
Bhara dengan telaten membersihkan sirip ikan dan melumurinya dengan bumbu yang telah di siapkan oleh Shaqaella istri Fandi. Sedangkan Alina menatap ayahnya dengan seksama. Hingga ikan tersebut masuk ke dalam penggorengan, Alina masih betah menunggui ayahnya hingga ikan hasil tangkapannya matang.
"Alina, baju kamu basah nak, apa kau tidak kedinginan?" tanya Bhara, meski di sekian umurnya yang sudah memasuki angka 50 tapi ia masih terlihat muda dan gagah.
Bhara mengenakan celemek di dadanya. meski lelaki, ia juga mempunyai bakat untuk memasak, sedangkan Art Rumah tersebut terus memandang pria paruh baya itu dengan tatapan kagum, karena selain tampan ia juga pandai memasak.
Shaqaella sendiri juga merasa kagum, mengingat hal itu, selama ia menjadi istri Fandi tak sedikitpun Fandi memasuki dapur rumah mereka.
"Sayang Alina." Alina pun menoleh menatap bibinya itu yang masih menyiapkan hidangan di meja makan.
"Baju kamu basah, nanti kau masuk angin jika tidak ganti baju, ayo mandi dulu baru bisa melanjutkan." kata Shaquella mengelus punggung Alina.
"tapi bik, nanti ikan Alina takut di ambil om rafka."
Shaquella tersenyum melihat kepolosan Alina. "Tidak sayang, bibi yang akan jaga ikan kamu aman, sana mandi dulu."
meski tak rela. akhirnya, Alina melepas ikan hasil tangkapannya, rasanya memang menyenangkan bisa melakukan hal lain. Alina bergegas menaiki tangga dan Rafka sudah menuruni tangga, keduanya saling bersimpangan.
"Awas saja jika ikan ku kau makan." itu adalah bentuk arti dari pelototan mata alina kepada Rafka.
Rafka membalas pelototan Alina, " tunggu saja, setelah kau selesai mandi akan ku ambil semuanya."
Kemudian keduanya melepas tatapan mereka, Alina melanjutkan langkahnya ke atas, sedangkan Rafka menuju lantai bawah, Ia pun sudah bersiap dengan kemeja putih yang di padukan dengan dasi bercorak garis garis berwarna navy, dan juga jaz yang masih ia tenteng di lengan kanannya. di tangan kirinya mengendalikan ponsel alih alih jika sang asisten membutuhkan dirinya.
"Pagi bunda, wah baunya sedap masak apa hari ini bunfa?" Rafka langsung duduk di bangku seperti biasanya.
"Rafka."
"Om bhara." Rafka meneliti penampilan bhara yang masih menggunakan celemek.
Bhara mengerti akan penampilannya saat ini, ia pun melepas celemeknya dan langsung duduk.
"Ka, mau pilih yang mana?" tanya Shquella yang membuat pandangan Rafka beralih ke arah bundanya.
"Itu aja bund." tunjuk Rafka pada sayur dan ayam goreng bikinan bik Lila.
Dengan telaten shquella memberikan tumis sayur dan ayam goreng ke piring rafka.
Tak berapa lama, Fandi juga memasuki ruang makan, ia duduk di kursi yang di khususkan untuk kepala keluarga.
"Rafka, rapi benar, apa ada masalah penting di kantor?" tanya Fandi
"enggak yah, hanya ada beberapa yang Rafka urus jadk harus ke kantor pagi ini." kata rafka.
"pagi semua...!" dengan ceria Alina menyapa kepada seluruh ruangan disana.
Semua di dalam ruangan tersebut menjawab sapaan alina, dan berbeda dengan rafka, ia memandang alina tanpa berkedip. dan shaqaella menyadari itu dan menyentil lengan putranya hingga tersadar akan tatapan matanya.
Alina duduk berdampingan dengan bhara, ayahnya. ia sudah lama merindukan makan bersama seperti ini, andaikan ibu nya berada disini maka lengkap sudah keluargany, namun sayangnya itu hanyalah angan angan saja. Quinby lebih memilih pekerjaannya dari pada harus berkumpul dengan keluarganya.
"Alina, ayo sayang dimakan ikannya." Bhara memberikan ikan hasil gorengannya,
"Terima kasih papa." alina tersenyum hangat.
Seperti biasanya, saat makan hanyalah keheningan, dan tidak ada satupun yang berbicara, yang terdengar hanyalah dentingan sendok yang bertumpu dengan piring beling.
Mata Alina berkaca kaca, setelah memasukkan suapan terakhirnya sambil tersenyum.
***