The Little Sunshine

The Little Sunshine
BAB 34



RAFKA


6 tahun yang lalu, bagai video yang memutar di otaknya dengan begitu saja. Sepeninggal Alina dari rumah Fandi, belum sempat Alina sampai di gerbang, Fandi berlari mengejarnya.


"Alina!" Alina membalikkan badannya matanya memandang lelaki paruh baya itu berlari ke arahnya. matanya masih mengisakkan tangis pilu.


Sampai di depan Alina, Fandi mengulurkan tangan memberikan sebuah amplop yang terlihat tipis.


"Apa ini paman?" Fandi tersenyum.


"Itu untukmu, dan selanjutnya kau akan tinggal di mana?" Alina menatap nanar di telapak tangannya,


"Mungkin akan ke tempat Bu de Ratri." jawab Alina tersenyum canggung.


"jangan kesana, aku tau Ratri tidak terlalu baik padamu. Pergilah ke Surabaya, dan saya akan membelikan rumah untukmu."


"Tidak paman, jangan!" Alina menggeleng. "Jika bibi tau, beliau pasti akan marah." ucap Alina ia merasa takut hal ini akan terjadi di masa depan.


"Kalau begitu jangan pergi kemana mana, tinggallah di rumah lama, nanti kita pergi ke surabaya, aku akan pastikan kau baik baik saja di sana. saya sudah berjanji dengan Almarhum Ayahmu kelak saya akan selalu menjagamu."


"terima kasih paman, sudah tidak membenciku. Aku sayang sama paman." ucap Alina.


Fandi menarik tubuh Alina untuk memeluknya, setelahnya ia melepas Pelukan itu, Alina berjalan perlahan keluar gerbang, ia kembali ke rumah lamanya, bersamaan ada mbok jah dan Bik Nun yang masih setia bekerja di sana.


Hari berikutnya, Fandi datang membawakan dua tiket menuju Surabaya, sampai di sana, Fandi telah menyewa sebuah rumah untuk Alina tinggali, dan meminta Bik Nun untuk menjaganya.


*


*


*


Seorang pria tengah berbaring di atas lantai, ia merasa sangat kehilangan Alina, betapa gadis kecil itu selalu mengisi ruang hatinya, selalu memberikan kesenangan yang tak terduga, hari harinya semakin sepi, ia seringkali pergi ke club malam, dan sampai hari ini ia masih melakukan hal yang sama, dan ia selalu pulang dalam keadaan tak sadarkan diri, dan entah bagaimana cara dia pulang, ia selalu tergelatak di atas lantai dalam apartemennya.


Kali ini Fandi datang, menemukan laporan dari Ailen yang selalu mengeluh.


Fandi memasuki apartemen Rafka, melihat putranya yang semakin berantakan, sudah sebulan ini Alina dan Rafka tidak menjalin hubungan apapun.


Fandi mengaduk kopi yang baru saja ia buat, Rafka sudah selesai mandi, ia masih merasakan pening di kepalanya, tapi tak ia hiraukan, ia sudah memesan sop dari aplikasi GoFood.


"Ayah, mengapa tidak mengabari ku kalau mau datang?" kata Rafka.


"tidak perlu, ayah hanya ingin memberikan ini." Fandi menyodorkan secarik kertas ke hadapan Rafka, Alis Rafka terangkat ke atas.


"Ayah rasa, kau memerlukannya." lanjutnya.


"tidak.! tidak perlu," Elaknya. Fandi tersenyum miris.


"Jika kau tidak menyukai Rania, untuk apa kau masih mempertahankannya, jawabannya ada pada dirimu sendiri."


"lalu bunda?"


"itu urusan ayah." Fandi meneguk kopi nya hingga tandas.


"Kau hanya perlu mengejar cita citamu, dan yakinkan dia mau menerimamu. ayah akan kembali, setelah selesai menemui teman ayah. kau pertimbangkan lagi keputusanmu." ucap Fandi menepuk bahu putranya sebelum keluar dari Apartemen Rafka.


Rafka masih terdiam, memikirkan perkataan Ayahnya, setelah menghabiskan sop penghilang pengar, ia mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor.


Rafka duduk dengan gelisah di kursi eksekutifnya, entah mengapa perkataan ayahnya masih terngiang di kepalanya, ia takut bunda nya akan merasa syok jika ia akan membatalkan pernikahannya dengan Rania, tapi hatinya memilih Alina.


"Kenapa bos tersenyum?" tanya Ailen keheranan.


Rafka segera menanda tangai dokumen itu, "Satu minggu kedepan, jangan katakan aku pergi keluar kota, dan kau urusi kantor seperti biasanya." Ailen merasa sangat terkejut.


"Bos mau kemana?" tanya Ailen menelisik.


