The Little Sunshine

The Little Sunshine
Bab 2



Bhara merangkul anak semata wayangnya ke dalam dekapannya, "Maafkan papa sayang." Lirih Bhara. Keduanya pun larut dalam satu pelukan rindu yang beberapa bulan ini tidak bertemu.


#


Rafka Shaquille Zhafran, pria berusia 25 tahun, pemilik perkebunan teh yang berada di bandung. Putra tunggal dari pasangan Afandi Zhafran dan Shaquille Paramita. Yang merupakan pemilik dari perusahaan pengelola teh ternama.


"Raf, dari mana? Sebentar lagi meeting kita akan dimulai, kenapa kamu baru tiba?." Tanya Ailen berjalan menyamai langkah Rafka yang baru saja tiba di kantor perusahaannya.


"Ada urusan mendadak yang harus aku urus, apakah semua sudah siap?" tanya Rafka sebelum akhirnya memasuki salah satu lift.


"Ya. Sebentar lagi klien kita akan sampai." kata Aileen seraya melihat jam tangan di tangan kirinya. ia memencet tombol di samping pintu lift hingga menutup.


Sejak dua jam yang lalu, akhirnya meeting selesai. Rafka meninggalkan ruangan meeting bergegas kembali ke ruangannya. menanggalkan jas di sandaran kursi lalu duduk di kursi kebesarannya. seperti itulah keseriusan seorang pemuda sukses dalam menjalankan bisnisnya.


Baru saja beberapa menit, ponsel Rafka berdering menandakan panggilan masuk. Tanpa ia lihat nama yang tertera di layar, ia langsung mengangkatnya.


"Halo...." sahut Rafka saat sambungan tersambung. Ia menempelkan ponselnya di telinga kanannya, mendengarkan dengan serius ucapan yang disampaikan di sebrang sana.


"Ya, baiklah." sahut Rafka mematikan sambungan telponnya. Ia meletakkan ponsel di samping dan memulai berkutat dengan berbagai tumpukan dokumen yang harus ia tanda tangani.


Tidak terasa waktu bergulir dengan cepat, Matahari juga sudah bersembunyi di balik peraduannya sejak dua jam yang lalu tetapi pemilik paras yang nyaris mencapai perfect itu masih menatap layar laptop yang menyala.


Tok tok


Sebuah ketukan di pintu, membuat pandangan Rafka teralihkan. "masuk!" sahut Rafka dari dalam. Ailen melangkah masuk dan memberikan beberapa dokumen yang harus segera ia tanda tangani.


"Masih ada lagi?" tanya Rafka mengambil dokumen itu, tanpa ia meneliti dokumen itu, ia membubuhkan tanda tangannya di atas materai.


"Tidak ada pak." Sahut Ailen yang kemudian ia mengambil dokumen itu.


"Apa masih ada Acara setelah ini untukku?" Tanya Rafka.


Rafka menyandarkan punggungnya yang terasa pegal. memijit pangkal hidungnya setelah melepas kaca mata yang bertengger diatas hidungnya. melihat jam tangan yang ternyata sudah menunjuk jam 11 malam. Segera mematikan laptop dan beranjak dari kursinya. Meraih jas yang ia sampirkan di sandaran kursi lalu memakainya. kemudian keluar dari ruangan.


Di dalam perjalanan menuju apartemennya, tiba tiba terngiang jelas ucapan Alina yang menusuk hatinya. Ia meraup wajahnya dengan kasar. sudah sejak dulu ia mencintainya, tetapi tak pernah mendapatkan perlakuan yang baik setelah lama tidak pernah berjumpa.


Di rumah mewah mewah


Alina sedang duduk di teras balkon kamarnya, Tersenyum menatapi bintang-bintang yang berkelip di atas sana. Membayangkan ada gambaran keluarga yang bahagia. tetapi bayangan itu menghilang ketika ada sebuah deheman keras yang membuat ia mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.


"Papa." Bhara berjalan mendekat lalu merangkul bahu anaknya.


"Sedang lihat apa sayang, sejak tadi papa mengetuk pintu tidak ada jawaban." ucap Bhara.


"Lihat bintang pa, lihat deh di sana. Cahayanya yang paling terang sendiri, itu pasti rajanya bintang kan?" Ucap alina, jari telunjuknya mengarah pada bintang yang berkelap lebih terang dari yang lainnya.


Bhara mengulas senyum, sangat lucu mendengar penuturan Alina. tangannya ia eratkan untuk menghalau dingin.


"Itu bukan raja bintang sayang, itu namanya bintang sirius, bintang yang paling terang di antara bintang yang lain." Sahut Bhara menjelaskan.


"Oh, jadi itu bukan raja bintang ya pa." Mata Alina mengerjap lucu membuat Bhara gemas melihat sikap Alina yang polos.


Tangan Bhara terulur mengusap pucuk rambut alina. "Dingin ya, yuk masuk." Ajak Bhara.


Bhara merangkul bahu anaknya dan masuk ke dalam kamar. Alina naik ke atas ranjang.


"Selamat malam sayang." Ucap bhara merapikan selimut hingga ke dada. Lalu mengecup kening Alina sayang.


Alina memejamkan mata, lalu mulai masuk ke dalam alam mimpinya.


...****************...