The Little Sunshine

The Little Sunshine
BAB 29



"Jelaskan! Apa yang sedang kau sembunyikan?" tanya Giandra menyelidik.


Alina terdiam sebelum ia menceritakan awal mula ia bertemu dengan anak itu, kemudian ia menghela nafas dan membuangnya dengan perlahan.


Giandra meletakkan tangan di dada, menatap Perempuan di depannya dengan serius, Alina yang di tatap seperti itu pun merasa tidak nyaman, ia masih terdiam dan tangannya bergerak dengan gelisah di atas lembaran kertas, kini mereka berada di salah satu resort milik kevin temannya, di tepian kolam renang sebagai objek pemandangan. Giandra menarik pensil dari tangan Alina, Alina pun meringis kikuk.


"Sebenarnya, dua minggu lalu. aku tidak sengaja menolong anak itu di kala ia sedang akan tertabrak mobil dan hari ke hari anak kecil itu selalu tak sengaja melihatku lalu memanggilku mama." kata alina sambil melirik pria di depannya, giandra masih menatapnya dengan serius seraya menajamkan telinga untuk mendengarkan cerita alina dari awal hingga akhir.


"Dan dia sebenarnya putra Rafka." Giandra langsung tersedak oleh air yang baru saja ia tenggak.


"Apa!" kata Giandra terkejut lalu meletakkan minuman itu di meja.


"Ya, aku juga terkejut waktu itu saat tau kalau anak kecil itu anak dari Rafka."


"Sebentar...Jadi anak itu anak Rafka bersama istrinya dulu?" Alina mengangguk seraya meminum air putih di depannya.


"Kemungkinan seperti itu, aku juga tidak tau, sejak aku keluar rumah Paman Fandi, aku tidak pernah tau tentang mereka, aku hanya fokus belajar, dan pada saat ada kelulusan, aku mendapatkan tawaran untuk pergi ke London secara beasiswa, saat itu aku tak berpikir panjang dan langsung pergi begitu saja." jelas Alina.


Giandra tampak berpikir, "Apa kamu gak curiga, kenapa anak itu memilih memanggil mama pada kamu?" Tanya giandra.


Alina menggelengkan kepala, saat ini ia hanya berpikir untuk mendesaign Gaun, jadi ia tak pernah berpikir ke arah sana.


"Tapi setau aku, berita yang sedang beredar, Rafka masih belum pernah menikah sekalipun, meski kebenaran tentang pertunangan itu memang tak terelakkan." Kata Giandra.


"Maksud kamu, Rafka mempunyai anak di luar nikah gitu?"


"Aku belum yakin sih, tapi menurutku aku berpikiran sama denganmu. Hei kenapa kamu ga mau cari tau, tentang om om yang pernah kamu suka, dan kamu malah asyik dengan kariermu. Apa kamu ga ingin lagi bersama dia?" Tiba tiba pensil yang di pegang alina mendarat di kepala Giandra, hingga ia meringis kesakitan pada kepalanya.


"Ini semua juga penting dalam hidupku, tapi soal Rafka, aku rasa aku tidak ingin membahasnya lagi, hubungan aku sama dia sudah berakhir, untuk apa aku harus mengejarnya, lagian dia juga pasti udah dapat pengganti ku kan." kata Alina, kemudian ia kembali fokus pada gambarnya.


"Ya deh, kalau itu mau kamu, itu hidup kamu, aku juga tidak ingin memaksa kamu, terserah." Giandra kembali meminum jus Alpokat dan menengguknya hingga tandas, tidak tau cara apalagi yang harus ia katakan pada sahabatnya itu, meski ia tau bahwa sahabatnya itu memang masih mencintai pria itu.


***


Pada malam hari, Rafka dan putranya sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, Fandi sangat merindukan anak itu begitu juga Shaqaella, Tiba di Bandung, Kevin tertidur di kursi samping, Rafka pun menggendong Anak itu dengan hati hati agar tidak terganggu.


"Assalamualaikum." ucap salam Rafka begitu memasuki rumah.


"Waalaikumsalam, loh cucu oma." Shaqaella langsung menyambut kedatangan Cucunya.


"Ssttt." ucap Rafka agar omanya tidak berbicara keras, pasti Kevin sangat kelelahan dalam perjalanan menuju Bandung, jadi Ia pun langsung membawa Kevin masuk ke dalam kamarnya.


Shaqaella pun tersenyum, begitu juga Fandi. Rafka kembali dari lantai dua langsung menghampiri kedua orang tuanya.


"Ayah, Bunda." Rafka pun langsung mencium punggung tangan mereka bergantian dan duduk di sofa yang bersebrangan dengan kedua orang tuanya.


"Bagaimana Cucu Oma Raf?" tanya shaqaella yang sudah tidak sabar untuk menanyakan perihal cucu satu satunya.


