The Little Sunshine

The Little Sunshine
Bab 1



Prolog


Alina Alexander. Seorang gadis polos berusia 17 tahun yang merupakan Anak tunggal dari pasangan Bhara Alexander dan Aleta Queenby Elvina. Bhara Alexander adalah pemilik perusahaan terbesar yang bertengger di Malaysia dan Aleta adalah seorang model internasional yang sangat terkenal.


Namun, keadaan membalikkan sebuah fakta. Dimana semua kekayaan yang mereka miliki tidak sebanding dengan kebahagiaan yang diharapkan. Uang, Harta dan Tahta bukanlah sumber yang bisa menjadikan kebahagiaan utamanya. Tetapi sebuah hubungan dan kebersamaan bersama keluarga adalah kebahagiaan yang haqiqi yang di miliki setiap manusia.


Alina menghela nafasnya, rumah mewah, uang banyak dan semua sumber kekayaan, justru membuat hatinyanya terasa kosong.


Tidak ada kehangatan sama sekali, saat berada di rumah. Entah siapakah yang menjadi orang tua Alina yang seharusnya, setiap kali mengambil sebuah rapot di sekolahnya hanya mbok jah lah yang peduli.


Alina tertunduk lesu, yang seharusnya menjadi wali setiap kali menghadapi setiap masalah, tidak ada seorang pun dari ayah Alina ataupun Ibu Alina yang datang. Hanya mbok jah yang selalu mewakili kedatangan mereka.


"Non, dimakan sarapannya non. nanti keburu dingin." Ucap mbok jah yang sedari tadi hanya berdiri di belakang bangku Alina.


"Mbok." panggilnya dengan nada sendu. Kesedihan yang Alina alami saat ini, mbok jah sangat mengerti. ketidakhadiran kedua orang tuanyalah yang membuat Alina merasa hidup terasingkan.


"Iya non." sahut Mbok jah.


"Sebenarnya, aku ini anak siapa mbok. mengapa mereka tidak peduli denganku?" Ucap Alina sedih.


Sejenak mbok jah dan bik Nun saling tatap. Mbok jah sedikit maju dan mengelus pucuk rambut Alina.


Kepala Alina ia sandarkan di perut mbok jah yang berdiri di sampingnya. tangannya mengelus rambut Alina yang tergerai.


"Tentu saja anaknya tuan dan nyonya, non." sahut mbok jah.


"Kalau aku anak mereka, kenapa mereka tidak pernah menemuiku, atau aku adalah anak pungut mereka." sangkal Alina.


"Tidak non, non itu memang anak kandung tuan dan nyonya. Mboklah yang menyaksikan itu semua non." sahut mbok jah.


Alina mengusap air matanya, lalu merangkul erat perut Mbok jah. "Aku sayang mbok jah." sahut Alina.


"Mbok juga sayang sama non." balas mbok jah. Alina melepas pelukannya. lalu segera menghabiskan susu hangat di sampingnya.


"Sepertinya, Alina akan telat hari ini. Aku berangkat mbok." kata Alina seraya memakai tas punggung.


Mbok jah mengekor di belakang Nona mudanya, tak lupa bik nun ikut menyusul hingga mereka berada di depan rumah mereka. Sebuah mobil mewah sudah menunggu sejak tadi, siap mengantarkan Nona mudanya berangkat ke sekolah.


"Bye, mbok. bye bik Nun." Alina tidak lupa melambaikan tangan. Mobil mewah berangsur meninggalkan pekarangan rumah yang luas dan mewah itu.


Tatapan Alina menuju lurus ke depan, memperhatikan jalan menuju ke sekolahnya. Tak berapa lama, mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di depan gerbang sekolahnya. Alina segera turun. melangkah memasuki gerbang.


"Woi," salah satu siswa tiba tiba menjambak rambut Alina dengan kasar. Alina meringis karena merasakan sakit di kepalanya.


"Elo, udah buat cowok gue mutusin gue. dan itu gara gara elo yang sok jaim sama dia. sekarang lo harus tanggung jawab." ucap gadis itu.


"Hei, sorry ya. gue itu gak pernah goda pacar lo yang mata kranjang itu. dialah yang mau sama gue." sahut Alina membantah.


plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi alina yang mulus. Alina memegangi pipinya yang terasa perih.


"Lo jaga ya ucapan lo." ancam gadis itu.


"Ckckck! lo gak secantik gue. makanya lo di tinggalin sama cowok lo itu." cibir Alina.


Sekali lagi, gadis itu maju dan bersiap menampar Alina. Alina memejamkan mata saat tangan gadis itu hampir mendarat di pipinya.


