
Di Cafe yang tak jauh dari kantor, Rafka duduk berdua bersama Aileen yang tak lain sahabatnya yang juga merangkap sebagai asistennya. Keduanya menikmati secangkir kopi mocachino favorit yang selalu mereka pesan.
"Jadi...kau menyukai gadis yang belum genap 17 tahun itu Raf, ckckck kau itu Pedofil." Aileen tak bisa menahan tawanya setelah mengatakan hal itu.
Rafka tersenyum tipis ketika mengingat Alina pertama kalinya datang kesana setelah bertahun tahun.
"Kau itu belum pernah merasakan jatuh cinta, makanya kau tidak pernah tau rasanya kan." Aileen menghentikan tawanya.
"Ya, ini gara gara kau yang harus membuatku bekerja 24 jam untukmu, masih bisa cari pacar?" Aileen cemberut dan menyesap kopi miliknya.
Dering telpon ponsel Rafka berdering, ia segera mengeluarkan ponsel yang ia simpan di saku celana bahannya.
"Ya, baik aku akan kesana." tut tut.
Rafka segera menyimpan ponsel dan meneguk kopi hingga tandas.
"Aku ada urusan, kau yang bayar ya, ini sebagai bayaran karena kau telah memujiku." kata Rafka meletakkan cangkir kopi miliknya, dan tersenyum puas. ia menyampirkan jas hitamnya pada tangan kanannya meninggalkan Aileen yang hampir menangis.
"Dasar pedofil." umpat kesal Aileen pada bosnya yang sudah menjauh.
Ia meratapi isi dompetnya, andaikan ia yang jadi bos maka nasibnya tidak akan pernah seperti ini. bos sialan !
#
Rafka mengendarai mobil mewahnya menuju sekolah Alina. Ia bergegas menghampiri Alina yang berjalan lemah di samping kanan dan kirinya di papah Giandra dan Kevin.
"Alina!" Ia mendongak menatap Rafka yang tinggi. ia mendengus kesal karena Rafka selalu datang di saat ia tidak ingin, tapi ia terlanjur menelponnya.
"Pak," Sapa Giandra sedangkan kevin mengerutkan dahi.
Rafka menarik tubuh Alina di sampingnya, "Terima kasih sudah membantu Alina, kau berdua bisa kembali, biar aku saja yang mengantarkan dia pulang."
"Ooh, baiklah, aku merasa lega." jawab Giandra patuh.
Alina di bawa masuk kedalam mobil, Hingga mobil berjalan jauh, giandra dan Kevin masih tetap di sana memandang mobil mewah itu.
"Siapa orang itu Dra, yang aku tau Alina tidak memiliki kakak lelaki?" tanya Kevin.
"Mana aku tau, sepertinya bukan bapaknya dan juga Alina tidak menolak ketika pria itu menggandengnya."
"Atau jangan jangan...!" Giandra memukul bahu Kevin hingga meringis.
"Kau jangan berpikir aneh aneh," potong Giandra cepat.
"Sakit tau Dra." ringis Kevin yang ditinggalkan Giandra masuk mengambil mobilnya di parkiran dan kevin berlari mengejarnya.
***
Mobil mewah yang di kendarai Rafka memasuki pekarangan yang luas, dan berhenti de depan pintu utama.
"Makasih om." Alina melepas sabuk pengaman dan akan turun dari mobil, namun di cegah oleh Rafka.
"Kau ada masalah apa di sekolah?" tanya Rafka.
"Tidak ada!" Alina melepas cekalan tangan rafka dan turun dari mobil.
Rafka yang dapat melihat diri Quin, langsung ikut keluar dari mobil, menghampiri Alina berdiri diam, seakan ingin menolak, rindu bercampur menjadi satu, tapi hatinya terlalu kuat menolak orang di depannya.
"Alina." panggil Quin merentangkan kedua tangannya, matanya nampak berkaca kaca.
Rafka memegang bahu Alina, sehingga Alina menolehkan kepala kepada Rafka, mata Alina hampir saja meneteskan air mata yang ia tahan. Rafka mengangguk.
"Dia ibumu, kau tidak perlu membencinya karena ayahmu, dia yang melahirkanmu." Bisik rafka tepat di telinganya.
