The Little Sunshine

The Little Sunshine
BAB 19



Sudah seminggu, Rafka memenuhi janjinya untuk terus menjemput Alina, Gadis cantik itu bahkan merasa sangat senang, apalagi harus ngirit ongkos untuk naik angkutan. Apalagi Rafka selalu memanjakan dirinya, kemanapun ia selalu menuruti kemauannya, seperti malam ini Alina bergandengan tangan dengan Rafka, keduanya mendatangi pasar malam yang tak jauh dari tempat tinggal mereka, mereka juga bahkan sudah sepuluh kali mengintari wahana permainan di sana tak turut keduanya merasa lelah.


"Mas, Kita naik yang itu yuk." Alina menarik tangan Rafka menuju wahana kincir air yang berputar.


"Setelah ini pulang ya, aku capek alina." kata Rafka.


"Iya iya." Tangan Alina menarik Rafka.


Setelah mengantri tiket yang panjang, akhirnya mereka bisa menaiki wahana tersebut. keduanya duduk di dalam kurungan besi yang mulai bergerak.


Alina turut bahagia akan hal hal kecil seperti ini, dan entah mengapa, Rafka rela melakukan hal ini terhadap Alina, Rasa yang dimiliki Rafka semakin bertambah besar, apalagi melihat senyum bahagia yang selalu tercetak jelas di wajah gadis belia itu.


"Apa kau senang?" tanya Rafka menatap mimik wajah polos Alina.


"Hm." Alina mengangguk, matanya masih menatap langit yang gelap di sampingnya.


Hingga kincir air itu berada tepat di atas, tiba tiba wahana itu terhenti, seluruh lampu yang menerangi malam itu padam, itu membuat Alina menjadi sangat panik.


"Mas, mas Rafka, aku takut." kata Alina memeluk erat lengan Rafka, dalam kegelapan itu hati Rafka semakin membuncah, ia tersenyum sangat tipis.


Tiba tiba, terdengar petasan yang naik ke atas dan meletus di ketinggian Langit yang gelap, Mata alina mengerjap menyaksikan kembang api di atas kepalanya.


"Wah, kembang api?" kata Alina.


"Kau suka?" tanya Rafka dan alina mengangguk.


Serentetan kembang api itu terus meletup letup di atas langit, memberikan cahaya di tengah kegelapan yang memang di setting dari sana.


"Selamat ulang tahun, Alinaku." kata Rafka.


Mata Alina yang tadinya menatap langit kini beralih menatap Rafka yang tengah tersenyum di sampingnya. Ia bahkan lupa hari ulang tahunnya, tetapi pria ini justru sangat tau akan hari indah ini.


"Happy birth day seventeen," lanjut Rafka, Mata alina tiba tiba saja berkaca kaca. mengingat selama hidupnya tidak pernah merayakan hal special seperti ini, bahkan papa dan mamanya juga tak pernah merayakan hari ulang tahunnya.


"Thanks you, Mas." kata alina pelan.


"Apa ga dengar." kata Rafka.


"terima kasih mas." kata alina malu malu, pipinya terlihat merona.


Tiba tiba, Rafka mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Alina sekilas, membuat Sang empunya membeku di tempatnya, Rafka tersenyum lalu mengalihkan pandangannya menatap langit yang masih mengibarkan kembang api di sana.


***


Selesai bermain wahana, kini Rafka dan Alina sudah berada di atas rerumputan duduk bersila, tatapan mereka memandangi orang orang yang berlalu lalang di depannya, tangan Alina memegangi permen kapas dan sesekali menggigitnya.


"Sejak kecelakaan waktu itu, aku tak pernah lagi pergi ke pasar malam seperti ini," kata Rafka.


Alina menyodorkan permen karet di telapak tangannya ke hadapan Rafka. Rafka menunduk melihat permen karet itu lalu tersenyum.


"Aku ingat, jika kau sedih kau selalu mengunyah permen karet ini." kata alina.


Rafka mengambil permen karet itu dan memakannya.


"Yuk pulang, sudah malam." Rafka beranjak dari duduknya lalu membantu Alina bangkit dari duduknya, keduanya pergi mengambil mobil yang parkir tak jauh dari area pasar malam.


Tak butuh waktu lama, mobil Rafka memasuki pekarangan luas milik Alina.


"terima kasih mas rafka, sudah mengingatkan moment moment indah seperti ini." Kata Alina sebelum keluar dari dalam mobil.


"hm." kata Rafka mengangguk lalu mengusap pucuk rambut Alina.


Setelah Alina keluar, Rafka melajukan kembali mobil mewahnya menuju kediaman nya sendiri.


Rafka tersenyum, mengingat bagaimana ia mencium pipi Alina, ini pertama kalinya melakukan hal nekat seperti itu, bahkan dadanya bergemuruh hebat, ia menekan dadanya dan terus tersenyum.


Tiba di kediaman miliknya, ia memasukkan mobil mewahnya masuk garasi, tanpa henti pria itu masih saja tersenyum hingga memasuki rumah, Sapri yang melihat majikannya itu jadi merinding sendiri.


"Kenapa pak?" tanya Rafka ketika melihat sapri yang menatapnya aneh.


"ga pa-pa tuan." jawab sapri menunduk.


Rafka melewati Sapri begitu saja, senyum di wajahnya masih tercetak jelas. Fandi yang masih duduk di ruang tengah bersama istrinya heran melihat Rafka yang terus tersenyum, padahal pria itu jarang sekali tersenyum, wajahnya menampakkan ekspresi datar.


"Fandi, ada apa dengan anak kita?" tanya Shaquel heran memandangan anak lelakinya.


Fandi menggelengkan kepalanya tetapi tatapan matanya masih melihat punggung Rafka yang berjalan menuju lantai dua.


"Coba kau lihat, apa putramu kerasukan jin di jalan pulang tadi?" kata Fandi, shaquella menyubit punggung tangan suaminya membuat Fandi mengaduh kesakitan.


"Jangan ngawur kamu fandi, dia putramu." kata shaquella kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"mau kemana sayang?" tanya fandi.


"kamar, capek mau tidur." kata shaquel.


Fandi kemudian mencebik bibirnya, dan ikut menyusul istrinya menuju kamar.


***