
Rafka menatap lurus gedung gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di depannya melalui kaca jendela ruang kantornya. tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.
Tok tok
Aileen memasuki ruang kantor Rafka, lalu berdiri di balik punggung rafka.
"Pak, siang ini anda akan melakukan rapat dengan klien dari perusahaan Sanjaya Group."Ucap Ailen.
"Hem, siapkan berkasnya." Balas Rafka.
"Baik." Sahut Ailen kemudian berbalik meninggalkan ruangan dan ak lupa menutup pintu kembali.
Rafka berbalik lalu meraih jas yang ia sampirkan di sandaran kursi. Rafka keluar dari ruang kantornya di depan pintu Ailen sudah menyambutnya kemudian mengikuti langkah rafka hingga memasuki ruang aula tempat mereka melakukan meeting dengan klient.
Hampir dua jam lamanya mereka melakukan pembahasan-pembahasan penting. Namun selalu saja Rafka tidak fokus dengan meetingnya kali ini sehingga wakil dari perusahaan Sanjaya Group mengulangi proposalnya berkali kali.
"Pak." Sebuah tepukan di lengan Rafka membuatnya mengalihkan pandangannya dari layar laptop menuju ke arah Ailen yang sedang menatapnya.
"Ya," sahut Rafka.
"Ah ya maaf pak Dilan, kita lebih baik langsung penandatangan saja." Sahut Aileen menyela.
"Baiklah." Sahut Pak Dilan menaikkan sudut bibirnya.
Setelah penandatangan mereka berakhir, Pak Dilan memohon pamit menjabat tangan satu persatu dengan Ailen dan Rafka.
"Terima kasih pak, atas kerja samanya." Sahut Pak Dilan.
Aileen mengangguk.
Setelah kepergian Dilan dari ruangan Aula, Aileen menatap bos sekaligus sahabatnya itu dengan dahi berkerut. Selama 10 tahun bekerja dengan Rafka tidak pernah sekalipun Rafka mengabaikan meeting sekalipun ataupun meninggalkannya meskipun itu masalah sepele. tapi sikapnya kali ini membuat Ailen merasa kecewa.
"Raf, Lo udah lama bekerja, kenapa lo abaikan meeting kali ini. Lo taukan kerugian yang bakalan kita tanggung jika masalah seperti ini lo gak bisa tangani."Ailen mengungkapkan kekesalannya, dan bernicara tal formal layaknya sahabat.
Rafka tidak menghiraukan lontaran Ailen,
"Raf, lo masih hidup kan. Lo denger kan kata gue." Ucap Ailen. tampak Ailen menghembuskan nafas lelahnya.
"Percuma gue bicara sama lo." sambut Ailen lagi, Ailen kemudian bangkit dari kursinya, bersiap keluar ruangan.
"Alina meminta cerai Len." Celetuk Rafka.
Ailen menghentikan langkahnya sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu.
"Alina menginginkan Cerai Len, apa yang harus gue lakuin. gue bener bener payah menjadi seorang pria. Dan aku juga payah menjadi papa." Rafka menundukkan pandangannya. menyandarkan dagunya di atas kedua tangannya yang ia tautkan di atas meja.
Ailen menatap sahabatnya itu dengan iba. Kali ini sahabatnya itu merasa sangat terpuruk.
"Gue yakin Raf, lo pasti bisa hadapi semua ini." Ailen kembali duduk dan mengelus punggung Rafka.
Rafka semakin menunduk, Ailen masih setia mengelus punggung sahabatnya itu agar bisa lebih tenang. Dan itu, seperti orang yang sedang berciuman jika terlihat dari samping, karena jarak kepala Ailen sangat dekat dengan wajah Rafka.
"Pak!" Siska salah satu stafnya, nyelonong masuk saat ia di perintahkan meminta tanda tangan Rafka, karna mereka harus segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum akhir bulan. tapi ia terkejut tatkala ia melihat pandangan yang seharusnya tidak ia lihat malah ia lihat, Siska kembali keluar lalu menutup pintu sembari mengelus dadanya.
"Loh, Sis. Kok gak masuk. Ayo buruan, Kalau kita tidak segera minta tanda tangan pak Rafka. Kita akan deadline lagi." Seloroh Vera yang berada di belakang Siska.
"Gue gak berani, lo aja yang masuk." Siska mundur. memberikan ruang kepada Vera agar dia saja yang masuk meminta tanda tangan.
"Astaga!" Seru Vera dengan suara keras, membuat Ailen dan Rafka sama sama menoleh ke arah sumber suara.
Vera segera menutup pintu kembali, lalu menarik tangan Siska agar segera meninggalkan lantai 43 itu. Ailen mengecek siapa staf yang berani berbicara keras seperti tadi. tetapi Siska dan Vera sudah menghilang di belokan lorong.
