The Little Sunshine

The Little Sunshine
BAB 12



"Quin...!!" Quin mendengar suara ini tidaklah asing baginya, ia menoleh dan menatapi Bhara berdiri di depan pintu.


Bhara mendekati quin dan merengkuhnya, kerinduannya tak bisa lagi ia tahan, ia mengecup pucuk rambut Quin berkali kali.


"Aku sangat merindukanmu quin." kata Bhara dengan suara parau.


Quin mendorong Bhara mundur satu langkah, matanya berkaca kaca.


"Stop mas, aku..." Quin menangis sesenggukan.


"Kenapa denganmu Quin?"


Perasaan yang sakit begitu lama tertoreh untuk hatinya yang kelam, 13 tahun bersama, tapi harus kehilangan selama 5 tahun, itu membuat Quin semakin merasakan kepedihan.


"Aku tidak bisa lagi kembali ke kamu mas?" suaranya terdengar berat dan pilu.


Di depan sana masih ada Rafka yang diam membisu menyaksikan keduanya.


Bhara mengulurkan tangan di udara, tapi ia urungkan, ia menatap Quin yang bersimbah air mata.


"Aku tau, kau lebih memilihnya, Aku yakin dia lebih baik dari diriku, maafkan aku Quin selama bersama aku terus menyakitimu. sekarng aku bebaskan dirimu dari ikatan ini. sekarang kau boleh tinggal di manapun kau mau, aku tak akan mencarimu, kau bisa lebih bahagia bersamanya di bandingkan denganku." Suara Bhara terdengar rendah, mungkin ini adalah jalan hidup yang telah ia pilih.


Melepaskan dari pada menggenggam tapi hanya kehampaan. Bhara membelakangi Quin dan berjalan menghampiri Rafka yang terdiam menatap kedua pasangan suami istri itu. Ia menepuk bahu Rafka pelan, kedua mata mereka bersirobak, Bhara tersenyum kecut dan menampakkan air yang menggenang di pelupuk mata.


Rafka memandang Quin yang berdiri tak jauh darinya, dan melewatinya tanpa berkata apa apa.


#


Pagi hari di kota Bandung, Kabut tebal masih menyelimuti daerah segar dan dingin. Fandi membuka mata melihat ke samping, Shaqaella masih terlelap dalam tidurnya.


Fandi tersenyum menatap wajah shaqaella yang nampak cantik sekalipun meski masih tertidur, ia meletakkan tangannya menyibak poni yang menutupi wajah cantik istrinya.


Shaqaella tersenyum. "Selamat pagi."


"pagi, istriku."


Terdengar ketukan di pintu semakin keras, membuat keduanya tak bisa melakukan aktifitas romantis yang ada pada film film.


Fandi segera membuka pintu, terlihat di depannya Sapri yang terliahat cemas dan nafasnya nampak berat.


"Ada apa Sapri?" tanya Fandi begitu melihat Sapri yang masih terdiam.


"A..Anu tuan, di kebun ada mayat." kata Sapri terbata.


"Apa! mayat, siapa?"


"Saya tidak tau tuan, ayo cepat!" Sapri terburu buru.


Fandi juga terburu buru, "Ada apa mas?" tanya Shaqaella bingung.


"Kau tunggu di rumah, saya akan ke kebun melihat sebentar."


Setelah mengenakan kaos, Fandi berlari, di depan Sapri telah menggunkan mobil dan siap berangkat ketika Fandi memasuki mobil, mereka menuju kebun dimana banyak sang pemetik teh disana berkerumun pada sebuah mobil yang masih menyala, di dalamnya masih ada seseorang.


Begitu Fandi datang, kerumunan orang menyingkir memberikan ruang, Fandi mengintai dari balik kaca.


"Bhara!" gumam Fandi.


"Semuanya tolong bantu buka pintu ini!" teriak fandi.


Fandi di bantu oleh warga memindahkan tubuh Bhara ke mobil miliknya dan bergegas ke rumah sakit.


