
Alina sedang menyesap kopi di salah satu restoran milik giandra, wanita itu fokus pada laptop sambil merancang gaun.
"Al, udah lama?" seorang pria duduk di depannya meletakkan cangkir yang berisi Moccachino di depannya.
"Hm, baru aja." balas Alina tanpa menatap pria di depannya.
"lagi apa sih sibuk amat?" tanya giandra yang melihat alina sibuk dengan laptopnya.
"Lagi buat sketsa gaun." jawab alina. pria itu langsung beralih ke kursi yang berada di samping alina dan memindahkannya lebih dekat, ia meneliti sketsa yang sedang di gambar alina.
"wow, keren Al, kamu sekarang jadi desaigner?" tanya giandra kagum pada keahlian yang dimiliki Alina.
"Hm, aku tuh suka banget fashion show, jadi selama di London aku sering mengikuti acara fashion di sana, dan setelah itu aku berpikir untuk menjadi desaigner." papar alina.
"Wow hebat."
Tiba tiba seorang anak kecil datang menghampiri kedua orang yang sedang mengobrol, "MAMA!"
Seketika, kedua nya menoleh ke arah anak lelaki yang berdiri di depannya, mata giandra hampir saja jatuh dari tempatnya, ia kaget dan sekaligus terkejut.
Alina memandang anak lelaki kecil itu dengan wajah mengerut, lalu beralih Pada Giandra yang kebingungan.
"Hei anak kecil, siapa mama kamu?" tanya giandra kepada anak lelaki itu.
"mama." kata anak itu dan menunjuk ke arah Alina yang juga menatapnya. Giandra menatap Alina dengan pandangan bertanya sedangkan Alina tersenyum ke arah Giandra, ia kemudian menghampiri Anak itu dan berdiri menyeterai tinggi anak itu.
"Kevin, kamu sama siapa sayang? kok kamu sendirian?" tanya alina lembut dan tersenyum sambil mengelus pipi tembem anak lelaki itu.
"sama mbok siti, mama, siapa lelaki itu?" kata Kevin dengan nada tak suka melotot marah pada giandra.
Giandra menatap lelaki kecil itu dengan heran, "Al, apa kamu di London mempunyai anak di sana? kenapa kau tidak memberi tahuku kalau kau sudah menikah dan mempunyai anak setampan ini, kan aku bisa datang memberi ucapan." ucap Giandra.
Alina melotot ke arah giandra dengan kesal, kemudian menatap anak lelaki itu dengan tersenyum, giandra semakin bingung lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"sayang kevin, lalu di mana mbok Siti, ayo mama antar, kasihan mbok siti nanti cariin." ucap Alina.
"Tidak mau, aku ingin sama mama." ucap Kevin bersikeras kemudian menatap giandra dingin.
'Duh anak ini, kenapa begitu menakutkan.' Batin giandra kemudian mengalihkan padangan ke arah lain. berpura pura tidak melihatnya. ia menjadi serba salah dan bingung sendiri.
Alina mengikuti arah pandang Anak kecil itu, kemudian kembali menatapnya, ia mengajaknya duduk di kursi.
"Kevin, udah makan belum, apa mau makan sama mama nanti setelah selesai kita ke mbok siti ya, kasihan sama mbok pasti cariin." bujuk alina. tapi anak lelaki itu masih bersikeras untuk tidak mau menemui mbok siti.
"oke, baiklah, mau kevin apa, makan atau jalan jalan?" tanya alina, sedangkan Giandra hanya bisa menyaksikan kedua orang di depannya nampak sangat akrab ia butuh mengumpulkan banyak pertanyaan kepada sahabat nya itu.
"Baiklah, ayo kita cari es krim tapi kita bilang dulu sama mbok siti ya." dan lelaki kecil itu akhirnya mengangguk, sebelum alina pergi ia berbisik pada giandra kemudian menggandeng anak kecil itu keluar restoran.
Di luar restoran, nampak mbok siti dengan raut khawatir mencari majikan kecilnya, awalnya mbok siti di suruh untuk menemani kevin membeli kado yang akan di berikan kepada teman kevin yang sedang membuat acara ulang tahun dan tempatnya berada tepat di depan restoran milik giandra.
Kevin yang baru akan masuk ke dalam mobil matanya dapat melihat Alina yang memang duduk di dekat kaca, jadi ia sangat terlihat jelas dari luar. ia kemudian masuk ke restoran itu dan menghampirinya.
Setelah Berbicara pada mbok siti, akhirnya Alina bisa pergi bersama Kevin ke tempat kedai es krim yang jaraknya hanya beberapa meter dari restoran.
"Kevin mau es krim rasa apa?" tanya Alina.
"Melon." ucap kevin.
"Baiklah." kemudian Alina memesan kepada kasir yang berjaga di sana sambil menyebutkan varian rasa yang ia pesan, setelah memesan keduanya mencari tempat duduk untuk menunggu pesanan mereka.
"Kevin, boleh mama tanya sesuatu?" tanya Alina dengan hati campur aduk, namun laki laki itu mengangguk seraya menatap orang orang yang sedang lewat di depannya.
"memangnya mama kevin sendiri kemana?" tanya alina sedikit ragu takut melukai perasaan anak kecil itu. namun di luar dugaan justru anak itu tampak tersenyum.
"Kata papa, mama sedang pergi jauh, nanti kalau kevin besar, kevin bisa menemui mama." kata kevin dengan polos.
"memangnya, kemana mama kevin pergi?" anak lelaki itu terdiam menatap manik mata indah alina.
"mama, berada di london kerja, jadi menunggu kevin besar baru menemui mama." ucap anak itu masih dengan ceria.
Alina melihat lelaki kecil itu sangat terharu, mungkin ibu dari anak itu memang Rania yang dulu sempat ia lihat sebelum ia keluar dari rumah Fandi. lantas ia tersenyum dan bangkit.
"Em, sepertinya pesanan kita sudah selesai, mama ambil ya, kamu tunggu sebentar disini." ucap alina kemudian menghampiri kasir, anak kecil itu nampak diam dan memandang alina menuju kasir.
selesai membayar, alina dan kevin masuk mobil dan mbok siti merasa sangat lega, karena tuannya selalu menelpon mempertanyakan putra kesayangannya.
"halo papa! kevin sama mama membeli es krim, iya papa kevin akan pulang. dah papa." ucap kevin dengan nada polos.
Sang sopir melajukan mobilnya, Alina dan kevin nampak sedang bercanda dan sangat lebih akrab, lelaki kecil itu selalu tertawa riang tidak seperti biasanya jika bersama orang lain, wajahnya nampak dingin dan datar.
"Nah sekarang kevin masuk ya, hari sudah mau malam, mama akan pulang, nanti setelah selesai belajar jangan lupa untuk berdoa." kata alina sebelum pergi dari depan gerbang rumah itu.
"iya mama, mama hati hati." kata Kevin mencium pipi kanan alina. alina mengangguk dan kemudian keluar dari dalam mobil. mobil itu pun segera masuk ke dalam pekarangan.
Sedangkan Alina sendiri berdiri di luar gerbang mencegat salah satu taksi yang lewat dan disisi lain, sebuah mobil mewah phantom melaju dengan kecepatan pelan melewati Alina.
***