The Little Sunshine

The Little Sunshine
BAB 14



Setelah dua minggu berada di rumah sakit, akhirnya Bhara di perbolehkan untuk pulang, Alina sudah mengurusi seluruh administrasi rumah sakit yang di bantu oleh Fandi.


"Terima kasih paman, kalau tidak ada paman, entah aku akan meminta tolong kepada siapa lagi." kata alina.


keduanya berjalan di lorong rumah sakit.


"ya tentu saja, paman akan tetap membantumu karena kau keponakan paman yang paling cantik. hari ini apa kau akan pulang ke jakarta?" tanya fandi.


Alina menggelengkan kepalanya. "Kata papa, ia tidak mau kembali kejakarta, jadi ia memilih tinggal disini, dirumah papa yang dulu, dan nanti akan ada mbok jah yang menemani."


"oh syukurlah, jadi pamanmu ini tidak perlu mencari teman buat bermain catur lagi karena ada papamu sekarang."


"hm,"


Sampai di depan pintu kamar ruang rawat bhara, Alina dan Fandi masuk, mereka di suguhkan pemandangan yang menakjubkan, Rafka membantu Bhara duduk di kursi roda.


"Terima kasih Rafka, kalau tidak ada kau mungkin aku sudah terjatuh." kata bhara.


"iya om, sama sama."


"Nah kalian sudah siap, mari kita pulang." kata fandi seraya mendekati kedua pria itu.


Setelah merapikan semuanya, akhirnya bisa keluar dari rumah sakit. Fandi membantu mendorong kursi roda Bhara, sedangkan Alina dan Rafka berjalan bersampingan membawakan tas besar.


"Alina,"


"Ya."


"Hari ini, apa kau akan kembali ke jakarta?"


"Aku akan bersama papa disini."


"ooh."


Rafka mengambil mobil miliknya sedangkan Bhara dan Fandi sudah di jemput oleh sopir mereka.


"Kau mau ikut denganku?" tanya Rafka yang berhenti tepat di hadapan Alina.


Rafka memandang papa dan pamannya bergantian, keduanya saling mengangguk, Alina pun masuk ke dalam mobil Rafka setelah Bhara dan Fandi sudah masuk mobil.


Satu persatu mobil telah keluar dari area parkiran rumah sakit, kedua mobil itu melaju beriringan, sampai dj kediaman rumah yang lama, mbok jah dan bik Nun sudah berada di teras menunggu kedatangan majikannya yang pulang hari ini.


"Tuan." sapa mbok jah yang mendekati Bhara.


Bhara tersenyum, ia kini sudab duduk diatas kursi roda, dan bersiap masuk kedalam rumah, hampir saja mbok jah meneteskan air mata kesedihan yang di alami majikannya itu.


Beruntung, sebelum majikannya kembali ke rumah Mbok jah di bantu oleh bik Nun membersihkan semua ruangan, jadi Bhara bisa langsjng menempati ruang kamarnya.


Kini Rafka dan juga Alina masih berada di ruang tengah, duduk menikmati secangkir teh yang telah di sediakan oleh mbok jah. Sedangkan Fandi sendiri langsung pulang ke rumahnya bersama sopir nya.


"Jadi kau akan pindah sekolah ke sini Al?" tanya Rafka menikmati cake yang di suguhkan.


"Iya om, dari pada harus bolak balik jakarta bandung, kasihan papa sendirian disini." papar Alina.


"Wah kemana om, mall, pantai atau ke resort?" tanya Alina.


"Disini adanya kebun, dan perkebunan teh, mau gak ke kebun."


"Yah, kirain mau ke mall, lagian nih ya om. Aku udah lama banget ga ngemall. jadi pengen main ke mall."


"Yach, disini ga ada mall tuh, gimana dong." Rafka bersedekap di dada.


"Ga ah, gak jadi ikut." tolak Alina.


"Ya udah, aku balik, salam buat om Bhara." Sebelum pergi, Rafka mengelus pucuk rambut Alina.


"Iya om, makasih ya udah mau nganterin Alina." kata Alina. Rafka pun pergi dan menaiki mobil mewahnya.


***


Jakarta


Quin berdiri di depan sebuah gedung sambil meremas sebuah dokumen di tangannya, ia menyerah. Malam itu setelah terjadi perbicaraan serius dengan Bhara ia melarikan diri keluar dari rumah besar itu.


Dalam kurun waktu 7 tahun, ia berselingkuh dengan Willy. Manager serta rekan dalam pekerjaannya. justru akan berakibat melukai Putrinya satu satunya. bahkan ia di benci oleh putrinya sendiri. Demi menghindari pertengkaran, ia rela pergi dengan alasan pekerjaan yang berada di Los Angeles, meski tak memungkiri bahwa ada benarnya pekerjaan di sana nyata adanya.


Ia menghela nafas panjang, sebelum memasuki gedung tersebut.


"Quin." tiba tiba salah satu seorang perempuan memanggilnya, ia menatap wanita itu dengan seksama.


"Kau bukankah Quin itu kan, hei Aku Weni teman kamu waktu SMA masih ingat tidak?" tanya Weni tersenyum lebar.


"Weni!" kata Quin memastikan.


"Iya, kau apa kabar Quin?" tanya Weni.


"Ba..Baik, kau sekarang berubah wen, aku hampir saja tidak mengenalimu."


"hahaha..."Weni tertawa meski sudah 15 tahun tidak bertemu, tapi karakter Quin masih sama seperti yang dulu.


"Kau sedang apa disini?" tanya weni.


Quin menyimpan dokumen yang ia bawa di balik punggungnya.


"A..Aku.."


"Sudahlah, oiya aku sekarang sudah jadi pengacara loh. hari ini aku sedang mengurus salah satu klienku yang sedang bercerai. oiya aku ada janji selanjutnya nih, kapan kapan aku traktir keluar ya." kata weni menilik jam yang ada di tangan kirinya.


"i..iya wen, terima kasih." balas quin.


"bye.." Weni berjalan pergi dan memasuki mobilnya melajukan ke arah jalanan.


Quin memandang mobil itu hingga menjauh, setelah meyakinkan dirinya akhirnya ia memasuki gedung yang menjulang tinggi itu.


***