The Little Sunshine

The Little Sunshine
Bab 38



kalian tau, kehidupan itu kadang di bawah dan kadang berada di atas, setelah sekian lama berada di titik dipaling bawah, kita sadar bahwa kita tidak harus menyerah tetapi berusaha memperbaiki diri kita dalam keterpurukan itu, agar di masa depan kita tak akan mengulanginya lagi dan lagi.


Rafka.


#


"pak, masih di sini?" kata alina menepuk pundak rafka. alina tadi pergi ke mall menemani cavin bermain di area permainan.


rafka gugup harus memberikan penjelasan apa. untungnya ia tadi sempat membeli sesuatu di dalam mall itu.


"tidak, saya tadi habis beli ini. kalian sudah akan pulang?" tanya rafka.


"belum pak, cavin tadi meminta es krim, mungkin kami masih lama disini, bapak kalau masih ada kerjaan lain ga apa kalau bapak pergi duluan, nanti biar saya cari taksi." ucap alina tenang.


"oh, ya sudah saya titip cavin sama kamu. saya pergi." pamit rafka.


alina memandang punggung rafka hingga menjauh. alian tersenyum. "kenapa pria yang gagah seperti itu bisa di tinggalin sama istrinya, kasihan." gumamnya pelan. ia kemudian menghampiri cavin yang masih bermain lorotab di sana.


"cavin." alina melambaikan tangan kepada sang anak asuhnya. cavib membalas dengan senyum cerahnya. setelah merasa lelah, cavin menghampiri alina yang telah menunggunya.


***


Rafka duduk di kursi kebesarannya. ia menatap foto pernikahan yang ia simpan di laci mejanya. ia mengelus foto yang masih terbingkai rapi itu. pintu ruangan terketuk dari luar, ia menengkurapkan bingkai foto itu.


"masuk!" perintah rafka dari ruangannya.


tampak seorang wanita memaksa masuk, dan dihadang oleh sekertaris rafka.


"saya bilang! saya mau ketemu sama rafka!" bentak wanita itu pada sang sekertaris.


"tapi mbak!"


"ada apa kalian ribut ribut!" kata rafka menyentak pertengkaran mereka. keduanya sama sama menoleh memandang rafka. terlihat sang sekertaris menunduk.


"maaf pak, gadis ini memaksa masuk." kata sekertaris itu ketakutan.


"sudah, kau boleh pergi, tinggalkan kami berdua." ujar rafka dingin.


sekertaris itu keluar dan menutup pintu hingga rapat, ia meninggalkan bos nya itu dan wanita muda itu di dalam.


"sudah aku bilang, jangan pernah lagi menemuiku!" ucap rafka.


wanita itu kemudian bersimpuh. "aku mohon raf, jangan bersikap seperti ini, aku masih sangat mencintai kamu, tolong maafkan aku, aku selama ini hidup sengsara, ayahku kau penjarakan, dan ibuku meninggal. adikku entah pergi kemana, aku benar benar merasa terpuruk saat ini. tidak ada yang mau menerima aku bekerja di manapun." ucap wanita itu berderai air mata.


"hah, bagiku itu masih belum cukup. karena seberapa banyak kamu meminta maaf, istriku tetap meninggalkan aku, kau tau gara gara kau, dia menjadi lupa ingatan, bahkan dia cukup sengsara menanggung kesalahan kamu." ucap rafka dengan sarkas.


"apa! lupa ingatan," kata rania bertanya.


"ya, kenapa? kau kaget mendengar kalau istriku masih hidup!"


"ta~tapi...!"


rania tidak menyangka, kalau wanita yang pernah ia celakai itu ternyata masih hidup, tetapi ia lupa pada ingatannya.


"tapi apa! kau ingin mengelak lagi, kalau itu bukan perbuatanmu, aku tidak memenjarakanmu karena aku berharap kau sadar akan kesalahan kamu. sekarang kau bisa pergi." ujar rafka.


"maaf ka." hanya itu yang bisa rania katakan, ia bangkit dan keluar ruangan.


rafka bangkit dari tempat duduknya, ia berdiri tegak menghadap dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan luar yang sangat indah. ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan.


untung saja, rafka bisa menahan alina di sisinya untuk mengasuh anaknya, meski lupa ingatan dalam beberapa tahun yang lalu. dan ia akan berusaha untuk menyembuhkan ingatan alina secara perlahan.


#


Alina menggendong cavin di pelukannya, anak itu merasa lelah setelah bermain dengan puas di mall tadi. ia menidurkan cavin di ranjang yang terlihat minimalis itu, dan kamar itu juga di tata rapi dengan berbagai mainan hero yang sangat di gemari anak kecil itu.


setelah mencium kening cavin, alina bergegas turun dari kamar yang berlantai dua itu. saat melewati ruang tengah, masih ada rafka yang tengah duduk di sofa dan menyalakan televisi.


"alina!" rafka memanggilnya dengan suara rendah.


"loh, pak masih belum tidur?" tanya alina yang mendekat ke sofa.


"maukah kau menikah dengan ku?" tanya rafka.


alina menghentikan langkahnya, ia syok dengan perkataan rafka barusan. rafka membalikkan kepalanya dari arah televisi yang menyala ke tempat alina berdiri diam tak jauh dari sofa.


"maukah kau menikah denganku?" ulang rafka.


alina mengerjap mata, ia tak mungkin salah dengar kan?


"kenapa kamu diam?" tanya rafka menatap alina. ia bahkan sudah memikirkan ini setelah satu minggu terakhir sejak ia melihat alina yang selalu kesulitan dalam apapun.


"hahaha, bapak ngomong apa sih?" sebisa mungkin ia menetralkan keterkejutannya.


"aku serius!" kata rafka datar.


alina menghentikan tawanya, menatap rafka melalui kornea matanya, ia mencari kebohongan di sana, tapi ia tak menemukannya. di dalam pancaran matanya yang kelam terdapat luka yang telah lama ia simpan. dulu ia pernah diusir oleh ibu rafka, apalagi ini adalah pernikahan yang sakral yang tak bisa ia buat permainan, jika ia tak kuat dengan perlakuan ibu rafka, apa yang akan ia lakukan, mungkin kalau itu ayah rafka, ia bisa menerimanya, apalagi selama ini ia bergantung dengan uang pemberian ayah rafka.


rafka merangkul pinggang alina, lama alina terdiam. kemudian ia reflek mendorong dada rafka.


"ga bisa." kata alina.


rafka menatap alina dengan perasaan bersalah, andai saja ia waktu itu tidak menuruti perkataan ibunya, maka keadaannya tidak akan seperti ini. ia pasti sudah selalu melindungi alina.


alina segera berlari keluar rumah mewah rafka, hatinya sudah tak karuan, sikapnya yang lembut membuat pertahanan alina menjadi goyah, apalagi dia melamarnya dengan mendadak, ia masih trauma.


"papa!" cavin sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. ia menghampiri rafka yang sudah duduk di kursi ruang makan.


"em cavin," rafka mencium kening cavin begitu anak kecil itu berlari ke arahnya.


"cavin mau makan sandwich aja pa." kata cavin menyodorkan piringnya. rafka yang tadinya akan menyentongkan nasi goreng meletakkan kembali ke meja.


ia kemudian memberikan potongan sandwich ke atas piring putranya.


sampai ia mengantarkan putranya ke sekolah, seakan ia tidak memiliki semangat dalam hidup, ia seringkali melamun dalam melakukan pertemuan dengan para stafnya.


...----------------...