The Little Sunshine

The Little Sunshine
BAB 30



Mencari gedung


Alina menatap gedung tua di daerah yang tidak jauh dari kota, ia bersama Giandra pergi kesana.


"Apa kau yakin akan membuka butik di daerah ini?" tanya giandra. keduanya berjalan masuk ke dalam gedung tua itu.


"Ya, kenapa?" tanya Alina.


Alina mendorong pintu besar di depannya, debunya bertebaran membuat asap di mana mana, sehingga Alina dan Giandra terbatuk batuk dan menutup hidungnya.


"Aku tidak yakin, tempat seperti ini apakah masih bisa digunakan." Giandra mengedarkan pandangan melihat lihat ruangan di sana yang terlihat masih gelap dan cahaya yang temaram.


"Hanya butuh renovasi ulang, dan aku sangat yakin masih bisa tetap berguna." kata Alina seraya menarik gorden pada kaca jendela.


"Emm," Giandra mengangguk,


Di sudut ruangan, ada sebuah lukisan tua yang terlihat miring, Giandra memperhatikan lukisan yang miring matanya sekejap melebar.


"Lukisan indah." gumam Giandra memuji lukisan itu.


"Ndra, bisa tidak kamu hubungi arsitek yang kamu kenal, atau paling tidak bisa yach orang yang cukup tau tentang pembangunan." tanya Alina seraya meneliti keadaan ruangan.


"Emm, cukup mudah saja, nanti aku haturkan untukmu, Oya, bangunan ini cukup tua tapi juga sangat menarik." Giandra berpindah pada setiap jendela yang menampakan keadaan luar.


"Tentu saja, aku mencari bangunan yang seperti ini agar mudah bagi orang awam untuk mengingatnya."


"Oho, menarik, bangunan yang natural, dinamis, cukup mengesankan." ucap Giandra lalu mencari sosok Alina.


Bangunan ini terdiri dua lantai, jadi di lantai dua nantinya akan Alina gunakan sebagai ruangan pribadi dan ruangan untuk pekerjanya, sedangkan lantai satu adalah sebagai showroom, memamerkan segala gaun yang ia rancang.


Alina menaiki tangga seraya meneliti setiap ruangan.


"Ndra, apakah Kevin akan datang tidak?" tanya Alina, Giandra berjalan di belakang Alina, melihat ruangan itu yang gelap, lalu menyalakan lampu sehingga dapat terlihat setiap dalam ruangan.


"Ya, tapi dia datang pasti sangat telat. oih, lalu bagaimana dengan putra rafka yang memilki nama yang sama dengan kevin?" Tiba tiba giandra teringat kevin putra Rafka.


"Aku tidak tau, aku mencoba datang ke rumah nya, tapi pintu gerbangnya tertutup rapat, kadang aku juga merindukan dia." kata Alina betapa ia membayangkan bisa bertemu dengan Kevin.


"Uh, kau sudah mulai menyukai anak itu, apa kamu tidak takut akan menyukai bapaknya juga." Kata giandra mencibir


"Oh, kenapa kamu selalu berpikir ke sana, aku tidak mungkin. Aku hanya merindukan saja, tidak lebih." Kata alina.


"Hai, Al, Ndra, udah lama." Kevin muncul dari arah belakang mereka hingga keduanya mengalihakn pandangan mereka ke arah Kevin daei arah tangga.


"Tidak juga, Vin, tapi sampai jamuran menunggu kamu datang." kata Giandra sebal.


"Sudahlah, oiya Vin, menurut kamu, bagaimana tentang ini."


Kevin mengedarkan pandangan, memindai setiap ruangan, "lumayan. Sedikit renovasi ini sudah terlihat cantik, arsitektur Bangunan ini cukup menarik, maka akan senang jika pelanggan bisa menikmati hal ini." kata Kevin.


"Ya tentu saja, kau memang temanku." Alina menepuk bahu kiri Kevin dan mengendikkan bahu acuh pada Giandra.


"Ya temanmu hanya dia saja, maka jangan ajak lagi." rajuk Giandra, membuat Alina dan Kevin memberikan kode senyum di sudut bibirnya.


"Sudah siang, Al, makan yuk." ajak kevin.


"Apa alina doang, yang kau ajak makan?"


"Sudah sudah, ayo kita turun dan pergi ke restoran, aku juga lapar." Alina merangkul kedua bahu sahabatnya keluar gedung.


Saat sampai di restoran milik giandra, Keduanya memesan makanan yang mereka suka.


"Kalian berdua makanlah hingga kenyang, aku ada urusan di dalam, ingat Vin kau jaga Alina jangan sampai ada orang yang melukainya." pesan Giandra sebelum pergi ke ruangannya.


"ok boss." kata kevin membentuk ok pada kedua jarinya.


Alina menengguk minuman yang telah di antar oleh pelayan. tiba tiba matanya menangkap seorang pria dan wanita masuk ke dalam, ia memperhatikan sekilas, lalu menunduk berpura pura tidak melihatnya.


"Hei Al, Aku sudah mencarikan orang untuk merenovasi tempatmu, mungkin lusa akan menemui kamu." kata Kevin memberi tau, Alina masih tertunduk dan tidak merespon perkataan Kevin.


Kevin menendang lengannya yang ia letakkan di atas meja. "eh, ada apa Kev?" tanya Alina bingung.


"Dari tadi di ajak bicara ga dengar." kata Kevin.


"eh...iya aku dengar, baiklah aku akan menemuinya."


"oke."


Tak jauh dari tempatnya duduk, Rafka menikmati makanan di mejanya bersama wanita di depannya, keduanya terlihat akrab.


"Kev, aku ada urusan, aku pergi dulu ya." Alina segera mengambil tas dan pergi begitu saja.


"Loh kita belum makan." teriak kevin.


"Makan kamu semua." jawab Alina seraya berlalu.


Ia tak tahan melihat Rafka bersama wanita lain, meski ia berusaha menjadi orang asing tapi dia tetap tidak bisa. ia mencegat taksi yang barusan lewat, dan pergi kembali pulang.


...----------------...