
Hari pertama masuk, Alina sudah di sambut baik di sekolah tersebut, banyak di antaranya para siswa cowok yang terkagum akan kecantikan yang dimiliki gadis itu, pemilik nama lengkap Alina Alexander ini berjalan di lorong kelas dan selalu membuat para cowok terpana.
"pagi class, hari ini kita kedatangan siswa baru di Sekolah ini." Kata wali kelas 11 Ipa A 1.
Alina memasuki kelas barunya, dia berdiri di depan kelas tersenyum lebar menyapa teman teman barunya seraya memperkenalkan dirinya.
"Baiklah class, kita mulai pelajaran hari ini, kita buka buku matematika halaman 35." Lanjut bu Lia.
Sementara Alina yang baru saja duduk, teman sebangkunya memanggilnya.
"shhhtt, hai kenalin aku Zeline Zakesya, panggil aja Zel seperti yang lain." kata Zel teman sebangku Alina seraya menyodorkan tangannya.
"hai zel, Alina." Zel tersenyum lebar karena uluran tangannya di sambut baik oleh Alina.
Jam istirahat sudah berbunyi.
"kantin yuk al, aku laper bangets nih." ajak Zel mengelus perutnya.
"Yuk." Alina bangkit berdiri, keduanya pergi ke kantin yang tak jauh dari kelas mereka.
setelah memesan makanan, keduanya duduk di salah satu bangku yang berada di paling pojok dan berdekatan dengan jendela.
Sedang menikmati makanan mereka, terlihat dari luar ada kegaduhan . Tiga wanita bak artis terkenal masuk ke kantin dengan gaya manja, yakni ketiganya Putri, Salma dan Rea. mereka adalah genk yang terkenal cantik, bahkan ketiganya adalah anak pengusaha. jadi tak heran bagi mereka jika memang penampilam mereka sangat modis.
"Hai guys,,," Salma yang merupakan ketua dari genk tersebut melambaikan tangan nya yang lentik, dengan centil.
"ih, genk bebek udah mulai deh lebainya." celetuk zel.
Alina yang tadinya tertunduk kini beralih menatap Zel, "siapa sih zel, kok kamu terlihat kesel banget." tanya Alina.
"itu tuh, genk bebek yang sok kaya. beuh, sok centil banget." kata zel yang menatap genk tersebut. Alina mengikuti arah pandang Zel.
"ooh, biasa aja deh." jawab Alina dan melanjutkan kembali makanannya.
Setelah menghabiskan makanan mereka langsung masuk ke kelas mereka.
***
"Alina." Alina yang duduk menunggu di halte sekolah mendongak melihat siapa yang memanggilnya.
"om Rafka. kok om ada disini." tanya Alina.
"yuk pulang."
Alina langsung masuk kemobil mewah milik Rafka, tanpa ia sadari geng the most wanted sejak tadi memperhatikannya.
"euh, siapa tuh cewek, kelihatannya anak baru disini." tanya salma pada kedua temannya.
"Oh, pantes banget baru liat."
"tapi guys, lo pada liat gak sih siapa yang jemput dia barusan?"Saut Putri.
"siapa tuh?" Tanya rea dan salma hampir bersamaan.
"dia adalah pengusaha yang paling terkenal akan kesuksesannya, pemilik M.J Corp baby. masa lo~lo pa da ga tau sih." sahut putri bangga.
"ya ampun, jadi itu pria yang sangat di gandrungi mbak Rania. pria sukses dan mapan." kata Salma menampakkan senyum tipis di sudut bibirnya.
#
"Om, Alina kira udah ke jakarta." kata Alina tak menyangka.
"Bahkan aku belum ke jakarta loh, seminggu ke depan, aku masih fokus dengan pabrik disini." sahut Rafka.
"wah, bisa seneng deh aku, bisa bareng om rafka tiap hari hehehe." kata alina tersenyum bangga.
Sedangkan Rafka sendiri ada kebahagiaan yang membuncah di hatinya, tapi ekspresi di wajahnya tetap nampak tenang.
"Kayaknya ada yang bahagia banget nih, eh ngomong-ngomong, aku nih ya ga enak banget kalau kau panggil aku ini om, secara nih ya aku ini masih muda kok." kata rafka.
"hahahaa, emang udah keliatan tua gitu ah,"
"kamu tuh ya, di bilangin, ya udah deh aku turunin sini aja." mobil Rafka terhenti di pinggir jalan.
"yach om, gitu doang ngambek. kayak anak kecil aja." cibir Alina mendengkus.
"Sebelum kau mengubah kata om kepadaku, maka aku gak mau jalan meski sampai malam pun tetep disini." kata rafka mengancam.
"baiklah-baiklah, maunya di panggil apa nih?"
"ya terserah, asal jangan panggil om."
"Aa..Mas,,abang.. kerenan mana nih?"
"terserah."
Alina meletakkan telunjukknya di dagunya, memikirkan sesuatu.
"oppa..." kata alina tersenyum lebar. Rafka geleng geleng kepala.
"Oppa, ayo kita pulang." kata Alina manja yang membuat pertahanan Rafka goyah, akhirnya ia melajukan kembali mobilnya menuju kediaman Alina.
***