The Little Sunshine

The Little Sunshine
BAB 5



Jalanan masih berkabut, Alina menatap jalanan yang masih terasa segar dan asri. Di samping kanan dan kirinya, beberapa pohon pinus berjajar rapi di sepanjang jalan.


Mata Alina berkedip, sambil menikmati keindahan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Alina tersenyum, tangannya ia tumpu di atas jendela kaca, wajahnya ia longokkan sedikit keluar, Terdapat angin segar yang terus menerpa wajahnya.


"Ayah, ini sangat indah." Senyum simpul terpatri di wajah Bhara.


"Kau suka?" Tanya Bhara.


"Emm, suka sekali." sahut Alina seraya mengangguk.


Tak berapa lama. mobil yang mereka kendarai sudah sampai di sebuah pekarangan yang luas, di samping kanan dan kiri memiliki jenis tanaman yang indah. Dari kejauhan sudah nampak bunga-bunga bermekaran mengelilingi taman.


"Ayo turun kita sudah sampai." Bhara melepaskan seatbealtnya. Diikuti Alina membuka seatbealt. Keduanya turun bersamaan. Alina celingukan masih memandang rumah yang cukup besar di depannya.


Bhara berjalan di depannya lalu menoleh kepada Alina yang masih tertinggal tiga langkah di belakannya, "Sayang." Alina sedikit berlari menyamai langkah Bhara.


Sampai di depan pintu, Bhara mengetuk pintu. "Assalamualaikum." ucap salam Bhara.


Dari dalam rumah, terdengar seseorang menjawab salam, lalu bergegas membuka pintu.


Klek


Fandi, pemilik rumah tercengang akan kedatangan mereka yang tiba-tiba.


"Bhara," Lirih Fandi.


"Hai." sahut Bhara menampilkan senyum ramahnya.


"Masuk!" Ajak Fandi.


Keduanya memasuki rumah.


"Apa kabar Bhara, sudah sangat lama kamu tidak pernah datang kesini. Bagaimana kabar Aleta?" Tanya Fandi seraya mendudukkan b*****g nya di sofa.


"Kami baik-baik saja." Jawab Bhara yang juga mendudukkan bokongnya di sofa. Kemudian merangkul anak kesayangannya dan mengecupnya. Tatapan Fandi langsung tertuju pada gadis yang di rangkul Bhara.


"Ah ini pasti Alina, keponakan kesayanganku, Apa kabar nak." Sapa Fandi.


Alina tersenyum, "Halo paman. Saya baik baik saja paman." sahut Alina.


"Wah, kau sekarang sudah besar ya, sangat cantik seperti ibumu." Ucap Fandi diiringi tawa.


"Terima kasih paman." sahut Alina.


"Kau terlalu memuji Fandi." Sahut Bhara menatap Alina.


"Tidak, tidak. itu memang kenyataannya Bhar."


"Silahkan di minum Bhara." Shaqaelle meletakkan dua cangkir kopi di hadapan Bhara dan juga Alina.


"Terima kasih, kak." sahut bhara. Shaqaelle kemudian ikut duduk di samping Fandi.


"Alina, perkenalkan ini adalah Bibi Shaqaelle." ucap Fandi memperkenalkan istrinya.


"Halo bibi." sahut Alina.


"Hai sayang." jawab Shaqaelle.


Mereka pun berbincang tentang beberapa hal, hingga tanpa mereka sadari terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan pekarangan rumah.


"Assalamualaikum." Ucap Rafka memberi salam.


"Waalaikumsalam." jawab keempat manusia itu serempak.


Rafka pun ikut bergabung di sana. setelah menyalami kedua pria dewasa dan duduk di samping papa-nya.


"Alina apa kenal dengan dia, coba kau ingat dulu kaulah yang selalu jail kepadanya?" kata Bhara.


Rafka duduk tenang dan tanpa memperlihatkan ekspresinya.


"Alina tau, dia om om yang tempo hari menyeret Alina iya Alina ingat, dia pria busuk yang enggak punya perasaan." Seakan hujatan Yang di lontarka Alina menusuk kepala Rafka.


Sontak Bhara dan Fandi saling tertawa mendengar Alina menyebut Rafka dengan Om.


"Apa kau bilang, Om!" kata Rafka yang seakan mendidihkan darah di atas kepalanya.


Alina mengangguk.


"Hei aku tak setua yang kau kira, aku masih muda." kata Rafka dengan suara rendahnya.


"Ya, kau sudah tua, kalau kau masih muda tentu saja masih memakai atribut sekolah."


"Rafka, Alina sudah. kalian emang selalu bertengkar kalau saling ketemu."


"Dia yang mulai duluan ayah!"


"Dia yang memang kelihatan tua, paman."


Keduanya saling melotot dan tak mau ada yang mengalah.


"Rafka, kau sudah besar sekarang kau seharusnya mengalah, kekanak kanakan sekali." cibir Fandi.


Alina menjulurkan lidahnya, sedangkan Bhara hanya geleng geleng kepala melihat tingkah laku anaknya yang tidak mau kalah jika berhadapan dengan Rafka.


Rafka mencebikkan bibirnya kesal,."ya sudah Rafka mau ke atas mandi, om Rafka ke kamar dulu ya." pamit Rafka lalu mencium punggung tangan Bhara.


***


Alina baru saja keluar kamar mandi dan masih mengenakan handuk sebatas dadanya, rambutnya yang basah ia usap dengan handuk, Tiba tiba Rafka nyelonong masuk tanpa mengetahui di dalam sana masih ada Alina.


"Ah, Alina." kata Rafka membalikkan tubuhnya ke arah pintu.


Alina yang sedang membelakangi Rafka menjatuhkan handuk kecil di tangannya, kemudian kedua tangannya menaut erat di depan dadanya.


"Om, apa yang om lakukan disini?" kata Alina takut jika Rafka melakukan hal diluar kendalinya.


"Maaf, saya tadi ingin mengambil buku ga tau kalau kau ada di dalam."


"Buku apa?"


"Judulnya story." kata Rafka memberitau.


Dengan cepat Alina segera mencarikan buku yang dimaksud. "Sudah belum?" tanya Rafka.


"Ini." Alina menyodorkan buku yang dimaksud Rafka, dan dengan cepat Rafka mengambil buku tersebut dan berlalu pergi.


"Lain kali ketuk pintu dulu!" teriak Alina dari dalam kamar.


Rafka terkikik sendiri setelah keluar dari kamar yang digunakan Alina mandi.


"iya!" jawab Rafka dan memasuki kamarnya.


***