The Little Sunshine

The Little Sunshine
Bab 39



Alina berada di kursi kebanggaannya, sudah satu bulan menunggu akhirnya Rumah boutiq yang baru saja selesai di desaing itu sudah bisa ia tempati, belum ada pekerja yang bisa membantunya, hanya saja sudah memilik dua pegawai yang handal melakukan pekerjaannya.


Semalaman ia tidak bisa tidur karena lamaran Rafka yang tiba tiba, mendadak pikirannya menjadi kosong.


"Bu, Bu alina." suara Kirana membuyarkan lamunan Alina, ia pun gelagapan saat suara kirana menyentaknya.


"Hah! iya Kiran, masuk saja. ada apa?" tanya alina. Kirana tersenyum, ia masih di ambang pintu.


"di bawah sudah ada Dua puluh pelamar apakah sudah bisa mulai untuk wawancaranya?" tanya kirana.


"ah, iya, mulai saja." Kirana mengangguk dan kembali menutup pintu.


Sesi wawancara berlangsung dengan lancar, kini sudah waktunya makan siang, tapi entah apa yang sedang di lakukan gadis itu hingga melupakan makan siangnya, hingga sebuah suara menyentak kefokusannya.


"Hei. sibuk amat Al!" Giandra berdiri di depan meja kerja alina. alina menatap sahabatnya itu.


"Iyalah dra, kamu ngapain kesini?" tanya alina namun ia tetap fokus pada pensil dan kertasnya.


"ajak kamu makan siang, hari ini kau tidak datang ke tempatku, jadi aku yang datang saja." ucap giandra santai dan duduk di kursi yang biasa di tempati pegawainya jika masuk ke dalam ruangannya.


"ini jam berapa?"


"hampir jam dua, kamu mau keluar atay delivery aja?" tanya giandra.


"Deliver aja, lagian kerjaan aku masih banyak." kata alina.


"oke." giandra dengan semangat membuka ponsel nya ia memilih makanan melalui aplikasi gofood.


"eh gimana perekrutan karyawannya? lancar?" tanya giandra selesai memesan makanan melalui aplikasi gofood.


"hm, lumayan lancar, makasih udah mau bantuin." kata alina tulus.


"tentu saja, kita sahabat kan. kau tak perlu berterima kasih, kalau bukan kau aku juga tidak akan seperti ini." jawab giandra bangga.


tak berapa lama kurir pengantar makanan pun datang, giandra dengan sigap menata makanan di atas meja, alina meletakkan pensil dan ia mendekat ke sofa. mereka memakan makan siang mereka apalagi mereka sudah sangat lapar, selesai makan siang, giandra kembali ke restoran dan melanjutkan pekerjaannya.


Sepeninggal Giandra dari sana, Alina memandang keluar jendela kaca, melalui jendela tersebut ia bisa menyaksikan orang yang berlalu lalang melakukan rutinitasnya.


ia tersenyum kecut ketika mengingat pernyataan giandr semalam, ia menghela nafas panjang. sehingga ketukan dipintu membut ia harus menolehkan kepalanya, kirana masuk ke dalam.


"bu sudah jam 6, sudah waktunya saya pulang." kata kirana.


"em ya kau pulanglah lebih dulu, hati hati oke." ucap alina.


"iya bu, saya pergi dulu." balas kirana lalu menutup pintu kembali.


Dering ponsel Alina berdering, gadis itu pun mengambil ponselnya yang terletak di atas meja.


"halo paman apa kabar?" kata alina.


"baik sayang, kau sudah dua bulan berada disini tidak pernah sedikitpun kembali ke tempat paman, datanglah, paman sangat merindukanmu." ucap seorang pria paruh baya di sebrang sana.


"em, kau tenang saja, paman sudah mengaturnya, oh ya apa kau di sana sudah bertemu rafka." pertanyaan fandi membuat senyum alina pudar.


"i-iya paman, maaf jika alina tidak menepati janji alina pada bibi shaquelle." sahut alina melemah.


"kau tidak perlu takut pada bibi mu, paman tidak akan mengatakan apapun sama bibi mu, asalkan kau datang ke tempat paman, aku merasa mempunyai seorang anak perempuan. besok adalah hari ulang tahun paman, ku harap kau datang nak."