"Ada sesuatu yang harus aku bereskan, jika bunda menelpon katakan sebisa mungkin, aku serahkan perusahaan ini padamu." Rafka menwpuk bahu Ailen tersenyum dan melangkah keluar.


Ailen merasa ngeri dengan bos satu satunya, kadang tertawa, kadang marah, Ailen menghela nafas berat, "Dia bos, aku mah bisa apa."


#


Setibanya di Surabaya, Rafka mencari alamat yang di berikan Fandi~Ayahnya. Di sebuah rumah yang sederhana, terlihat seorang gadis remaja, yang memiliki rambut bergelombang sepunggung sedang membaca buku di teras rumahnya. matanya terlihat fokus dan tenang.


Rumah berwarna cream itu tidak sebesar rumah yang dimiliki Alina saat di jakarta, cenderung rumah ini terlihat minimalis tapi sangat indah dan nyaman di sertai banyaknya bunga bunga mawar yang di tanami sendiri oleh Alina.


"Alina." Gumam Rafka pelan ke arah dirinya sendiri. Ia berjalan masuk ke gerbang yang berbentuk besi itu.


"Selamat siang?" Rafka menggunakan kaos hitam yang tertutup jaket berwarna coklat, memakai celana jeans, dan itu terlihat sangat keren dan lebih santai, tidak seperti biasanya yang selalu memakai jas dan dasi, dan terlihat selalu rapi.


Alina mengalihkan padangan dari buku ke sumber suara seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk, ia mengernyitkan alis.


"Siapa?" tanya nya. Rafka membuka kaca mata hitamnya. lantas tersenyum lembut.


"Rafka." gumamnya pelan tapi masih bisa di dengar Rafka. ia membalikkan badan pergi menghindar, namun lengannya sudah di tarik oleh Rafka..


Mata indahnya menatap cengkraman tangan Rafka, tatapan matanya sangat tajam, "Pergi!" usirnya, tangannya menghempaskan cengjraman tangan Rafka. ia berlari masuk kedalam rumah dan membanting pintu, tubuhnya meluruh di balik pintu dan air mata yang sudah merembes di pipinya.


"Aku tau kau sangat mencintaiku Al, aku datang kesini karena aku sangat mencitaimu, aku tak bisa hidup tanpamu." ucapnya keras agar Alina bisa mendengar suaranya. "Aku akan tetap disini sampai kau mau menemuiku." lanjutnya.


Hari berganti malam, tapi Rafka masih tetap berdiri kokoh di depan pekarangan. ia tidak memperdulikan ada terpaan hujan membasahi tubuhnya, yang ia inginkan, gadis kecil itu memaafkannya dan mau menjalani hidup bersamanya.


Alina masih terdiam di dalam kamarnya, ia masih bisa melihat melalui balkon yang berada di dalam kamarnya.


"Non Alina." Bik Nun masuk dan menghampiri nona mudanya.


"Kenapa bik?" tanya Alina tanpa menatap Nun yang berdiri di belakangnya.


"Kasihan tuan Rafka, non, dia pasti sangat kedinginan di luar. apalagi ini hujan. temui dia non. bibik takut kalau tuan rafka sakit." ucap non.


"biarkan saja mbok."


"tapi non."


"sudahlah bik, lebih baik kamu pergi istirahat, aku capek."kata alina meninggalkan non berdiri di balkon. Alina masuk ke dalam selimut dan memejamkan mata. meski sebenarnya hatinya gelisah. tapi egonya lebih besar dari pada perasaannya.


...----------------...


Rafka tertidur namun ia bergerak gelisah. semua seakan terlihat sangat nyata, ia terbangun dan melihat jam yang berada di layar ponsel masih jam 3 dini hari. ia mengambil gelas yang biasa ia simpan di atas nakas,, tapi gelas itu terlihat kosong, ia pun berjalan keluar menuju dapur untuk sekedar minum. kemudian ia kembali ke kamarnya, namun sebelum sampai pintu kamarnya, ia melewati kamar kevin yang berada tepat di samping kamarnya. ia membuka pintu putranya, namun yang ia lihat adalah Alina tertidur di bawah kasur dan bersandar pada kedua tangannya yang ia gunakan sebagai bantalan.


"Masih bisa tidur dengan posisi seperti itu?" gumamnya pelan. ia masuk ke kamar kevin, memberikan bantal pada kepalanya lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Apakah kau tidak mengingat semua masa lalumu Al." gumamnya pelan. ia menatap wajah lelah alina, masih sama. masih cantik seperti dulu, tetapi sekarang makin cantik dan lebih terlihat elegan dan manis. bulu mata yang lentik itu bergerak gerak lucu, dan mencari posisi aman. kemudian ia pergi keluar menuju kamarnya sendiri.


❤❤❤