
Flash back on
"Alina!" teriak Shaqaella dari ambang pintu kamar rumah Fandi.
Alina yang baru saja tidur dalam beberapa jam itu harus terbangun karena suara teriakan dari ambang pintu. sontak ia pun terkejut.
"Bibi shaqael."
Shaqael dapat melihat, Rafka dan Alina tertidur dalam satu kamar, ia pun merasa sangat marah, apalagi pernikahannya dengan Rania akan di gelar sebentar lagi.
"Kalian begitu memalukan!" kata Shaqael kecewa.
"Bunda!"
"Diam kamu Raf, apa yang kalian lakukan, sangat memalukan, apa yang akan di katakan pada orang orang, jika berita ini keluar. bunda tak sanggup lagi." kata shaqael yang berlinang air mata.
"Yah!" kini Rafka menatap ayahnya yang hanya diam saja, Fandi tampak mendesah.
"Bunda akan menelpon keluarga Rania, agar pernikahan kalian di percepat." kata shaqael kemudian berlalu meninggalkan kamar Rafka.
Fandi mendekati putranya, menatap keduanya bergantian, ia menepuk bahu putranya kemudian berlalu ikut keluar kamar.
Setelah kematian Bhara, Alina di paksa untuk tinggal di rumah Fandi, ia merasa jika Alina tinggal di rumahnya, ia bisa memperhatikan Alina layaknya anaknya sendiri, apalagi mereka tidak mempunyai anak perempuan, dan itu juga atas izin shaqael.
Awalnya Alina menolak, tapi karena bujukan Fandi akhirnya Alina menyetujui untuk tinggal di sana, sebelum malam itu terjadi, Rafka baru saja tiba dari jakarta, bau alkohol sangat menyengat di hidung, ia menggedor gedor pintu utama karena hari sudah larut.
Alina yang susah tidur, ia pun keluar kamar untuk sekedar mengambil air minum, saat melewati ruang tengah, Alina mendengar ada yang mengetuk pintu, ia pun melihat dari kaca jendela yang tertutup gorden. bahwa yang mengetuk pintu adalah Rafka, ia pun segera membuka pintu.
"Mas Rafka!"
Rafka yang kesadarannya hanya 30% langsung memeluk Tubuh Alina, pengaruh alkohol membuat dia sakit kepala. dengan susah payah, Alina membawa Rafka ke kamarnya, Rafka bergumam semakin tak jelas.
Sampai di kamar Rafka, Alina membantu merebahkan tubuh Rafka di kasur.
"oih, berat!" desis Alina, kemudian ia membuka sepatu yang masih tersemat di kaki rafka.
"sudah tau tidak bisa minum, kenapa masih minum, haizt menyusahkan!" umpatnya.
Rafka yang terlelap tiba tiba ia bangun dan memuntahkan isi perutnya keluar, Alina yang berada di sampingnya pun terkena muntahan Rafka.
"Aih jorok." kata Alina menahan nafas lalu membantu Rafka memperbaiki bantalnya.
"haizt, kotor deh." kata alina memandang baju piyamanya yang terkena muntahan. ia pun berlalu menuju kamar mandi yang berada di kamar Rafka, beberapa saat kemudian ia keluar kamar mandi, sebelum ia keluar kamar Rafka ia menyelimuti tubuh rafka.
"Baby ku." tangan Rafka menangkap pinggang Alina dengan erat, ia pun tak bisa bergerak. jam sudah menunjukkan 3 dini hari, ia mulai mengantuk akhirnya, ia pun tertidur dengan lelap.
Di sinilah Alina berada, ia berlutut di hadapan Shaqael. tapi shaqael itu tak mau memandangnya. sejak kematian Bhara waktu itu, shaqael menyadari kalau putranya memang mencintai gadis itu, tapi ia menepis pikiran itu, ia hanya berpikir kalau mereka hanyalah menjalin hubungan pertemanan biasa atau layaknya saudara, tapi setelah menyaksikan kejadian ini, membuat shaqael tak habis pikir.
"Bibi, Alina minta maaf. Alina tak sengaja melakukan ini, paman! Alina minta maaf." kata Alina bersungguh sungguh.
"Jika kau ingin maafku, maka tinggalkan rafka, biarkan dia bahagia. sekarang kau pergilah!" kata shaqael.
"Shaqael, kau keterlaluan!" kata fandi.
"kenapa, kau membela keponakan kesayanganmu itu fandi."
"tidak, bukan begitu shaqael, tapi.."
"sudahlah fandi, sudah cukup aku memberi tumpangan hidup sama dia, tapi aku gak sanggup lagi karena rafka adalah putra kita dab dia menggunakan cara yang tak wajar untuk merebut Rafka. sekarang kau tinggal pilih, antara aku atau keponakanmu itu." tegas Shaqaella.
Fandi memijat pelipisnya, ia sangat sakit kepala dengan kekerasan kepala Shaqaella, melihat keponakannya saja ia merasa sangat kasihan.
"oke baiklah, Alina kau beresi barang barangmu." ucap fandi setelah lama berpikir, mungkin ini adalah jalan keluar yang terbaik.
"Paman!" panggil Alina, matanya nampak berkaca kaca. Fandi menatapnya dengan luka yang dalam kemudian mengangguk.
"maafkan aku paman, bibi telah menyusahkan kalian selama ini." ucap alina kemudian ia berlalu menuju kamarnya.
"Ayah, Bunda! apa apaan ini, kalian! ah sudahlah, lalu kalian tidak berpikir dia akan tinggal dimana ha?" kata rafka dengan marah lalu mengejar alina yang berada di dalam kamarnya.
shaqael dan fandi hanya bisa terdiam.
"Al, Alina.." Rafka memasuki kamar alina, nampak ia sedang mengambil pakaiannya dan memasukkan kedalam tas.
"Al, lihat aku." rafka menahan tangan alina yang melipat pakaiannya.
Alina terdiam dan menangis sesenggukan. "lihat aku!" kata rafka.
"sudah lah mas, ini adalah yang terbaik, kau akan menikah dan gak seharusnya aku mengganggu pernikahan kalian, pilihan bibi shaqael emang yang terbaik, tidak seperti aku, anak yatim dan miskin seperti aku tidak pantas berada di tengah tengah kalian." pandangannya tertunduk.
Rafka menarik wajah Alina agar menatap wajahnya. "Apa kau mencintaiku al?"
deg
"lihat aku!" tapi alina tak bisa menatap rafka, Dengan segera ia menarik tubuhnya masuk kedalam dekapan rafka, ia menangi semakin keras.
"Aku tidak mempunyai siapa siapa lagi mas, selain kalian, apalagi yang aku minta, cukup kalian menyayangiku itu sudah cukup mas, kehidupan seperti ini aku juga tidak ingin, tapi aku hanya manusia.." kata alina terbata.
Rafka mengelus punggung alina, ia juga bisa merasakan tubuh kecil itu merasakan kesedihan yang luar biasa, namun pintu yang masih terbuka lebar, Fandi dapat melihat kalau keduanya memang mempunyai rasa.
Flash back off
"Tidak..."teriak Alina keras yang membuat ia terbangun. kemudian ia terduduk lemas penuh dengan keringat di dahinya.
"Ah ternyata hanya mimpi." ia mengusap peluh di pelipisnya kemudian ia melihat jam pada ponselnya, ternyata sudah jam 5 sore. itu artinya ia sudah tertidur selama 4 jam, ia kemudian beranjak dan mencari air minum di kulkas.
***