"Baik Bund," ucap Rafka yang menyenderkan punggungnya di sofa. Ia juga merasa lelah, setelah pulang dari kantor ia langsung mengendarai Mobil menuju Bandung sendiri, ia pun merasa sangat lelah.


"Bunda akan ambilkan minum untuk kamu." Kata Shaqaella kemudian berlalu menuju dapur untuk membuatkan teh.


"Bagaimana keadaan kantor Raf?"


"Lumayan Yah, Ayah besok aku ada urusan di Luar kota jadi untuk satu minggu ke depan biar Kevin disini." Ucap Rafka.


Fandi mengangguk,,"Baiklah, lagian kalau tidak ada Kevin semua terasa sepi," kata Fandi dengan datar.


"Maksud Ayah!"


"Ya seperti kantor sudah sangat sukses dan segi umur kamu sekarang sudah pas untuk mencari pengganti, apakah kamu selamanya akan mengurus kevin sendiri, Kevin juga butuh seorang Ibu." papar Fandi berharap anak tunggalnya akan mencari istri yang ia cintai.


"Tapi Yah, Rafka belum ingin, Aku hanya lebih fokus saja pada pertumbuhan Kevin, Rafka bisa menjadi Ayah sekaligus ibu bagi Kevin."


Shaqaella muncul dari dapur dengan membawa camilan dan juga dua cangkir yang berisi teh, kemudian ia letakkan di atas meja.


"Benar kata Ayah kamu Raf, Bunda tak ingin lagi memaksa kamu untuk perjodohan lagi, cukup itu saja sebagai pelajaran, ternyata keluarga Aryasatya tidak sebaik yang aku kira." ucap Shaqaella mengingat betapa ia sudah di bodohi oleh Keluarga AryaSatya.


"Sudahlah Bund, tidak perlu mengingat hal itu lagi,"


"Tapi Raf, kamu juga seharusnya mencari Mama untuk Kevin. Kasihan kevin, dia juga butuh seorang mama."


"Sudahlah Bund, aku capek, mau istirahat." kata Rafka yang tidak ingin membahas soal pencarian mama untuk kevin.


Fandi mendesah seraya memandang punggung Rafka yang menaiki anak tangga.


"Ayah, apakah Dia akan seperti itu terus, aku takut kalau dia tidak menemukan jati dirinya lagi." ucap shaqaella.


"Sudahlah Bund, boleh Ayah tanya sama Bunda?"


Shaqaella memandang suaminya dengan serius. "Bisakah Bunda memaafkan Alina?"


"Kenapa Ayah bertanya seperti itu?"


"Tidak ada, hanya bertanya." kata Fandi.


"Udahlah Yah, Bunda ga mau membahas soal ini lagi, berapa kali Ayah menanyakan hal ini lagi, yang pasti jawaban Bunda tetap sama, Bunda ga mau menerima Dia menjadi menantuku." ucap shaqaella sebal.


"Ya baiklah, itu terserah sama bunda, lebih baik ayah melihat Kevin sebentar." kata Fandi yang kemudian pergi ke kamar Kevin melihat cucunya yang ia rindukan.


***


Pagi Hari, Alina berlarian di sekitar kompleks. awalnya ia ragu akan rencana Giandra saat itu, tapi ia juga merasa ingin ada yang ia ketahui. ia pun pergi ke taman berharap Anak kecil itu berada di sana, namun sudah satu jam melakukan pemanasan ia tidak mendapatkan apa apa, akhirnya ia merasa lelah, ia duduk di bangku taman seraya meminum air mineral yang ia bawa.


Tiba tiba seorang pria duduk di sampingnya dengan diam diam memperhatikan kelakuan Alina.


"Siapa yang kau Cari?" suara berat dan rendah masuk kedalam telinga Alina sehingga menolehkan kepala menyamping. ia terkejut dan ia perlahan mundur.


"Siapa kamu?" lantas pria di sampingnya membuka kaca mata hitam yang menutupi mata indahnya, meletakkannya ke dalam kaosnya.


Pria itu lantas tersenyum dan menatap Alina dengan perlahan ia memajukan dirinya hingga lebih dekat dengan Alina.


Deru Jantung Alina berdebar semakin cepat, apalagi pria itu terus menatapnya.


"Apa yang kamu lakukan?" kata Alina yang mulai ketakutan.


"Kenapa?" pria itu semakin mendekatkan wajahnya hingga hampir tak ada celah untuk Alina menghindar.


"Kau...!" Pria itu tersenyum miring kemudian mengalihkan padangannya ke arah lain, Alina pun merasa lega lalu menatap pria di sampingnya.


"Aku tau, kau sengaja datang ke sini untuk mencari Kevin." Pria itu kemudian bangkit dan pergi meninggalkan Alina yang di landa kebingungan.


***