"Sudah cukup, Alisya!" salah seorang lelaki yang mengenakan seragam yang sama menahan tangan Alisya.


"Lo, apaan si. Gue mau bikin peritungan sama anak cecunguk satu itu." Geram Alisya.


"Sini kalo lo berani!" Tantang Alina.


Tubuh Alisya maju selangkah, tenaga Deni kalah saat menghadang tubuh Alisya. Alisya menyambar rambut Alina yang panjang. Alina juga tak kalah tenaga dengan Alisya. mereka sama sama meraup rambut panjang mereka.


"Stop!" suara pak satpam menghalau pertengkaran mereka. Tetapi mereka tidak menghiraukan teriakan pak satpam.


Pak satpam maju, menahan lengan Alina, begitupun Deni yang menahan lengan Alisya.


"Diam!" salah seorang guru Bk datang menghampiri. Keduanya langsung berhenti dan berakhir di ruang BK


#


"Pak, saya tidak bersalah pak. saya korban disini, dia menyerang saya duluan. hiks hiks hiks. Dia menarik rambut saya ini. hiks hikss hiks....pok tolong beri dia hukuman yang setimpal. kepala say sakit karena ulah dia..." Alisya menunjuk wajah Alina yang babak belur.


"Pak, jangan percaya pak, saya lah yang korban." Balas Alina.


"Diammmm! kalian semua diam!" Ucap Guru Bk itu. Guru itu memijit pelipisnya karena pusing mendengar ocehan mereka yang saling tuduh.


Tak berapa lama kedua orang tua Alisya datang, menatap sengit kepada Alina yang duduk di tepi jendela.


"Pak, bagaimana anak saya pak." Ibu Alisya bertanya dengan was was, melihat anaknya yang juga lebam di pipinya.


"Silahkan anda tanya kepada anak ibuk." sahut guru Bk.


Ibuk Alisya meneliti wajah anaknya yang sedikit lebam. "Pak, anak saya di tindas seperti ini. seharusnya bapak ambil tindakan dong. Ini anak saya pasti merasakan sakit." ucap ibuk itu membela anaknya.


"Loh buk, saya juga sakit kedua pipi saya juga lebam." sahut Alina yang tak mau kalah.


"Diam kamu kalau ada orang tua bicara!" Teriak wanita itu memarahi Alina.


"Kamu, yang selalu membuat anak saya seperti ini. dan luka kamu itu adalah balasan karena membuat anak saya terluka." sahut wanita itu terus membela anaknya. Ada sedikit senang di hati Alisya, tidak perlu menjelaskan dengan susah payah, dia mendapatkan pembelaan yang membuatnya bisa lepas dari hukuman.


Alina mendengkus, apalah arti ucapan seorang Anak kecil seperti Alina. Alina hanya diam, mereka sama sama rakus. melimpahkan kesalahan anaknya kepada Alina.


"Pak, dia memang anak orang kaya, seharusnya, Bapak menindak tegas kepada orang yang tidak mau mengakui kesalahannya. jangan karena uang mereka dan status mereka bapak melepas hukuman dan tanggung jawab karena kami miskin." Ucap wanita terus memojokkan Guru Bk.


Alina hanya bisa menggeleng tak percaya.


Seseorang mengetuk pintu, langsung masuk ke ruang Bk. menatap sejenak ke arah Alina yang duduk di tepian jendela.


"Bapak siapa?" tanya guru Bk itu tidak mengenali pria yang datang menemuinya.


"Saya wali dari Alina Alexander." ucap pria itu lantang.


Sekejap ruangan itu menjadi hening, karena suara pria itu terdengar tegas dan berwibawa.


Tatapan matanya kemudian mengarah pada Alina yang sedang ketakutan.


"Nah, kebetulan. Anak Anda yang membuat anak saya seperti ini. seharusnya anda mengajarinya agar bisa sopan kepada orang lain." Wanita itu tanpa menyerah menuduh Alina.


"Sudah ibu Danisa, saya mohon anda keluar!" kata guru Bk akhirnya, ia juga merasa pusing karna ibu kandung Alisya masih saja terus mengoceh tiada hentinya.


Danisa menatap sengit kepada Pria yang menjadi wali Alina saat ini. Lalu menatap tajam ke arah Alina.


Pria itu menatap serius kepada Guru Bk dan mendengarkan apa yang di sampaikan oleh guru bk itu.


