The Little Sunshine

The Little Sunshine
BAB 15



Jam 5.15


Pagi ini, Alina berusaha bangun pagi. Meski itu sangat sulit, ia segera beranjak dari kasur dan masuk ke kamar mandi. setelah sepuluh menit menyelesaikan ritual mandinya, ia keluar dengan kaos dan celana training tak lupa ia memakai sepatu. ia menemui mbok jah yang sedang sibuk memasak di dapur.


"pagi mbok, lagi masak apa?" Alina berjalan masuk dapur dan membuka kulkas.


"Ini non, masak capjay kesukaan non Alina." kata mbok jah.


"Wah jadi laper nih mbok." kata alina menutup pintu kulkas.


"Pagi begini non Alina mau kemana, tumben non sepagi ini udah bangun."


"iya mbok, ini mau lari pagi, kan seger kalau disini gak kayak di jakatta panas." saut alina memasukkan botol minuman ke ransel yang ia selempangakan di dadanya.


"Alina pergi dulu ya mbok."


"iya non, ati ati." kata mbok jah.


Alina keluar dari rumahnya, Di pagi hari seperti ini, matahari masih belum muncul, bahkan masih terlihat kabut tebal di sepanjang jalan. Alina berlari ke sekitar kampung, terlihat sepagi begini sudah banyak para ibu ibu pemetik teh telah keluar dari rumah, bekerja di kebun teh adalah pekerjaan utama disini. Alina menyapa ibu ibu itu dan tersenyum.


"Wah, keponakan juragan Fandi ramah ya buk, selain cantik dan kaya ternyata baik banget." kata ibu ningsing yang melihat Alina berlari melewatinya.


"Hm, Itukan baru kemarin pindah ke sini." saut ibu lainnya.


"iya, tapi kasihan ayahnya justru tidak bisa jalan lagi."


"oh kasihan." saut ibu yang lainnya.


"sudah sudah, ayo mulai kerjanya, kita disini bukan untuk ngobrol tapi kerja." saut bu ningsih lagi.


"oh iya ayo ayo." saut ibu ibu lainnya.


***


Di persimpangan jalan, Alina berhenti. ia merengggangkan ototnya setelah meneguk minuman yang ia bawa. ia bisa melihat dari tengah tengah, di samping kanan dan kirinya adalah kebun teh, selain udaranya yang segar ia juga bisa menikmati matahari terbit.


Ia tersenyum menatap kemunculan matahari pagi ini. tiba tiba seseorang menghalangi pandangan matanya dengan tangannya.


"Eh, Om Rafka." Alina tersenyum menatapi Rafka yang memakai kaos santai dan ikut lari pagi.


"Ayo lanjutkan lagi larinya, mumpung pagi begini sangat sehat untuk olahraga." Rafka berlari kecil menjauhi Alina.


Alina mengejar Rafka dan kini langkahnya sudah menyamai Rafka.


"Om kok sepagi ini udah ada disini, om ga ke jakarta?" tanya Alina.


"Hm, jakarta bandung kan cuma 3 jam, ya kalau pengen pulang ya pulang."


"ga capek om?"


"capek sih, tapi bunda nyuruh pulang ya pulang."


"Wah kedengarannya om sayang banget ya sama bibik, ngomong ngomong tentang bibik shaqaella, aku jadi kangen sama masakan bibik."


"ya udah nanti sekalian aja mampir. lagian bunda juga nanyain kamu terus sejak kemaren."


"oh ya, kalau gitu ayo om, alina udah ga sabar pengen cicipi masakan bibik." kata Alina tersenyum.


Sesampainya di rumah Shaqaella, Alina sudah duduk di ruang makan bersama keluarga Rafka.


"wah kebetulan bibik masak banyak, jadi ga kesia sia dong masakan bibik nanti." Shaqaella berjalan masuk ke ruang makan membawa hidangan yang juga di bantu oleh artnya.


"wah, seneng nih bunda masak banyak banyak, oiya Alina, kalau kau suka masakan bibik nanti kau bisa bawa pulang untuk di makan bersama papa."


"makasih loh bik, ini terlalu berlebihan."


Mereka pun memakan sarapan mereka. setelah selesai, Alina membantu Shaqaella memberesi piring kotor sedangkan Fandi dan Rafka melanjutkan untuk membersihkan diri.


"Ini bisa kau bawa pulang." Shaqaella menyerahkan rantang berisi makanan untuk Bhara dan juga alina.


"wah makasih ya bik, makasih juga sarapannya, ini beneran lezat bik." saut alina.


"iya, salam buat papa kamu ya, kalau mau apa apa datang aja ke rumah bibik." kata Shaqaella tersenyum lebar.


"iya bik makasih banyak." Alina mendekap shaqaella sebelum pulang ke rumahnya.


"Sudah mau pulang?" tanya Rafka yang baru saja turun dari lantai dua.


"hm om." jawab Alina seraya mengangguk.


"yaudah ayok aku anterin, sekalian mau ke tempat Lia." kata Rafka.


"Paman, bibik alina pamit ya." kata alina mencium tangan punggung keduanya bergantian.


"iya, besok besok ga usah sungkan ya, bibik ga punya anak perempuan, jadi bibik gak akan kesepian kalau alina sering dateng kesini."


"iya bik. nanti alina usahain."


Alina memasuki mobil Rafka dan melambaikan tangan kepada kedua pasangan suami istri itu.


"Jadi ngerasa punya ibu." gumam Alina, matanya nampak berkaca kaca.


Rafka hanya melirik sebentar dan kembali fokus pada jalanan. sampai di pekarangan rumah Alina, langsung keluar tak lupa membawa rantang yang di berikan oleh shaqaella.


"Om makasih, nanti rantangnya aku kembaliin nanti sore." kata alina.


"hm." Tanpa turun dari mobil Rafka melajukan mobilnya menjauh dari rumah alina.


Alina memasuki rumahnya, ia menatapi rantang yang diberikan bibik shaqaela. namun sampai diruang tengah, Bhara sedang membaca dokumen di tangannya dan terlihat menitikkan air mata.


"Papa." Bhara mengusap air matanya dan meletakkan dokumen itu di atas meja.


"Sayang kau dari mana saja?" tanya bhara.


Alina langsung duduk di hadapan papanya, ia meletakkan rantang di meja dan kemudian menatap papanya.


"Tadi alina habis ke rumah om Rafka pa, Papa kenapa menangis apakah mama menyakiti papa?"


Bhara menggelengkan kepalanya. "Tidak nak, papa hanya sedih karena papa tidak seperti dulu, papa akan terus seperti ini seumur hidup papa."


"Apapun keadaan papa, Alina sayang sama papa." mereka pun saling memeluk.


"oiya, kau kan akan pindah sekolah, dan ini hari pertamamu masuk sekolah, ayo cepetan nanti kau bisa telat." ucap bhara memperingati Alina.


"oiya, ya udah alina akan bersiap siap dulu." kata alina.


ia bergegas ke lantai dua dan bersiap untuk pergi ke sekolah yang baru.


***