
Hari kedua, Alina pagi pagi sekali datang ke tempat Rafka, karena siang ini ia akan pergi menemui salah satu Arsitek yang akan ada janji temu. Ia segera masuk ke dalam gerbang dan berjalan santai hingga sampai pintu utama. khas senyum yang menggema mengisi ruangan kamar kevin kecil.
"Kevin, apa kamu sudah menyelesaikan tugas kamu?" tanya Rafka seraya membantu Kevin memakai dasi nya. meski kevin cemberut setiap kali ia di bantu oleh papanya memakai baju, kevin adalah anak yang selalu ingin mandiri, tapi papanya ini selalu mengatakan kalau dia masih kecil.
"Sudah pa." kata kevin, Rafka tersenyum lalu mengusap rambut kevin dengan pelan setelah memakai kan dasi.
Alina langsung masuk ke dapur, menyapa Asisten rumah tangga di sana.
"Eh nyonya?" Mbak Alisa adalah asisten yang tugasnya memasak. sedangkan Mbok siti yang sudah lama bekerja di sana tugasnya mengasuh Kevin.
"Ssstttt, jangan bilang bilang ya, oiya ini bubur buat kevin?" tanya Alina seraya melihat Mbak Alisa menyiapkan bubur.
"Iya nyah, den kevin selalu sarapan dengan bubur kalau pagi." terang Alisa.
"Ooh, biar aku saja yang membawanya." kata Alina lalu mengambil alih makanan yang di bawa alisa menuju meja makan, sambil menata meja makan terdengar Suara sepatu yang berlari mendekat. mengeluarkan tawa riang khas anak kecil.
Alina langsung tersenyum dan menyambut anak kecil itu, "Selamat pagi anak mama yang tampan." sapa Alina yang membuat anak kecil itu langsung menubruk Alina yang berjongkok menyetarakan Tinggi kevin.
"Pagi mama." saut kevin memeluk alina dan mencium pipi Alina, di belakangnya Rafka mengenakan kemeja berwarna putih dan dasi yang masih ia pegang seraya jas yang ia sampirkan di lengan kirinya.
Alina mendudukkan Kevin ke kursi yang biasa ia gunakan, lalu Alina dengan reflek meraih dasi yang di genggam Rafka lalu melilitkan Ke lehernya lalu mengikatnya. Rafka terdiam sesaat sambil menunduk melihat reaksi Alina barusan, Baru setengah simpul, Alina tersadar lalu mundur satu langkah.
"Maaf pak, saya gak sengaja." ucap Alina menunduk lalu ia merasa sangat malu akan tindakannya, ia langsung duduk di sebelah kevin seraya memukul kepalanya dengan pelan dan bibirnya komat kamit.
Rafka terdiam menatap Alina, ia kemudian melanjutkan simpul pada dasinya lalu duduk di kursi yang bersebrangan dengan kevin. Alina yang sudah kepalang basah malu, ia tak berani sedikitpun melihat Rafka.
"Kevin, mama suapin ya." kata Alina pada anak kecil di sampingnya, anak itu tersenyum senang dan membuka lebar mulutnya menerima suapan bubur dari Alina.
Dalam diam, Rafka tertunduk dan menikmati sarapannya, sikapnya masih tenang. tidak menampakkan emosi apapun.
"Pak..." di dalam perkataannya Alina sempat ragu, tapi setelah Rafka mendongak dan menatapnya, suaranya menjadi tertahan di tenggorokan, matanya yang tajam seperti elang, dan sikap yang dingin membuat Alina tak mampu mengatakan isi hatinya.
"Ada apa?" tanya Rafka, ia kemudian meletakkan kedua tangannya di dagu.
"emm ga jadi pak." ucap alina. Rafka terdiam sesaat lalu bangkit dari duduknya dan meraih jas yang ia sandarkan di sandaran kursi lalu memakainya.
"Mungkin malam ini, saya akan pulang agak malam, kau bisa temani kevin sampai saya datang." ucap Rafka sebelum pergi.
"iya pak." jawab Alina.
Sebelum pergi, Rafka mencium pipi Kevin terlebih dahulu sambil berbisik. "jangan merepotkan mama." kata Rafka, kevin mengangguk dan mengeluarkan kedua jarinya tanda oke dalam diam.
"Anak pintar," lanjut Rafka berbisik lalu mengusap kepala Kevin.
Rafka melanjutkan langkahnya keluar rumah dan mengemudikan Mobil phantom keluar gerbang. Alina melihat dari celah gorden dan tersenyum.
"Eh, kevin! sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Alina, dengan eksprwsi wajah kaku.
"Sejak mama mengintip papa." Mata Alina membelalak, lalu tersenyum kaku.
"eh, kevin tau dari mana?" kata alina lembut.
"Itu ngapain mama di sana, kalau tidak melihat papa." tiba tiba Alina merasa sangat panas di pipinya. lalu dengan cepat membungkam mulut kecil itu dengan tangan kanannya.
"Eh, jangan bilang bilang ya kalau mama melihat," kata Alina berbisik pelan, matanya mengedarkan ke seluruh ruangan, takutnya ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Ya udah yuk berangkat, sudah hampir siang." Alina melepas tangannya dari mulut kecil itu lalu menggandeng tangan kevin.
tiba di sekolah, kevin mencium Alina lalu keluar kelas dan menemui teman temannya.
Setelah mengantarkan Kevin, Alina bergegas ke sebuah restoran milik Giandra, ia langsung masuk ke dalam kantor Giandra, bocah itu pasti selalu tidur di sana.
"Ndra banguuunnn,,, woi udah siang!" ucap Alina sembari menarik selimut Giandra yang melilit tubuhnya.
"Dih al, ini masih pagi, masih ngantug." kata giandra memejamkan matanya dan memposisikan dirinya dengan nyaman.
"huh, yang kaya begini, gimana di anggap sebagai pimpinan, kaya kebo aja, woi bangunnnnn...." Alina duduk di sofa sambil membuka aplikasi ponsel.
"emm, biarin aja, aku semalam baru tidur jam 2 pagi, aku beneran ngantug." kata Giandra.
Alina kemudian terkikik tanpa suara, ia meletakkan ponselnya ditelinga. "Haloo Dew, ini nih aku di tempat giandra,...wah orangnya masih molor nih, iya putusin aja dew...."
Giandra melompat langsung menarik ponsel Alina. "Halo...halo...haloo..." Giandra melihat layar ponsel ternyata tidak ada panggilan tersambung.
"Hahahahaha...." tawa alina pecah membuat Giandra merasa di permainkan, ia kemudian duduk dan minum segelas air.
"Sialan kamu Al,!" umpat Giandra pada Alina.
"hahaha, rasain deh. takut ya kalau di putus sama Dewi." kata Alina seraya memegangi perutnya.
"Aku sama dia baru jadian, udah deh, kamu maunya apa sih dateng kesini pagi pagi, ngantug nih." ucap Giandra lalu merebahkan dirinya di atas kasur lagi.
"Aku mau kamu temani aku ke gedung, soal renovasi."
"ooh soal itu, oke." kata giandra kemudian ia melanjutkan tidurnya.
"eh, dasar kebo, udah ah, aku mau acak acak dapur kamu, lapar." ucap Alina kemudian bangkit dan keluar dari kamar Giandra.
...****************...