
Di sebuah lorong sekolah nampak dua siswa saling adu pukul dengan sesama temannya, Giandra dan lawannya Radhit yang terus memukuli Tubuh Giandra hingga tidak bertenaga.
Alina yang mengetahui kabar bahwa teman dan sahabatnya telah dipukuli ia bergegas kesana. ia menghampiri kedua pria itu yang saling memukul.
"Giandra sudah!" Alina menarik lengan Giandra agar melepas cekalan tangannya kepada Radhit.
"Alina, kau minggirlah aku akan menghajar orang ini hingga tak bisa berjalan."
Giandra tanpa sengaja mendorong tubuh alina menyingkir tapi, alina bersikeras untuk menarik lengan giandra sampai pukulan yang ditujukan Radhit mengenai wajahnya. Giandra panik seketika yang dipukul bukanlah Radhit melainkan Alina.
"Alina." Teriak Giandra berjongkok di depan alina yang pingsan.
"Huh!!" Radhit mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah menatap Giandra yang panik. di ujung bibirnya menampakkan senyum smirk.
Mata giandra terlihat memerah menatap Radhit tersenyum sinis.
"Tunggu saja pembalasanku Radhit." teriak Giandra.
"Mau tunggu sampai kapan, kau akan tetap seperti itu, bahkan takdir pun tidak bisa merubah apapun, ingat itu anak haram!" setelah melontarkan kalimat terakhirnya radhit meninggalkan Giandra yang mendekap Alina yang terbujur di lantai.
Mata giandra memerah menatap kepergian Radhit hingga menghilang di ujung tembok, ia mengepalkan tangannya di sisi kirinya.
"Alina, kau sadarlah, maafkan aku." kata Giandra lembut.
Tak berapa lama, Kevin datang bersama salah satu guru menghampiri mereka.
"Giandra, ada apa dengan alina?" tanya pak bambang panik.
"Alina terkena pukulan pak lalu dia pingsan." jawab giandra sendu.
"Bawa dia ke Klinik."
"Baik pak."
Giandra membopong Alina yang di bantu oleh Kevin dan juga pak bambang menuju Klinik yang di sediakan oleh sekolah.
Di sana sudah ada Bu Dewi selaku dokter yang berjaga.
"Bu dewi, tolong kau periksa siswa ini." kata pak Bambang berjalan masuk ke Klinik, Bu dewi yang sedang duduk menatap dokumen langsung bangkit.
"Baringkan dia di sana, biar aku periksa." kata bu dewi cepat.
Ketiga pria itu keluar setelah bu dewi menutup gorden ruangannya, beberapa menit kemudian, bu dewi membuka gorden dan menatap kedua pria itu bersamaan.
"Apa yang terjadi dengan alina dokter?" tanya giandra cepat.
"Alina tidak apa apa, ia hanya syok dan sedikit lelah, mungkin jika beristirahat beberapa saat akan segera siuman." kata dokter.
"Terima kasih dokter." kata giandra, bu dewi mengangguk dan kembali pada kubikelnya.
Giandra menatap tubuh lelah Alina di sisi kanannya, ia menyesal karena tanpa sengaja ia memukul Alina. Seharusnya ia tidak usah di beritahu akan kejadian ini.
"Giandra, kau terluka, lebih baik kau obati dulu lukamu, Alina biar aku yang jaga." kata kevin memegang pundak Giandra.
"Terima kasih Kev, tapi aku tidak akan kemana mana, sebelum Alina sadar." jawab Giandra.
"Akan ku ambilkan obat untukmu. tunggulah disini." kata kevin dan berlalu mencari obat yang berada tak jauh dari tempat Giandra.
Setelah menemukan obat, kevin kembali pada giandra yang sedikitpun tak beranjak dari duduknya.
Giandra menatap kotak p3k yang dipegang kevin, dan kemudian menerimanya dan meletakkan di sisi kanannya, perlahan ia membuka kotak tersebut dan menuangkan alkohol pada kapas untuk membersihkan lukanya, dan menempelkan plester pada pelipisnya.
Satu jam kemudian, akhirnya Alina sadar, ia mencium bau obat obatan, ia mengedarkan pandangannya. Disisi kanannya nampak Giandra yang menatapnya lemah.
"Giandra!"
"Alina, kau sudah sadar." kata Giandra sedikit lega.
"Aku ada dimana?" tanya alina parau.
"Kau berada di klinik, kau tidak apa apa kan, maafkan aku Alina." kata giandra.
"Aku baik baik saja, lalu bagaimana dengan kau?" tanya Alina lemah.
"Aku lelaki, aku kuat." jawab Giandra tersenyum.
Alina membalas senyuman giandra tulus.
"Hei hei, masih ada aku nih disini, memangnya dunia mikik kalian berdua aja emang." Suara kevin menyadarkan keduanya. lalu mereka bertiga pun saling ketawa.
***
Quenby, Menyeret koper kecilnya setelah tiba di halaman rumah mewah di bilangan perumahan elit. Ia berjalan anggun, berkava mata hitam dan lebar.
"Nyonya." ucap Mbok jah membukakan pintu utama.
Quenby melepas kaca mata hitamnya dan tersenyum lebar.
"Mbok Jah, apa kabar?" kata Quenby.
"Ba,,Baik nyonya, silahkan masuk nyah, ini adalah keajaiban besar, pasti non Alina akan sangat senang melihat nyonya pulang." kata mbok jah yang sangat bahagia melihat nyonya besarnya kembali setelah 5 tahun tidak pernah kembali.
Quenby melangkah masuk, meneliti setiap sudut ruang yang tak pernah berubah, ia tersenyum mengingat pertama kalinya masuk kerumah besar itu.
"Semuanya tidak ada yang berubah." kata quenby pelan.
Mbok jah yang berada di sana, mendengar ucapan Nyonya besar pun mendengar.
"Ini karena tuan, tidak ingin merubahnya Nyonya, semuanya adalah kenangan Tuan bersama Nyonya maka sebab itu tuan membiarkan ruangan ini tetap seperti ini." kata mbok jah.
Quenby tersenyum lalu menaiki tangga menuju kamar utama, yang mana saat dulu ia tinggali bersama suaminya sampai pada akhirnya Alina terlahir kedunia.
"Dimana Alina mbok?" tanya quenby.
"Non Alina di sekolah Nyonya, mungkin sebentar lagi dia akan pulang. Apa perlu saya menyiapkan makan untuk nyonya?" tanya Mbok jah.
"Tidak perlu, aku sendiri yang akan memasakkan Alina, ini adalah kejutan untuknya."
"baik nyonya.
Mbok jah meninggalkan majikannya itu berada di kamar utama. Quenby tersenyum menatap foto pernikahannya bersama Bhara yang masih tergantung di dinding kamarnya.
"Apa kabar kamu mas?" gumam Quenby tersenyum.
***