
Satu minggu berlalu, Acara tahlilan yang di gelar telah usai, Alina duduk terdiam di dalam kamar-nya, air matanya masih saja terus mengalir, bibirnya seakan tertutup rapat, bencana sering kali menerpa dirinya, ia tak habis pikir, setelah di tinggal ibunya, ia justru harus kehilangan papa untuk selama-lamanya, padahal baru sebentar ia merasakan kebersamaan bersama ayahnya.
Ya Tuhan, cobaan apalagi yang Engkau berikan padaku. Alina menangis pilu, dadanya bahkan terasa sesak. di ujung pintu yang belum tertutup rapat, mbok jah dapat melihat Anak majikannya terdiam membisu, ia tak bisa lagi menahan kepedihan yang tengah di rasakan majikannya itu, Mbok jah mengusap air matanya yang menetes di pipinya dalam diam.
***
6 Tahun kemudian
"Iya paman, Aku Akan melakukan perjalanan malam, jadi akan sampai jakarta sebelum petang, iya paman, bye." Alina menutup telponnya, ia melengkungkan senyum di wajahnya tanda kebahagiaan, akhirnya 5 tahun berada di negara orang ia bisa kembali.
Alina bergegas mengemasi barang barang-nya, ia sudah tak sabar ingin cepat sampai di Indonesia. Ia kini berada di belahan bumi yang berbeda, lebih tepatnya kota London, ia mengenyam pendidikan di sana selama kurang lebih 5 tahun.
Alina yang dulu beda dengan Alina yang sekarang semakin cantik dan lebih Dewasa. ia segera mencegat taksi yang lewat.
Selama perjalanan menuju bandara, ia menelpon Casandra dan Kristy, untuk sekedar berpamitan. sampai di bandara ia langsung cek in.
15 jam kemudian
Alina turun dari pesawat, wajahnya tersenyum sumpringah, ternyata berada di luar negeri selama 5 tahun tiada yang berubah sama sekali hanya saja arsitektur bentuk bangunannya hanya berganti cat saja.
Ia sudah tak sabar untuk sampai ke rumah. Ia segera mencegat taksi yang lewat di sekitaran sana, tak membutuhkan waktu lama, ada sebuah taksi yang berhenti tepat di depannya, sopir taksi itu keluar dan membantu memasukkan koper ke dalam bagasi, sedangkan Alina sendiri masuk ke kursi penumpang.
Selama perjalanan menuju rumah, tiada henti hentinya ia tersenyum, ternyata keadaan di sana masih sama.
"Halo paman, iya paman, Alina masih dalam perjalanan, iya paman terima kasih." Alina menyimpan telpon genggamnya. Alina memilih hidup di jakarta dari pada kembali ke bandung, namun tidak pulang ke rumah besar tempo dulu, ia membeli rumah sendiri di kawasan perumahan elit. Ia membeli rumah itu, dengan tabungan yang tersisa dari pemberian Ayahnya tempo dulu. meski tak semewah rumah besarnya, tapi itu cukup nyaman untuk ia tinggali.
Mobil taksi memasuki sebuah pekarangan rumah, setelah sopir taksi itu sudah menghilang, ia menyeret koper miliknya dan masuk kedalam.
Ia membuka pintu, yang terlihat pertama adalah ruang tamu dengan dekorasi yang minimalis, dan di sana terpampang fotonya dengan figura yang sangat besar.
"Paman, terima kasih atas semua ini. kau seperti papa selalu memberikanku yang terbaik." gumamnya pelan.
Terlihat bahwa Fandi telah mendekor ruangan itu dengan baik, dan semua itu, keluarganya tidak ada yang tau, mata alina nampak berkaca kaca, betapa ia sangat merindukan papa-nya. kemudian ia segera masuk dan menaiki tangga seraya membawa koper miliknya, untuk hari ini ia merasa sangat lelah setelah melakukan perjalanan selama 15 jam di pesawat, sebelum membersihkan rumah, ia ingin sekali terlelap untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya.
***