau turun?" Tanya Bhara meyakinkan. Alina masih kekeuh menggeleng.


Bhara kemudian segera turun dan berjalan Tiga langkah ke depan dari tempatnya parkir. merentangan kedua tangannya ke atas sembari menikmati udara pagi yang masih belum tercemar dengan asap kendaraan.


Alina menatap sang ayah yang begitu menikmati pemandangan pagi di pegunungan yang tidak pernah ia temui.


Alina memasang jaket tak lupa melilitkan syal di lehernya, Saat pertama membuka pintu, dingin mulai merambah masuk ke tubuhnya, Alina mengelus kedua lengannya berjalan mendekati Sang papa yang berdiri tak jauh dari parkiran mobil.


"Dingin?" tanya ayahnya yang langsung mendekap tubuh Alina. Alina mengangguk. Bhara mencium puncuk kepala Alina kemudian mengalihkan pandangannya lurus ke depan. seraya menatap para buruh pemetik teh yang mulai memasuki perkebunan teh.


"Ini dimana Papa?" Tanya Alina yang tidak tau menau dimana ia berada sekarang.


"Ini di perkebunan teh milik Papa Sebelum Papa meninggalkan kota ini, Dan Di sebelah sana..." Bhara menggantungkan kalimatnya, jari telunjuknya mengarah pada sebuah pondok kecil yang berada di tengah perkebunan.


"Itu adalah milik sahabat papa, dulu kau sering mengajak papa kesini setiap kali liburan, dan di pondok kecil itu kau bermain boneka." cerita bhara.


Alina menatap tempat yang di tunjukkan Bhara, Dan di saat bersamaan ia juga bisa menyaksikan Sunset pagi dari ufuk timur.


"Papa, lihat." Telunjuk Alina menunjuk ke arah matahari yang mulai muncul.


"Indah kan??" Kata Bhara mengikuti arah pandang Alina.


Keduanya saling menatap matahari yang masih malu malu menampakkan sinarnya.


Alina tersenyum, ia tak pernah menyaksikan hari indah seperti ini. Ini sangat mengagumkan baginya.


"Dulu kau suka sekali bermain di pondok itu," lanjut Bhara. "Dan setelah papa memutuskan pergi dari sini, kita sudah lama tidak pernah lagi kesini. Dan kau tau.....?" Bhara kembali menatap Wajah Alina yang masih terkagum akan matahari yang masih bersemayam di ufuk timur.


"Dulu kau suka sekali mengganggu Rafka belajar."


"Siapa Rafka pa?" Tanya Alina mengerutkan dahinya bingung.


"Dia adalah putra dari sahabat papa, dulu kau sangat nakal sekali, kau memukulnya ketika dia tidak mau menggendongmu." Bhara tersenyum mengingat kala Putri Kesayangannya dulu selalu berhasil mengerjai Rafka.


Alina cemberut. "Papa menggodaku?" Bhara menggelengkan kepalanya.


"Tidak sayang, memang seperti itulah kamu kalau bersama Rafka." sahut Bhara menoel hidung mancung Alina. yang membuat bibir Alina semakin cemberut.


"Ayo ke suatu tempat, sudah agak siang, Papa akan menunjukkan sesuatu yang lain sama kamu." ajak Bhara menuntun Alina hingga ke mobil.


Bhara mengemudikann mobilnya meninggalkan perkebunan teh, lalu menuju jalan utama menuju ke sebuah desa yang tak jauh dari perkebunan.


Alina membuka kaca jendela, Menikmatu semilirnya pagi yang terasa masih segar tanpa adanya pencemaran udara. Bahkan ia sangat terkagum dengan pemandangan yang menampakkan lereng-lereng gunung.


"Papa! apa masih lama?" tanya alina menoleh ke arah papanya.


"Sebentar lagi sampai, sayang." Sahut Bhara yang menatap lurus kedepan memfokuskan pandangannya pada jalan yang hanya setapak.


...****************...