"Begini pak, saudara Alina tadi sedang melakukan pemukulan kepada saudara Alisya. sehingga saudara Alisya merasakan sakit di tubuhnya, jadi. anda sebagai wali murid, saya meminta agar memberikan nasehat kepada saudara Alina. dan untuk saat ini saya memohon maaf kalau saudara Alina akan di sekor selama tiga hari." Ucap guru bk menyampaikan nasehat.


Pria itu mengangguk lalu dengan ramah meminta maaf. "Baik pak, saya akan menasehati Alina. supaya tidak melakukan hal seperti ini di masa depan, sekali lagi saya minta maaf." ucap pria itu.


Guru Bk itu tampak tersenyum, lalu menyambut jabatan tangan dari pria itu.


Alina berjalan lesu seraya menggendong tas di dadanya. sedangkan pria itu berjalan menyamai langkah Alina.


"Saya antar pulang." ucap pria itu.


"Tidak mau, saya tidak mengenal anda." ucap Alina sehingga membuat langkah pria itu berhenti.


Alina berjalan sedikit cepat agar segera sampai di jalan raya.


"Hei." Seru Pria itu mengikuti langkah Alina.


"Saya tidak mau." Balas Alina menepis tangan Pria itu yang sempat menahan tangan Alina.


"Kamu itu tanggung jawab saya, tidak seharusnya kamu menolak tawaran saya, seharusnya kamu bersyukur karena saya mau menanggung masalah kamu."


Langkah Alina terhenti, yang membuat langkah Rafka juga ikut terhenti. Alina membalikkan badannya menghadap Rafka, mengangkat wajahnya menatap manik hitam Rafka yang dalam.


"Om itu bukan orang tua saya, tidak perlu menanggung segala urusan saya. jadi om bisa pergi." Lirih Alina. lalu meninggalkan Rafka yang masih membeku menatap punggung Alina yang menghilang dari pandangannya.


Alina mengalirkan air mata yang sejak tadi ia tahan, kenapa semua kesalahan di limpahkan kepadanya. Tak berapa lama, Mobil taksi yang ia tumpangi memasuki sebuah pekarangan yang luas.


Selesai membayar, Alina langsung berlari memasuki rumah. Bik Nun yang sedang mengepel lantai terbengong saat mendapati anak majikannya yang tampak acak acakkan menaiki anak tangga.


"Non Alina." Gumam Bik Nun menatap punggung Alina berlari dan memasuki kamar pribadinya dan menutup pintu dengan cara membanting dengan keras, sehingga mbok jah yang berada di dapur terkaget mendengar gebrakan pintu yang terdengar nyaring.


"Ada apa Nun?" Tanya Mbok jah menghampiri Nun.


"Non Alina mbok, kayaknya terjadi sesuatu dengannya, tadi berlari sambil nangis kayaknya." ucap Bik Nun memberi penjelasan.


"Kasihan ya non Alina." sahut mbok jah, memandangi pintu kamar Alina yang tertutup rapat.


Saat siang menjelang, suara debum mobil memasuki pekarangan rumah dan terhenti tepat di depan pintu utama.


Bhara Alexander, memasuki rumah mewahnya. "Tuan." Mbok jah langsung menghampiri tuan besar menerima jas yang ia tanggalkan.


"Dimana Alina, Mbok?" Tanya Bhara yang mendudukkan dirinya dia atas sofa ruang tengah.


"Non Alinaaaa...." Ucap Mbok jah tertahan lalu tatapannya mengarah pada lantai dua.


"Dia sudah pulang mbok?" tanya Bhara mengernyitkan dahi.


"i-iya tuan." sahut mbok jah gugup.


Bhara kemudian bangkit, menaiki anak tangga menuju kamar Alina, di ketuknya kamar alina beberapa kali. tapi tidak ada sahutan dari dalam.


"Alina.....sayang!" panggil Bhara masuk ke dalam kamar Alina.


Terlihat gundukan selimut di atas ranjang, dengan langkah pelan Bhara mendekat. Ada isakan kecil di balik selimut. Bhara duduk di tepi ranjang. menatap lurus ke depan seraya menajamkan telinganya.


"Sayang...." Tangan Bhara terulur, membuka selimut yang menutupi tubuh Alina, tapi Alina menahannya.


"Papa, di sini." Ucap bhara, Selimut yang menutupi tubuh kecil yang sedang tertunduk di papan ranjang pelan pelan membuka. Bhara tersenyum menatap anak semata wayangnya.


"Papa!" Alina merangkul tubuh kekar ayahnya erat.


"Alina kangen....." ucapnya tertahan karena isakan tangis yang tak bisa terhenti.