"Ya, ampun. gak nyangka kalau pak CEO kita seleranya seperti itu. pantas saja pak Rafka tidak berhembus kabar dengan wanita manapun." Heboh Vera saat berada di ruangan divisinya.
Kemudian rekannya yang berada di sana mengarahkan pandangannya ke arah Vera yang terus berbicara heboh seperti itu lalu ikut nimbrung dalam acara gosip menggosip.
Berita itu dengan cepat langsung menyebar seanterio perusahaan.
Rafka memijit pelipisnya karena sudah seharian ini menatap layar laptop. Penat yang ia rasakan menambah rasa lelah di tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Ini apa!" tanya Rafka dengan mata yang mengarah pada layar ipad milik ailen.
"Berita kalau kamu adalah gay." sahut Ailen lalu duduk di kursi yang biasa di tempati oleh karyawannya itu.
"Ckckck murahan sekali." sahut Rafka mencibir.
"Hem, kau bisa gunakan berita itu."
"Hah." Rafka menatap ailen dengan wajah terkejut.
"Gila, aku bukan gay seperti yang mereka bicarakan." sahut Rafka.
"Maksudku, kau bisa menggunakan berita itu. Agar Istrimu percaya kalau kau selama ini selalu setia menanti kedatangannya. Bukan percaya dengan berita palsu sejak enam tahun lalu." kata Ailen menjelaskan.
Rafka mengerti lalu pandangannya menerawang jauh dan menimang saran yang di ajukan Ailen.
"Bagus Len, Baiklah, hari sudah malam. Aku akan pulang dan membuat rencana." Sahut Rafka.
Rafka bangkit dari kursi kebesarannya seraya mengenakan jas di sandaran kursi, Rafka mendekati Ailen lalu menepuk bahu Ailen pelan.
"Terima kasih, sudah menyelamatkan pernikahanku." Ucap Rafka.
Ailen mengangguk. Rafka meninggalkan ruang kantornya diikuti Ailen di belakangnya.
Selama perjalan ke rumahnya, Rafka memikirkan cara agar Alina akan terus berada di sisinya.
Rafka memasuki rumah mewahnya dengan bersiul.
"Papa!" Lirih Cavin dari bawah tangga. Rafka melirik Cavin yang masih berdiri kokoh di sana, lalu menghampiri.
"Mama di mana?" tanya Rafka berbisik.
Cavin mengarahkan jari telunjuknya ke arah dapur. Rafka menyungkinkan senyuman. Mengelus pucuk rambut Cavin. kemudian berbalik menuju ke arah dapur.
"Al." Rafka meletakkan ponselnya di samping lalu memeluk Alina dari belakang. membuat Alina merasa tak nyaman saat sedang mencuci piring.
"Ih, apaan sih, sana pergi. aku gak mau di peluk sama oranv pria macam kamu." kesal Alina.
Namun Rafka tetep kekeh memeluk Alina dan tak sedikitpun mau melepaskan.
Saat Alina akan membalik, ia tak sengaja menyenggol ponsel rafka hingga membentur lantai.
"Aw, Awas Rafka. Ponsel kamu jatuh." Sahut Alina melepaskan pelukan Rafka lalu berjongkok mengambil ponsel rafka.
Alina meneliti ponsel Rafka jika saja ada yang rusak. Saat layar ponsel menyala, ia terkejut sat tak sengaja membaca berita yang sedanh hot di bicarakan berada di laman paling atas.
Rafka menaikkan sudut bibirnya, menunggu reaksi Alina.
"Rafz kamu gila ya, kamu menyukai sesama jenis. hhahaha...."Ini sangat lucu bagi Alina. Baru pertama kali ia mendapatkan berita yang membuatnya ingin tertawa.
"Kenapa kamu tertawa, apa ada yang lucu." tanya Rafka setenang mungkin.
"Ini...." Alina memperlihatkan ponsel Rafka dengan layar masih berada di dalam laman.
"Oh soal itu. Apa itu sangat lucu." Sahut Rafka. Ia kemudian beralih duduk di ruang makan sambil meminum segelas air putih.
"Iya, ini lucu sekali. Bisa bisanya seorang Pengusaha muda menjalin hubungan dengan sesama jenis. hahahaha....tidak aku bayangkan bagaimana reaksi paman fandi jika mengetahui ini..." Alina ikut duduk di samping Rafka dan masih menyekrol laman ke atas bawah.
"Ya biarkan saja, yang pasti aku tidak seperti yang mereka pikirkan, kenyataannya aku memiliki istri yang cantik dan mempunyai anak yang sepertiku." sahut Rafka percaya diri.
"Idih narsis." Sahut Alina.
Rafka tertawa, membuat Alina merasa kesal.
"Bagus Rafka ini langkah pertama. lihat saja Alina, kau pasti akan berada dalam genggamanku." Batin Rafka yang memandang punghung Alina menjauh.
...****************...