The Little Sunshine

The Little Sunshine
BAB 20



Pagi menjelang, Rafka terbangun dari tidurnya, karena jam weker di atas nakas mengganggu mimpi indahnya. sejak semalam ia tak bisa berhenti tersenyum, ia melihat jam yang berada di ponselnya, masih jam 6 pagi. ia bergegas ke kamar mandi, mengingat hari ini akan kembali ke jakarta setelah satu minggu penuh menyurvey pabrik yang ia kelola.


Seusai mandi ia bergegas menemui kedua orang tuanya di meja makan, namun sampai di sana ia terkejut, ada lagi seseorang yang ikut duduk untuk melakukan makan pagi.


"Selamat pagi Rafka." Senyum Rafka memudar melihat orng itu.


"Pagi." jawab Rafka datar kemudian duduk di bangku seperti biasa.


"Rafka, Bunda sengaja mengundang Rania datang, mengingat kau akan pergi hari ini, jadi dia mengantarkan bekal pagi ini." kata Shaqaella panjang, Rania tersenyum memandang Rafka.


"ya." kata Rafka singkat namun tak membuat hati Rania putus asa, ia semakin tersenyum lebar, Wanita itu menyukai Rafka sedari SMA dulu, meski ia hanya diam diam memendam perasaannya saja. Rafka tergolong pria yang pendiam, ia tak pernah neko neko, ia tak pernah pacaran ataupun pergaulan yang lainnya, ia hanya belajar dan belajar, anak itu hanya bergaul dan berbicara seperlunya saja.


Sedangkan Fandi sendiri masih seperti biasa, ia selalu terdiam dan tak ingin membicarakan apapun, ia hanya makan sarapannya dengan tenang.


"Ini, di makan. ini hasil masakan aku sendiri loh." Rania memberikan ikan goreng ke piring Rafka.


"Hm." Rafka memberikan jawaban dengan deheman saja, kemudian memulai makan dengan tenang, Shaqaella, wanita itu terus tersenyum dan merasa puas akan kedatangan gadis itu ke rumahnya. apalagi gadis itu dia mengenalnya karena kebaikan hatinya. di tambah ia berteman dengan ibunya, jadi ia tau latar belakang keluarganya.


Rafka segera mengakhiri makannya, kemudian mengelap bibirnya dengan tisu.


"Sudah selesai nak?" tanya shaqaella menatap putranya.


"iya bund, hari ini ada rapat penting di perusahaan." kata Rafka datar.


"Rania, kamu antar Rafka gih ke depan." bujuk Shaqael.


"Baik Tan." Rafka beranjak dari duduknya diikuti Rania. Rafka berjalan keluar begitu juga Rania mengekori Rafka.


Rafka diam, hingga langkahnya hampir sampai pada garasi.


"em, Raf!" Rafka menghentikan langkahnya menatap Rania yang tertinhgal dua langkah di belakangnya, ia menaikkan alisnya.


"ya."


"Makasih sudah memberiku kesempatan." lanjut Rania.


Rafka melanjutkan langkahnya dan memasuki mobil, namun sebelum melajukan mobilnya ia meneliti penampilan Rania.


"hanya kali ini." ucap Rafka datar kemudian melajukan mobilnya keluar garasi dan menjauh pergi, Rania memandang mobil Rafka yang menjauh, ia masih saja tersenyum, memikirkan perkataan Rafka, 'Hanya kali ini. itu Artinya, ia tak menolak perjodohannya kali ini. Rania tersenyum senang. kemudian kembali masuk ke rumah dan mengambil rantang yang sedari pagi ia bawa.


Selama perjalanan menuju jakarta, Tiba tiba ponsel Rafka terdengar ada notif masuk, ia mengurangi laju kecepatan mobilnya dan membuka notif tersebut.


*Mas Rafka, selamat pagi...hari ini pergi ke jakarta kan, semangat kakak. hati hati, miss you.*


Lagi lagi, Rafka tersenyum manis, seakan mendapatkan seribu kekuatan yang mengisi dayanya, sehingga ia ingin sekali memutar roda mobilnya dan menemui malaikat kecil itu, memeluknya erat dan mencium kepalanya. tapi itu tak mungkin terjadi, ia akan mengadakan rapat pagi ini, jadi ia hanya memberikan emoticon 🙂.


***


Tiba di lokasi kantor, Senyum itu luntur begitu saja, dia adalah atasan. wajahnya menjadi tegas dan datar seperti biasa, semua pegawai yang melihat dia langsung menunjukkan hormat kepadanya.


"Selamat pagi pak." sekertaris Rafka berdiri dan menganggukkan kepala.


"Ya." Rafka memasuki ruangannya, ia kembali melihat ponselnya dan menyematkan senyum di wajahnya.


"ehemm, bos!" Rafka mendongak melihat Aileen berdiri di hadapannya. wajahnya kembali datar menatap bawahannya dengan tegas.


"Tumben si bos banyak senyum, lagi sakit?" tanya aileen.


Rafka menatap tajam kepada Aileen, "mau bekerja tidak, kalau tidak kau boleh bersantai ria di Afrika."


"hehehe, jangan dong bos!"


"ya sudah, cepat kau berikan informasi hari ini."


"baik bos."


Dengan segumpal kekesalan, Aileen membacakan agenda hari ini hingga selesai. setelah itu ia keluar kembali bekerja di ruangannya.


#


Alina memandang langit gelap di teras rumahnya, ia tersenyum melihat bintang yang berkelip di atas sana, tiba tiba terdengar pintu di buka dari dalam membuat Alina menoleh.


"Papa."


Di sana terlihat Bhara membuka pintu dan menggerakkan kursi rodanya.


"Alina." panggil Bhara bergerak mendekatinya.


Alina yang tadinya duduk, kini berjalan mendekati papanya, membantu mendorong kursinya hingga ke depan.


"Sedang apa kau nak, sudah malam, apa kau tak bisa tidur?" tanya Bhara, Alina duduk di samping kursi roda ayahnya.


Alina menggelengkan kepalanya. " melihat bintang pa." jawab alina sekilas.


Bhara ikut menatap langit di atas sana. "Cantik kan pa." kata alina.


"ya, tapi lebih cantik bidadari yang berada di samping papa." Alina beralih menatap Bhara dan tersenyum.


"gombal banget sih papa."


"tidak, memang seperti itu."


"papa, kenapa papa tidak pergi saja keluar negeri untuk terapi kesembuhan kaki papa?"


"emm, tidak, papa sudah mencari informasi tentang itu tapi tak ada yang bisa membantu."


Alina menatap papanya dengan iba, "papa!"


"ya."


"sudah malam, ayo masuk, angin malam tidak baik buat kesehatan papa." kata alina yang membuat perasaan Bhara menghangat.


Bhara tersenyum, Alina mendoronv kursi roda papanya memasuki rumah.


***