#


Rafka sedang melakukan meeting pagi ini, baru setengah jalan, dering di ponselnya terus berbunyi, akhirnya ia izin keluar dan menerima panggilan.


"Halo, baik, saya akan kesana." setelah ponsel mati, Rafka menghela nafasnya kemudian menyambungkan bersama Aileen, kemudian bergegas pergi menuju Bandung.


Tiga jam mengemudi, Rafka sampai di salah satu rumah sakit yang kini merawat Bhara.


"Ayah!" Fandi menoleh dan menyambut Putranya.


"Apa yang terjadi ayah?"


"Bhara kecelakaan, kakinya patah dan harus melakukan operasi."


Rafka tak percaya dengan apa yang terjadi pada sahabat ayahnya, mungkin ini efek semalam yang telah di tinggal istrinya. Rafka terdiam sejenak, mengingat ini adalah hari peringatan pernikahan mereka.


"Alina!" Fandi yang tadinya tertunduk menoleh ke samping, terlihat Alina berdiri diam menatap pintu operasi yang menyalakan lampu merah di atasnya. matanya berkaca kaca.


Rafka menghampiri Alina, dan merengkuhnya erat, ini adalah hal terberat dalam hidupnya, ia hampir saja goyah jika saja Rafka tidak menahannya.


Sapri yang baru saja tiba langaung memberikan botol air mineral kepada majikannya.


Rafka mendudukkan alina, ia masih merengkuh tubuh kecil alina. tatapan matanya terlihat kosong, air matanya seakan mengering. Semua terdiam masih menunggu lampu operasi yang masih menyala, menahan rasa lapar yang sejak tadi meronta.


"Tuan, ini makanan untuk anda, sedari pagi anda belum makan." Sapri meletakkan sebungkus nasi di samping kursi tempat fandi duduk.


"Aku belum lapar."


Sapri kembali menatap kedua manusia yang saling merengkuh,


"Tuan, nona anda makanlah, setidaknya, nasi ini bisa membuat anda bertenaga untuk menjaga tuan bhara. jika anda semua sakit siapa yang akan menjaga tuan bhara bila sadar nanti."


Rafka yang tadinya diam, langsung mengambil nasi bungkus itu. ada benarnya juga ucapan sapri. jika mereka sakit siapa yang akan menjaga Bhara, setidaknya ia memakan sedikit saja. ia menyuaplan sendok ke hadapan alina. alina masih terdiam.


"jika kau sakit bagaimana dengan ayahmu, kau juga makanlah." akhirnya alina mau membuka mulutnya, keduanya memakan nasi bersamaan hingga habis dan meminum air botol mineral.


lampu operasi berganti hijau, artinya operasi selesai, ketiga manusia itu bersiap, seorang pria dari dalam keluar masih menggunakan masker.


"Bagaimana dok keadaan teman saya?" tanya fandi.


"Beliau, baik baik saja, tapi ada beberapa kendala, mungkin ia akan menjadi lumpuh. kami sudah sekuat tenaga menyelamatkan pasien, maaf." kata dokter itu.


Semuanya terdiam, Alina tak menyangka di akhir hidup ayahnya akan terjadi kelumpuhan, sedangkan ibunya sendiri sudah pergi, sejak terjadi pertengkaran semalam.


Tak berapa lama, Ayah alina di pindahkan ke ruang rawat inap VIP. Fandi kembali pulang, setelah dipastikan bhara sudah baik baik saja, Sedangkan Rafka dan Alina masih di sana jika bhara sadar dan membutuhkannya.


"Maaf om rafka selalu membuatmu kerepotan." Alina tak bisa lagi membendung air matanya, satu persatu menetes di pipinya.


"Aku tidak apa apa, kau istirahatlah, kau pasti tidak istirahat sejak semalam."


Alina memposisikan tubuhnya berselonjor dia atas sofa, rafka menatakan bantal dan selimut agar alina bisa beristirahat sedanhkan dirinya duduk bersandar.


***