Alina dengan perlahan berjalan mendekati Quin yang tampak menangis, Hingga di hadapan Quin langsung memeluknya erat, sejak hari dimana ia harus meninggalkan putrinya demi sebuah pekerjaan akhirnya bisa melihatnya.
"Alina, mama rindu." Quin tidak bisa lagi menahan kerinduannya terus mendekap tubuh putrinya dengan erat. "Maafkan mama sayang, mama..."Quin tidak bisa melanjutkan kata katanya, Alina sudah melepas pelukannya dan berjalan masuk.
Quin hanya bisa menatap punggung Alina yang berjalan masuk, Rafka masih di sana yang juga ikut memandang punggung Alina.
"Tante."
Quin menyeka air matanya, dan mengalihkan pandangannya kepada Rafka. lalu tersenyum.
"Rafka, kau sudah semakin dewasa, apa kabar Raf?" Sambil berkata Quin masih terus menahan air matanya.
#
Keduanya sudah duduk di sofa yang berada di ruang tamu, dua cangkir teh telah tersedia di depan keduanya. Quin masih menatap anak tangga menuju kamar putrinya, tatapannya lurus dan kosong.
"Tante,!" Quin kembali menatap Rafka dan tersenyum.
"Aku yang bersalah Raf, demi kerjaan aku rela meninggalkan Bhara dan putriku, aku tidak tau lagi yang harus aku lakukan waktu itu selain kerjaan, karena ini adalah cita citaku sedari kecil, aku tidak tau sampai putriku membenciku seperti ini." Quin meneteskan air mata yang ia tahan, dalam kenyataannya Alina tidak lagi menampakkan dirinya.
"Tante, 5 tahun adalah waktu yang lama, Aku yakin jika tante terus menerus bisa membujuk Alina, cepat atau lambat ia akan seperti dulu. Dia sekarang berbeda dengan yang dulu, dia sedikit pemberontak tapi hatinya sangatlah lembut."
Di lain tempat, Alina mengguyur tubuhnya di bawah shower, seragam yang ia kenakan basah kuyub, ia duduk meringkuk di bawah air yang terus mengucur dirinya, air matanya merembes di atas pipinya yang putih bersama air shower.
Selama 5 tahun adalah masa masanya ia beranjak remaja, di saat seperti itulah ia memerlukan mamanya, ia ingin sekali bercerita sepanjang yang ia mau, kasih sayang yang dia inginkan, seperti tan temannya yang selalu di dampingi oleh ibu mereka, dan di saat saat terakhir dalam acara wisuda yang mana semua teman temannya di dampingi kedua orang tuanya, sedangkan ia sendiri harus berdiri seperti orang bodoh yang hanya di temani oleh kedua asisten rumah tangganya, dan menjadi cemoohan semua orang.
Dia adalah siswa peringkat pertama tapi dalam kenyataannya ia bahkan bukan prioritas pertama, ia menangis sesenggukan dan meratapi tahun tahun yang hilang.
Rafka mengetuk pintu kamar Alina, tapi dari dalam tidak ada respon, Ia pun langsung masuk dan mencari keberadaan Alina hingga terakhir memasuki kamar mandi.
"Alina."
Rafka mematikan shower yang menyala, memberikan handuk untuk menghangatkan tubuhnya, ia segera mengangkat tubuh alina keluar dari kamar mandi.
Pandangan Alina kosong, Rafka memanggil Mbok jah untuk membantu menggantikan baju alina dengan piyama. setelah selesai ia mendekap tubuh alina. Alina pun membalas dekapan rafka bahkan lebih erat dari sebelumnya, hingga akhirnya ia tertidur di pelukan Rafka.
Bhara yang mengetahui bahwa istrinya pulang, ia terburu buru terbang dari singapura ke Indonesia. ia mengendarai mobil mewahnya memasuki pekarangan rumah, ia tak bisa membayangkan, terakhir bertemu adalah dua tahun lalu ketika Quin mendapatkan penghargaan di singapura.
"Quin...!!" Quin mendengar suara ini tidaklah asing baginya, ia menoleh dan menatapi Bhara berdiri di depan pintu.
Bhara mendekati quin dan merengkuhnya, kerinduannya tak bisa lagi ia tahan, ia mengecup pucuk rambut Quin berkali kali.
"Aku sangat merindukanmu quin." kata Bhara dengan suara parau.
***