The Little Sunshine

The Little Sunshine
Bab 46



Pagi menjelang. Alina terlebih dulu bangun. segera membersihkan diri dan sekalian berganti dengan pakaian rapi bersiap berangkat ke butik.


Sedangkan Rafka sudah bangun sejak Alina berada di kamar mandi.


"Pagi." Sapa Rafka saat tau ada yang datang dari arah tangga. Alina mengambil duduk yang berada di depan Rafka.


Rafka memberikan roti isi ke depan Alina serta susu hangat.


"Kenapa kamu baik banget si Raf, Aku benci kamu yang seperti ini." Ucap Alina menatap Rafka yang tersenyum ke arahnya.


"Kalau begitu kamu tak perlu hiraukan kebaikan aku sama kamu." balas Rafka kembali duduk di depan Alina. Mengambil cangkir kopi dan menyesapnya.


"Kamu kapan pulang ke rumah kamu, sejak semalam kamu tidur di sini, aku gak nyaman kalau kamu disini terus." lanjut Alina.


"Aku nggak akan pulang kalau kamu juga gak mau pulang, atau aku akan pindahkan barangku ke sini." jawab Rafka.


"Berhenti mengikuti ku!"


"Enggak bisa! Kamu secara status udah istri aku." Jawab Rafka.


"Kalau begitu aku ingin cerai."


"Tidak boleh!"


"Kenapa?"


"Kau itu ibu dari anakku? mana mungkin aku membiarkanmu bercerai."


"Tapi aku nggak mau sama kamu!"


Rafka menatap manik Alina yang tersulut api kemarahan. "Berikan saya alasannya?" Jawab Rafka dengan bahasa formal.


"Ka--karna. Aku sudah punya pacar." Ucap Alina akhirnya setelah lama berpikir.


"Max?"


"I--iya!" jawab tegas Alina.


"Kamu harus putus sama pacar kamu!"


"Itu nggak mungkin."


"Kalau begitu. Atur waktu pertemuan, Aku ingin bertemu dengannya." Balas Rafka yang kemudian ia bangkit dari tempat duduknya.


Alina menekuk wajahnya, menyesal mengatakan hal ambigu pada Rafka. Sudah tau Rafka adalah orang yang tidak mau mnyerah. Ia duduk tercenung memikirkan bagaimana ia akan menghadapi Soal ini. Ah, dia akan pergi ke tempat Giandra atau Kevin, mungkin mereka bisa membantu dirinya.


Alina mengenakan tas di bahu kirinya, dan bersiap pergi ke butik.


"Oi, ngelamun aja!" Suara seorang lelaki membuyarkan lamunannya. Giandra berdiri di ambang pintu dengan bersidekap di dada.


"Giandra! sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Alina. "Masuk ndra." perintah Alina.


"Hampir 3 menit aku berdiri di sana. Lagi mikirin apa kamu?" tanya Giandra, masuk ke ruangan Alina lalu duduk di kursi di hadapan Alina yang biasa di duduki karyawannya.


"Ergh--Enggak ada kok."Kepala Alina kembali menunduk melanjutkan gambar yang tertunda.


"Ini bukan Alina-ku." Tangan Ginadra menutup lembaran dengan tangan kanannya. Tubuhnya sedikit mencondong ke depan menatap Alina serius.


Alina mendesah, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang ia duduki. mengaitkan jari jemarinya, menimang apa yang ingin ia katakan.


"Entahlah, aku harus jujur atau bohong."


"Sudah aku duga, kau itu tidak pandai berbohong. Ayo katakan! apa yang sedang kamu pikirkan?" Kata Giandra memaksa.


"Em, Sepertinya aku pernah dengar dengan nama itu?"


Alina menjentikkan jarinya.


"Pengusaha Teh, masih ingat?"


"Eh! Rafka yang itu." Giandra tampak manggut-manggut. "Jangan bilang kamu suka dengannya!" Kini tatapan Giandra tertuju ke manik mata Alina.


"Kamu menatapku seperti itu." Kata Alina bergidik saat Giandra menatapnya tajam.


"Katakan! ada apa dengannya. Jangan main-main sama Si gunung es itu. Rumornya sudah beredar luas seanterio kota ini."


"Bukan! Bukan! Aku tidak--"


"Aku tidak mau punya ipar seperti dia." Kata Giandra memotong ucapan Alina.


"Em, soal itu---"


"Jadi benar, kalau kau memang punya hubungan dengannya? kata Giandra memastikan.


"Hehe." Cengir Alina mengangguk."


"Kau--"


Alina menarik tangan giandra yang ia letakkan di atas meja. Giandra melirik tangan yang ditahan Alina. Alina memasang wajah memelas yang membuat Ginadra menghela nafas panjang.


"Huft!"


"Aku bahkan sudah menikah dengannya." Cengirnya lagi lalu menatap cincin pernikahan di tangan kanannya.


"APA!" teriak gindra. terkejut dengan apa yang di katakan Alina. Itu sungguh di luar dugaannya.


Giandra mengelus dadanya, memcoba menormalkan pernafasannya yang sempat naik turun.


Alina memasang wajah memelas, sehingga Giandra harus menahan amarahnya.


"Please!"


"Sudahlah! Apa yang kamu inginkan." kata giandra akhirnya menyerah.


Alina tersenyum memperlihatkan giginya yang putih.


"Aku ingin kamu bantu aku akting di depan Rafka, kalau kamu pacar aku."


"Ih, ogah!" tolak Giandra cepat.


"Ayolah ndra, sekali aja. Ntar gaun pengantin kamu. aku kasih gratis, tanpa sepeserpun uang muka. gimana?" Kata Alina.


Giandra menepuk-nepuk dagunya dengan jari telunjuknya, menimang permintaan Alina barusan.


"Oke, cuma kali ini saja." Kata giandra menyanggupi.


"Makasih dra, kamu emang temen aku yang paling the best." ucap Alina dengan binar bahagia.


"Umm, udah-udah. Aku jadi lapar karena udah bikin jantung aku de javu. Kamu udah makan siang belum?"


"Belum, ya udah ayo makan, aku traktir." Alina dan Giandra keluar dari ruangan lalu melajukan mobil giandra menuju salah satu restoran yang berada di ujung jalan.


...****************...