The Little Sunshine

The Little Sunshine
Bab 47



Di restoran,


Giandra dan Alina duduk berdampingan, kali ini mereka akan melakukan pertemuan dengan Rafka sesuai perjanjian mereka.


"Al, gue takut kalau penyamaran gue ketahuan." Giandra menunjukkan kegugupannya.


"Udah deh, lo jangan takut, gue gak ada pilihan lain. selain itu gue bakalan investasi ke restoran lo ini. kalau gue berhasil dapet kepercayaan Rafka itu." sahut Alina yakin kalau pertemuannya kali ini akan berhasil.


"Kalau enggak?" tanya Giandra.


"Ya itu pikirkan nanti, yang pasti lo harus akting sebagus mungkin supaya si Rafka ini bisa percaya dengan ucapan gue." sahut Alina.


Giandra terdiam, tidak ingin melanjutkan obrolannya. Rencana Alina terlalu menantang bagi kehidupan Giandra, Rafka adalah pebisnis yang anti dalam persaingan, jika kedok mereka di ketahui maka yang akan menjadi taruhannya adalah usaha restoran yang sudah berkembang lama, dan tentu saja penghasilannya akan menurun.


"Al, mending batalin deh, pertemuan ini. gue takut usaha gue bangkrut gara gara ulah lo ini." Giandra memohon ampun kepada Alina.


"Dra, lo udah setuju bahkan gue udah kasih depe ke rekening lo. Pokoknya lo bantuin gue." Alina menatap Giandra tajam sehingga nyali Giandra bener bener menciut sekarang.


Tak lama Rafka dan Aileen memasuki restoran yang sudah di pesankan oleh Alina.


"Hai." Alina bangkit saat Rafka mendekat ke arah mereka, begitu juga Giandra seperti seorang bak pengusaha yang berwibawa.


Giandra ikut bangkit di sertai senyum ramah yang ia lemparkan kepada Rafka, Tapi Rafka tidak memperdulikan Giandra, ia langusng mengambil duduk berhadapan dengan Alina.


Giandra menelan salivanya susah payah, Langsung kembali duduk di tempatnya.


"Raf, ini pacar aku, Max." ucap Alina memperkenalkan Giandra adalah pacarnya Max.


"Max." Ucapnya mengulurkan tangan.


"Ehem, apa anda pacarnya Alina?" Sahut Rafka tanpa sedikitpun membalas uluran tangan Giandra.


Tangan Giandra yang menggantung ia simpan kembali. "I-iya." sahut Giandra mencoba untuk tidak gugup.


Rafka menatap Giandra seolah menilai penampilan Giandra, kemeja biru tua tak berdasi di balut jas berwarna hitam.


"Kamu lulusan apa?" tanya Rafka ingin tau.


Giandra menoleh ke arah Alina, Alina memberi isyarat untuk segera menjawab pertanyaan Giandra.


"Sa-saya lulusan S1 jurusan Ekonomi." sahut Giandra.


"Apakah kamu tidak tau kalau saya dan Alina adalah suami istri?" mampus, giandra seakan tersudut, apalagi di sebut perusak rumah tangga orang.


"Ma-maaf pak, saya sungguh tidak bermaksud seperti itu, saya beneran hanya membantu alina saja." Alina melotot tajam ke arah Giandra yang secepat itu malah membuka kedoknya sendiri. Alina mengalihkan pandangannya ke arah Rafka yang matanya melotot tajam. di sudut bibirnya ada seringai tipis.


"Al, jangan paksa gue lagi. sorry Al." Giandra secepat mungkin kabur dari singga sananya.


"Ndra." panggilnya melalui isyarat.


Tetapi Giandra tidak memperdulikan, Giandra memilih kesejahteraannya dari pada masa depannya hancur.


Alina meringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Di tambah Tatapan tajam Sang Rafka Shaquelle Zafran.


Alina terdiam, masih terus menunduk, sambil terus memainkan jari jemarinya.


"Ayo pulang." Rafka bangkit dan berdiri di samping Alina.


"enggak mau." tolak Alina.


Rafka menarik tangan Alina kasar, lalu menyeretnya masuk ke mobil, tidak peduli pandangan orang orang yang mencibirnya, yang penting Saat ini Alina bisa berada di sisinya lagi.


"Kenapa?" tanya Rafka saat sudah di dalam mobil.


"Kenapa apanya?" Kata Alina balik bertanya.


"Iya kenapa kamu ingin bercerai dengan ku, dan malah membuat kebohongan besar di depanku." sahut Rafka.


"Aku membenci kamu Raf!" bentaknya.


"Alasannya apa, aku akan mengubahnya sesuai yang kamu inginkan." Sahut Rafka.


"Kau pernah membuat aku sakit." mata Alina berubah sendu saat memikirkan bagaimana hancurnya saat itu.


Rafka terdiam,


"Di saat aku hamil anak kamu, kau malah pergi dengan wanita lain, bahkan kau tak menghiraukan aku yang kesakitan sendirian." racaunya.


Rafka mengelus rambut Alina pelan, Alina semakin terisak.


"Bahkan dengan bahagianya kau bilang akan menggelar pernikahan besar dengan wanita itu, apa kamu tidak sadar kalau aku sangat sakit selama ini." lanjut Alina. bahkan air matanya semakin deras.


"Kalau bukan paman Fandi, sampai sekarang aku memilih tidak akan pulang, biarlah aku hidup seorang diri di sana, kenapa aku perduli sama orang, kenapa aku bodoh, mencintai orang b*****k seperti kamu." Mendengar penuturan Alina Rafka menarik tubuh Alina kepelukannya, membiarkan Alina menangis dan bersandar di pelukannya.


Mobil tengah melaju di jalanan, Ailenn yang merangkap sebagai asisten dan sekertarisnya itu merasa iba dengan apa yang di ceritakan Alina.


Tangan Rafka terkepal erat di sisinya, tidak tau bagaimana memulai menceritakannya yang penting saat ini, ia harus bersikap tenang dan menahan Alina agar terus disisinya.


Mobil terhenti di salah satu kawasan rumah Elit, Rafka menggendong tubuh Alina yang kecil di dadanya.


"Mama." lirih Cavin saat melihat Papanya membawa masuk Alina.


Salah satu pengasuh Cavin menahan tubuh kecil Cavin saat Rafka mengisyaratkan kepada pengasuh Cavin.


"Maaf tuan." sahut pengasuh cavin menunduk.


Tersirat rasa kesedihan di mata Cavin memandang punggung besar itu menaiki lantai dua.


Alina tertidur pulas diatas ranjang, sesak di dadanya yang selama ini ia tahan akhirnya merasa lega. Rafka mengelus pucuk rambut Alina pelan, menatap wajah cantik itu dengan seksama.


"Andai saja kamu tidak langsung meninggalkan aku begitu saja, maka aku tidak akan se menyesal ini." batin Rafka.


...****************...