
Kini Rania dan Rafka sudah berada di Perjamuan, tepatnya di salah satu hotel bintang lima.
"Raf, makasih ya udah mau temenin aku menghadiri perjamuan ini." kata Rania tersenyum lebar.
"Ya ini karena Bunda." jawab Rafka tanpa ekspresi.
Rania mengajak Rafka ke arah teman temannya, ia memperkenalkan Rafka sebagai calon tunangannya, Rafka hany diam dan tak ingin membahas ini lebih lanjut, hanya Rania yang terus berbicara.
"Ran, aku akan ke toilet sebentar." izin Rafka.
"ya." kata Rania seraya mengangguk dan tersenyum.
Rafka dengan langkah elegan pergi menuju toilet yang tak jauh dari aula.
***
"Sayang, Alina!" panggil Bhara menghampiri Alina yang sibuk belajar di ruang tengah.
"Papa! papa belum tidur?" tanya Alina menghampiri papanya dan membantu mendorong kursi rodanya.
"Papa belum bisa tidur," sahut papanya. "kau sedang apa nak?" tanya Bhara melihat buku yang masih terbuka.
"Ini pa, membuat laporan tentang ilmu fisika." kata Alina.
"emm, papa besok akan ke jakarta, kau di rumah sendiri ga apa kan?" tanya Bhara.
Alina menggelengkan kepala, "Ada beberapa masalah yang harus papa urus." kata Bhara.
"oh, apa ini soal kerjaan?" tanya Alina.
"Ya bisa dibilang begitu,"
"baiklah papa,"
"terima kasih sayang, kau anak papa yang paling pengertian." kata bhara mengelus pucuk rambut Alina.
esok pagi, Bhara sudah bersiap melakukan perjalanan menuju jakarta bersama bang Diman.
"Papa berangkat ya sayang." pamit Bhara sebelum memasuki monil.
"Papa hati hati ya, alina akan selalu menunggu papa." ucap alina.
Bhara tersenyum, sebelum pergi ia memeluk putri kesayangannya kemudian masuk ke dalam mobil, Alina melambaikam tangan tat kala mobil yang di tumpangi papanya sudah bergerak.
"dah papa." ucap alina, setelah mobil sudah menghilang dari pandangan ia pun memasuki rumahnya, kemudian keluar lagi dengan membawa rantang dan mengembalikannya kepada bibi shaquell. ia berjalan kaki dari rumahnya menuju rumah pamannya.
"Assalamualaikum, bi..." Alina mengetuk pintu utama rumah Fandi.
"ya," sahut dari dalam, terdengar pintu bergerak terbuka.
"Non Alina." ucap Bik laila Art rumah Fandi. Alina tersenyum.
"Bik laila, apa bibi shaquel ada di rumah bik?" tanya alina.
"Ada Non, ayo masuk." Laila mempersilahkan masuk.
"Bibi." panggil Alina.
Shaqael yang tadinya sibuk mengulen adonan, menoleh. "Alina, sayang kok datang kemari ada apa?" tanya shaqael kemudian mencuci tangannya, dan adonan pun di lanjutkan oleh bik laila.
"ini bik, mau balikin rantang bibik, bibik sedang apa?" tanya alina.
"lagi buat kue sayang, nanti malam calon besan bibik mau datang." ucap shaqaella.
"oh," kata alina tersenyum. "boleh alina membantu bik, alina udah lama ga bantuin bibik."
"tentu dong sayang, yuk."
Shaqaella pun mengajak Alina menuju dapur dan menceritakan segala hal, Alina tersenyum seraya mendengarkan bibi shaqaella dan memperhatikan shaqael membuat adonan.
"Nah setelah ini, masukin ke dalam oven deh, kita tunggu 30 menit." ucap Shaqael memasukan loyang ke dalam oven.
Setelah Alina mencuci tangan ia duduk di ruang makan, tak berapa lama, fandi masuk karena waktunya makan siang.
"Loh Alina, mana papa kamu?" tanya Fandi.
"Papa, pergi kejakarta paman, kata beliau ada masalah tentang kerjaannya dan satu minggu lagi ia akan kembali."
"ohh.."
"Alina, kamu makan disini ya sayang, bibik masak banyak kali ini." ucap shaqaella.
"iya bik makasih." ucap Alina.
Semua makanan sudah tertata di atas meja, mereka dengan diam memakan makan siang mereka. Entah kenapa hati Alina sedikit menghangat, keluarga yang harmonis,pikir Alina. setiap kali moment kebersamaan seperti ini ia selalu teringat akan sosok mama yang waktu kecil dulu selalu merawat dia.
Tapi, sekarang ia harus melupakan segala kenangan manis itu, ia membenci mama-nya yang telah meninggalkannya demi orang lain. hatinya terasa sakit ketika menhetahui, mamanya lebih mencintai orang lain di banding papa-nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam Hari, Keluarga Rania datang berkunjung, dengan segala persiapan Mereka mencari hari dan bulan untuk pernikahan Rafka dan Rania. dan itu tanpa sepengatahuan Rafka, dan akhirnya waktu sudah di tentukan 6 bulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan yang mewah dan megah di salah satu hotel berbintang lima yang di inginkan oleh Keluarga Rani.
Alina duduk di sofa ruang tengah, sedang menikmati acara televisi. di dalam televisi tersebut ada sekilas berita tentang kecelakaan di jalan tol jakarta bandung yang mengakibatkan seseorang tewas, dan di perlihatkan plat mobil yang tertera.
"PAPA !" Pekik Alina meraung.
Mbok jah yang tadi sedang di dapur tergopoh gopob lari menghampiri Alina, terlihat Alina syok akan kejadian yang menimpa papanya, menangis histeris.
"Non Alina.!" mbok jah memeluk anak majikannya dengan erat.
"Papa mbok! papa!" kata Alina menangis di pelukan mbok jah.
Mbok jah ikut menangis dan saling memeluk. Di dunia ini tidak ada yang abadi, manusia hidup dan akan kembali pada sang pencipta.
"Sabar ya non." ucap mbok jah.
Alina terus menangis, "kenapa mbok, kenapa papa harus pergi dengan secepat ini, papa mbok papa!"
***