
Pagi menjelang, Alina mengerjap beberapa kali. lalu melepas selimut yang menempel di tubuhnya segera keluar dari dalam kamar pribadinya. Semalam ia bermimpi buruk,
"Pa!" Lirih Alina mencari Bhara sang papa ke dalam kamar. Tetapi tidak menemukan Ayahnya, pikirannya semakin melayang, ia takut semua yang terjadi adalah mimpi.
Ia menggerakkan kakinya ke ruang kerja Bhara. "Pa." lirih Alina saat memasuki ruang kerja Bhara. Dan ternyata Bhara sedang duduk dengan lampu yang hanya menyinari meja kerjanya.
"Papa." Panggil Alina, sehingga Orang yang merasa di sebut namanya langsung mendongak, menatap langkah alina yang semakin mendekat.
"Iya sayang." sahut Bhara. Alina langsung memeluk Bhara dengan erat, sedangkan yang di peluk menaikkan satu alisnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Papa Alina.
"Semalam aku mimpi buruk, takut papa pergi lagi." sahut Alina masih bergelung di dada bhara.
"Tidak sayang, papa akan tetap disini." ucap bhara. "kamu sudah sarapan?" sambungnya. Alina menggeleng. "Ayo kita sarapan, sepertinya papa harus mengisi perut papa untuk mengumpulkan tenaga untuk berlari pagi hari ini." ucap Bhara seraya menggoda anak tunggalnya.
"Ish, papa." Alina tersenyum dan melepas pelukan dari dada papanya.
keduanya menuruni tangga, dan berakhir di meja makan, sungguh ini adalah kebersamaan yang menjadi harapan bagi alina, kelak nanti alina berharap bisa berkumpul dengan ibunya seperti dulu kala saat mereka selalu ada.
"Pa, apakah mama tidak akan pulang?" tanya alina saat berada di ruang makan.
"Mama sedang melakukan perjalanan menuju new york sayang, mungkin bisa dua atau tiga bulan di sana." ucap bhara. Alina mengangguk, meski dalam hatinya berharap ibunya akan datang dan memeluknya.
"Ayo kita makan, dan setelah ini kita melakukan lari pagi. sepertinya makan papa banyak sekali akhir ini, dan harus segera di buang biar lemaknya tidak menumpuk." sahut bhara dengan senyum menawannya.
"Ish papa, papa itu terlalu kurus, jadi ga pa-pa kalau makannya banyak." sahut Alina.
Di pekarangan rumah,
Alina dan Bhara melakukan lari pagi dengan mengelilingi taman di depan rumahnya yang luasnya hampir mencapai 1000 meter persegi itu. Alina bernafas terengah engah saat langkah kakinya tidak bisa menyamai langkah bhara yang cenderung lebih lebar darinya.
"Pa, berenti, Alina capek." ucap alina.
keduanya sudah berlari mengelilingi taman sebanyak tiga kali, sehingga alina sudah tidak cukup kuat lagi mengelilingi taman untuk yang keempat kali. Alina berhenti dan berjongkok seraya mengatur nafasnya yang terengah.
Kemudian ponsel bhara berdering nyaring, sehingga langkahnya harus terhenti dan menerima panggilan tersebut. Alina memanfaatkan kesempatan itu saat bhara berhenti mengangkat telepon.
"Papa." Lirih Alina, lalu meninggalkan bhara dan masuk ke dalam rumah.
Setelah beberapa menit, bhara memasukkan kembali ponsel pintarnya le dalam kantung celana lalu mengikuti langkah Alina memasuki rumah.
Alina meletakkan gelas kosong di meja, Bhara melangkah masuk.
"Curang ya," ucap bhara dengan senyum seperti orang marah.
"enggak dong, alina gak curang, papanya aja yang berhenti sendiri. sekarang mana hadiahnya?" tagih alina saat bhara sudah meletakkan gelas kosong di meja.
"Yach, gak ada hadiahlah, curang kok. kan seharusnya papa yang di kasih hadiah karena papa yang menang seharusnya."
Alina memanyunkan bibirnya dengan tangan bersedekap di dada.
"Enggak, pokoknya Aku mau hadiahnya papa." sahut alina.
Bhara mengetuk ngetuk dagunya seperti sedang berpikir. "baiklah, makan pizza, mau?"
"pizza?" tanya alina bertanya sekaligus memastikan.
"Ya," sahut bhara mengangguk mantap.
"Yeay,..." ucap Alina dengan mata berbinar.
...****************...