
Jam 7 A.M
Alina melakukan lari pagi mengelilingi kompleks. ia tersenyum dan menganggukkan kepala kepada setiap ibu ibu yang melewatinya.
"Pagi bu." sapa Alina yang masih terus berlari melewati.
"Pagi." sahut ibu itu seraya tersenyum.
"Wah, siapa bu Ning, kayaknya tetangga baru ya?" tanya bu mita.
"eh, iya kali bu, saya juga baru liat." jawab bu ning.
Alina masih berlarian, hingga nampak ada sebuah Sekolah anak anak paud yang juga sedang masuk ke kelas mereka. di saat bersamaan ada sebuah mobil yang berjalan pelan pelan dan berhenti di sana, pintu terbuka dan seorang anak kecil lelaki turun dari mobil, di sampingnya adalah pengurus yang menemani Anak itu.
"Dah papa.!" ucap anak itu yang melambaikan tangannya, mobil itu kemudian berlalu.
Alina berhenti sesaat untuk sekedar beristirahat dan menenggak air minum yang ia bawa. ia berteduh di bawah pohon besar yang tak jauh dari sekolah tersebut, tiba tiba ada anak yang hendak menyebrang jalan tanpa melihat kanan dan kiri, Alina yang berdiri tak jauh dari sana dapat melihat kendaraan yang berlalu lalang.
"Dek, awasss!!" teriak Alina kemudian berlari untuk menolong anak lelaki tersebut, alina sekuat tenaga berlari dan mendorong anak itu hingga di tepi jalan, sedangkan dirinya terjatuh ke aspal yang membuat si pengendara mobil mengerem secara mendadak.
Sedangkan anak lelaki itu juga ikut terjatuh dan keningnya terbentur pembatas jalan.
"Den Kevin!" teriak pengurus, Alina pun syok ketika mendapati darah yang mengalir di kening anak itu.
"Hei, kau buta ya, kenapa kau tiba tiba berlari di jalanan, ini bahaya!" seorang lelaki yang mengendarai mobil itu merasa marah dan berteriak kepada alina.
"maaf pak." kata alina, ia segera bangkit dan berjalan mendekati anak lelaki yang terluka itu.
"kamu ga pa-pa dek?" tanya alina.
Anak itu diam dan menggelengkan kepalanya. pengurus rumah itu pun memeluk anak itu, "aduh den, udah tau di jalan banyak mobil kenapa ga bilang sama mbok kalau mau apa apa." omel pengurus itu.
"Kita bawa ke rumah sakit mbok, ini darahnya ga bisa berenti." kata alina.
"saya akan cari taksi non." kata mbok itu.
Alina melihat anak kecil itu, meski keningnya keluar darah ia tak merasa kesakitan atau mengaduh, tak berapa lama taksi pun datang, alina dan pengurus itu langsung masuk dan membawa anak lelaki ituke rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit, Anak lelaki itu masuk IGD untuk pemeriksaan medis, tak berapa lama, seorang lelaki yang mempunyai tubuh tinggi itu datang tergesa gesa.
"Tuan!" ucap mbok Siti pengurus anak itu.
"bagaimana kevin mbok?" tanya lelaki itu dengan raut wajah khawatir. Alina berdiri membelakangi dan sedang melakukan panggilan.
"Den Kevin masih di dalam tuan, di periksa sama dokter." ucap mbok Siti yang juga terlihat khawatir, tak berapa lama seorang dokter laki laki keluar, Pria itu pun berjalan mendekat. begitu juga alina yang ikut bergegas menjumpai sang dokter.
"Bagaimana keadaannya dok?"
"gimana putra saya dok?" tanya mereka berdua secara bersamaan.
Dokter itu pun menatap kedua orang di depannya bergantian, lalu mengernyitkan kening bingung.
Pria itu menunjuk dirinya sendiri, "saya ayahnya." Alina yang menyadari suara itu tidaklah asing baginya, ia menatap menyamping.
'RAFKA.' Teriaknya dalam hati. ia kemudian menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat.
6 tahun berlalu, waktu itu Rafka di paksa untuk menikahi Rania, dan di waktu bersamaan Ia di pisahkan dengan Alina. Alina di paksa keluar rumah, dan ia hidup di kota surabaya selama satu tahun, sejak itu Alina dan Rafka tidak pernah berkabar sama sekali. Alina tinggal di rumah yang di kontrakkan oleh Fandi selama satu tahun, itupun bersama bik Nun yang menemani, sedangkan mbok jah kembali pulang ke rumahnya yang berada di padang.
Alina berlari keluar dari rumah sakit, ia selama ini takut harus bertemu lagi dengan Rafka apalagi ibunda Rafka sangat membenci dirinya. Rafka yang belum sempat melihat gadis itu merasa bingnung.
"Siapa gadis itu mbok?" tanya Rafka penasaran.
"Tidak tau tuan, non itu tadi yang menyelamatkan den kevin."
"ooh, lalu kenapa dia lari setelah melihatku?" tanya Rafka bingung.
"tidak tau tuan." jawab mbok siti.
"papa!" Sontak Rafka mengalihkan pandangannya kepada anak kecil itu yang berdiri di ambang pintu.
"Kevin, bagaimana luka kamu kev, apa masih sakit, kalau sakit papa akan mencarikan ruang rawat untuk kamu."
Kevin itu hanya menggeleng,"kevin tidak apa apa pa, ayo kita pulang." justru anak itu tidak merasakan sakit yang di deritanya, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.
"oke, baiklah mari kita pulang." ajak Rafka kemudian ia menggendong putranya, sedangkan mbok siti sendiri berjalan mengekor di belakang Rafka.
***
Alina duduk di balik pintu kamarnya, ia tak tau lagi, setelah sekian taun ia pergi menghindar harus di pertemukan dengan cara seperti ini, ia takut suatu saat nanti ibu rafka akan mengetahui hal ini, dan dia akan di usir seperti yang pernah terjadi.
Ponsel Alina tiba tiba berdering, menampilkan nama Giandra di sana.
"Ha--halo ndra." ucap alina terbata.
"(...)
"Tidak, ya aku ada waktu."
"baiklah, sejam lagi aku akan sampai." panggilan pun di tutup. ia mengusap air matanya yang menetes tanpa ia sadari, ia beranjak dan masuk kamar mandi.
satu jam kemudian
Alina mengedarkan pandangan di restoran, tempat dia dan dua temannya melakukan janji temu. Giandar melambaikan tangan tatkala melihat Alina masuk ke dalam restoran, Alina pun bergegas menghampiri.
"Ndra, kev...kalian udah lama?"
saat berbincang, tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka bertiga...
...----------------...