"baik paman, alina akan berusaha menepati." ucap alina dan sambungan terputus. alian menggenggam ponselnya di sisi kanannya.


ia tidak lagi bisa berpikir, ia melihat jam di tangan kirinya, jam sudah jam 7 malam, ia segera memberesi kertas kertas yang berserakan di meja, lalu mengambil tas dan mencegat taksi menuju rumahnya.


pagi menjelang, ia mempersiapkan hati jika ia bertemu dengan bibi shaquelle nanti, ia memantapkan hati setelah semalaman ia berbicara panjang lebar dengan sahabatnya itu. ia menyenderkan tas brandednya di bahu kiri.


"pak antarkan saya sampai bandung." ucap alina ketika sudah duduk di bangku penumpang pada taksi yang ia pesan sejak tadi malam.


pria paruh baya itupun mengangguk dan melajukan mobilnya keluar halaman rumah alina, dalam perjalanan yang membutuhkan waktu dua jam lebih itu membuat alian merasa sangat lelah.


Sesampainya di sana, hati alina sudah berdegup kencang. rumah berlantai dua minimaslis itu cukup membuat ia trauma. sepeninggalnya mobil taksi yang ia tumpangi itu, alina berdiri menatap rumah yang berbentuk minimalis itu dengan tatapan ragu.


"Alina!" suara rendah nan tegas itu menginterupsi dirinya, Rafka sudah berdiri tegap dengan kemeja kotak kotak yang ia masukkan ke dalam, rambutnya yang tersisir rapi ke belakang. meski kemeja yang ia kenakan terlihat santai tapi tidak menghilangkang sisi tegas Rafka.


"Ayo masuk, ayah dan Bunda sudah menunggu." kata Rafka.


Alina berjalan perlahan mengikuti langkah Rafka, ia mengeratkan pegangan tangan pada tali tas.


"Mama!" suara yang nyaring keluar dari dalam ruangan berlari ke arah Alina. Alina tersenyum dan menyambutnya dengan ramah, di belakang tubuh kecil itu sosok bibi shaquelle memandang terkejut pada cucu semata wayangnya yang memanggil alina dengan sebutan mama.


"i-ini tidak seperti yang bibi pikirkan, sa-saya hanya pengasuh cavin." kata alina memberikan penjelasan pada bibi shaquelle jika ia salah paham.


"huh, sudah aku duga, kau pasti akan merebut harta warisan kamu kan makanya kau mendekati cavin dengan sengaja, cavin ikut oma!" kata shaqelle tegas, yang membuat cavin merasa ketakutan dengan wajah garang shaquelle.


"enggak mau, cavin ingin sama mama." ungkap anak kecil itu mengeratkan pelukannya di leher alina.


"sayang, mama akan disini menemanimu, ikutlah sama oma, jadilah anak yang menurut sama oma. cavin anak pintar kan?" kata alina menatap wajah kecil cavin.


"tapi janji sama cavin. mama jangan pergi ya." kata cavin dengab memberikan jari kelingkingnya.


Alina tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya. cavin membalas dengan senyuman polosnya, shaqaelle menarik tangan cavin dengab paksa. alina tersenyum miris. ia sudah tau kalau dirinya tidak akan di terima di keluarga ini lagi.


"ahahaha, Alina selamat datang nak, tadi paman di kebun, kau sudah lama di sana?" paman fandi barusan masuk dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, alina membalas dengan senyuman.


"belum paman, alina baru saja sampai, paman selamat ulang tahun." alina mengeluarkan bingkisan kecil ke tangan sang paman.


"terima kasih, akhirnya kau bisa datang, dan seharusnya kau tidak perlu memberikan hadiah untuk paman, cukup kau datang paman akan merasa sangat bahagia. oh ya, sumi.... siapkan kamar tidur untuk alina." kata fandi.


Aksa menyaksikan pemandangan ini sudah membuatnya bahagia, semalam ia sudah membicarakan hal ini kepada orang tuanya, di tambah lagi shaqaelle juga ikut mengangguk atas permintaan aksa, yang akan menikahi alina kembali.


Demi menahan putra dan cucunya itu tetap bersamanya, ia merestui pernikahan ini, kini jawaban masih berada di tangan alina, apakah ia sudah setuju atau tidak. hanya alinalah yang tau...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...