
Di malam yang kelam, Alina berada di balkon rumah Rafka, Alina seperti biasa, seusai makan ia langsung masuk kedalam kamar yang dikhususkan untuknya, memang tak semewah miliknya yang berada di kota jakarta, tapi setidaknya itu masih terbilang nyaman dan terhindar dari bisingnya kendaraan yang lewat.
"Melihat apa?!" seseorang berdiri di belakang Alina seraya menengguk air putih pada botol yang ia bawa.
Alina terkejut dan menatap pria itu sekilas dan kembali fokus pada langit malam yang gelap.
"Bintang." jawab Alina singkat.
"Sudah malam, ayo masuk nanti kau masuk angin, gak baik angin malam seperti ini untuk kesehatan." Alina memandang Rafka datar.
"Kau selalu saja menggangguku, apa kau tidak punya kerjaan lain selain mengganggu orang!" ketus alina yang mulai sebal pada pria tersebut.
"Ada."
"Yasudah, sana pergi.!" usir Alina dan kembali memandang ke arah luar yang gelap.
Rafka tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, ia mendekat dan mengangkat tubuh alina bak karung beras, membuat si gadis belia ini merasakan sakit kepala karena posisi kepala berada di bawah.
"Rafka...turunin, ah..." teriak Alina terkejut yang tiba tiba saja tubuhnya melayang.
"Enggak, sebelum kau sampai di dalam kamar baru aku turunin." kata Rafka yang tidak mau menurunkan tubuh Alina.
Meski Alina memberontak, Rafka semakin semangat untuk terus mengangkatnya bahkan berputar putar sampai pusing.
Rafka menurunkan tubuh Alina ketika Alina sudah tidak merespon apapun, ia merebahkan tubuh alina di atas kasur dan menyelimuti Sebatas dada.
"Sudah larut, tidurlah, aku tau semalam kau tidur di dalam mobil dan itu membuat tubuhmu merasa sakit, selagi di sini kau istirahatlah dengan benar.!" kata Rafka sebelum beranjak dari sisi ranjang Alina.
"Selamat malam." kata Alina yang memang kepalanya berdenyut nyeri.
Rafka mengusap pucuk rambut Alina, hampir saja Rafka terpancing oleh bibir ranum milik Alina, dan di dalam hatinya yang dalam mencoba untuk sadar akan pikiran itu.
"Selamat malam." Rafka beranjak dan keluar dari kamar Alina. setelah mematikan lampu yang terang dan menghidupkan lampu yang redup sebagai penerangan malam.
***
"Om! om belum tidur?" tanya Rafka menghampiri Bhara yang tengah berdiri menatapnya.
Bhara menggelengkan kepalanya, lalu duduk di sofa diikuti Rafka.
"Om belum bisa tidur, bagaimana dengan Alina."
"Sudah tidur." jawab Rafka datar.
"Hm, cuma kau lah satu satunya orang yang bisa om percaya untuk menjaganya, terima kasih Ka."
"sama sama om, oiya, Rafka ada janji di luar, maaf om harus Rafka tinggal." kata Rafka melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
Bhara mengangguk dan menepuk bahu kanan Rafka.
Rafka beranjak dan keluar dari rumah. Sedangkan Bhara melihat ke lantai dua dimana kamar Alina yang tampak dari tangga tertutup rapat.
***
Di sebuah kamar hotel Los Angeles.
Seorang wanita tengah berbalut piyama tipis dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sexy. Aleta Quinbe yang sering di sapa dengan nama Quin. seorang model internasional dari indonesia, bukan hanya wajahnya yang masih cantik namun kulitnya yang bersih dan kencang sehingga ia terlihat seperti gadis remaja yang baru saja beranjak dewasa.
Quin menyapukan bedak tipis di wajahnya, seorang pria memeluknya dari belakang, melalui pantulan kaca riasnya, wanita itu tengah tersenyum menatap pria di belakangnya. Pria itu menciumi bahu nan mulus dan putih Milik Quin.
"Sayang, kapan kau akan bercerai dengan suamimu?" tanya willi yang menghirup aroma Vanila di tubuh quin dan itu membuatnya mabuk setiap kali berdekatan dengan wanita itu.
Quin tersenyum hangat dan meletakkan bedak di atas meja, ia membalikkan badannya, dan kini keduanya saling berhadapan satu sama lain, tangannya yang ia lingkarkan di leher Willi dengan erat.
"Aku belum tau." Quin dengan menja mengusap jarinya ke arah hidung mancung milik willi.
"Uh menggemaskan, aku tidak tahan." Willi menghujani ciuman bertubi tubi di bibir Quin, sehingga quin mendesah panjang, membuat willi bersemangat untuk melakukan hal lebih padanya.
***