
Rafka dan Aileen baru saja memasuki sebuah Restoran, mereka baru saja akan melakukan Meeting bersama client di tempat tersebut, memang mereka tidak suka menunggu jadi keduanya langsung duduk di hadapan client-nya. setelah berunding beberapa lama, akhirnya mereka menjabat tangan tanda persetujuan.
"Terima kasih pak Rafka, ternyata selain muda. anda juga sangat kompeten dalam berbisnis." ucap seorang pria paruh baya itu tersenyum.
"Sama sama pak Aditya, saya bisa seperti ini karena saya juga belajar dari pak Adit." ucap rafka tersenyum.
Setelah pertemuan mereka, Aditya lebih dahulu meninggalkan Restoran setelah berpamitan, karena ia bilang akan melakukan perjalanan kembali ke Surabaya.
"Bos, setelah ini kita free, apakah bos akan kembali atau ke tempat lain." kata ailen sambil menata kertas di depannya bersiap untuk pergi.
"Oh sorry," suara wanita yang berjalan melewati bangku yang sedang di duduki Oleh Rafka dan Ailen. membuat keduanya bersamaan melihat seorang wanita tersebut yang sedang melihat kakinya yang tergores karena pecahan kaca yang jatuh ke lantai.
Ailen yang lebih dekat mencoba untuk menunduk dan melihat seberapa parah luka yang tergores kaca.
"Nona, kau tidak apa apa?" mata ailen mendongak, wanita itu tersenyum, deg... ailen merasa terkejut selama 6 tahun lamanya tidak bertemu, ia harus bertemu lagi.
Ailen segera beranjak. "Nyonya!" sambung Ailen dengan nada terkejut. Alina mengerutkan dahinya, siapa orang ini sehingga bisa mengenalnya.
"Apakah anda mengenal saya?" tanya Alina bingung, setaunya dia tidak mengenalnya bahkan pria ini terlihat sudah berumur tapi masih terlihat tampan dan muda.
Ailen mengerutkan dahinya, apa yang sedang terjadi sehingga orang ini telah melupakannya, sejenak ia menatap Rafka, bahkan Rafka hanya terdiam dan menatapnya saja tanpa ada reaksi apapun.
"Hemp, maaf tuan, sepertinya kita tidak saling mengenal." ucap Alina tersenyum kemudian berlalu menuju arah belakang.
Ailen duduk dengan gerakan tergesa menatap sang Bos yang berwajah datar, apakah orang ini sudah tidak memiliki perasaan lagi terhadap wanita itu, terlihat jelas di dalam pikiran Ailen masih banyak pertanyaan.
"Apakah ini karma atau suatu keajaiban Len?" tiba tiba Rafka membuka suaranya, tatapannya menjadi suram dan kosong.
Ailen masih nampak tidak mengerti, ia terdiam menatap sang bos.
Rafka tersenyum bahkan terlihat senyuman itu terlihat mengejek pada dirinya sendiri.
"Aku lelaki yang berengsek kan?" lanjut Rafka.
"Bos!" Ailen merasa Bosnya itu di landa patah hati. Rafka menoleh sekilas kemudian mulai bangkit. Ailen segera ikut bangkit dan membawa tas yang berisi banyaknya dokumen.
Selama perjalanan arah kantor, Rafka hanya terdiam, Ailen tak berani lagi bersuara. ia sesekali menatap bos nya itu melalui kaca spion. sampai di depan loby kantor, Rafka tidak bergerak sedikitpun. Ia masih terdiam beberapa lama.
"Pergi ke Vila." Ailen terkejut, ia melihat sekilas dari spion kaca mobil hingga akhirnya ia mengangguk patuh. perjalanan kali ini hanya tersa hening. Menuju Villa membutuhkan waktu dua jam dari jakarta, entah kenapa terasa lebih rumit menjalani hubungan seperti ini.
Sampai di Villa, Rafka segera masuk dan di sana terlalu banyak kenangan saat masih berpacaran bersama Alina. setiap kali ia ngambek, Alina pasti akan datang ke sana bersembunyi beberapa waktu. Rafka memandang foto pernikahannya, dengan pakaian yang senada serba putih, Alina nampak bahagia. meski tidak mendapatkan restu dari Shaqaella, Rafka bertekad tetap menikahi gadis itu, yang mana sejak sedari dulu, ia memang sudah sangat menyukainya.
Ailen dalam diam menatap sang bos, dan masih dalam posisinya berdiri di sampingnya seperti patung.
"Menurutmu? apa yang harus aku lakukan?" Tatapan Rafka masih terpaku pada sebuah foto yang terpajang didinding yang terlihat sama tinggi dengan manusia. tapi pertanyaan itu justru tertuju pada Ailen yang berdiri diam.
"Bos, jika Nyonya telah kembali kenapa bos justru seakan acuh kenapa bos tidak memulainya dari awal?" kata Ailen.
"Ya, tapi aku sudah terikat janji dengan bunda bagaimana aku bisa kembali padanya, dan juga cavin. ia akan di masukkan ke panti asuhan jika aku kembali dengan alina." Ailen terkejut mendengar penuturan sang bos, jadi ia sudah tau jawabannya sekarang. selama ini bos pergi ke jepang karena masalah ini. lalu dia kembali bersamaan Sang kekasih juga kembali.
"Tapi bos, Apakah nyonya telah melupakan sesuatu sehingga tidak mengingat apapun."
"Aku kira juga seperti itu. entahlah, tapi beberapa tahun aku memang mendengar dia kecelakaan, dan separuh ingatannya ia adalah anak gadis yang masih berusia 18 tahun."
"Jadi...!!"
"ya seperti itulah, aku saat tau juga sangat terkejut, tapi aku bisa paham karena hal ini, beberapa waktu lalu aku melihat dia masuk rumah sakit."
"Apakah bos sudah menyelidiki apa yang terjadi pada nyonya?" Rafka menggelengkan kepalanya. ia juga tak tau.
"Ailen, kau bisa kembali, aku ingin menenangkan pikiranku, mungkin dua hari saya akan menginap disini." kata Rafka.
"Lalu, bagaimana dengan tuan kecil." tanya Ailen.
"Alina yang menangani," sahut Rafka. Ailen bahkan merasa sangat terkejut lagi.
"Maksud bos.?" tanya ailen bingung.
"Sudahlah, kau bisa kembali ke kantor." kata Rafka.
akhirnya ailen berpamitan dan kembali ke jakarta.
*
*
*
Alina, setelah pertemuannya dengan Abbas selesai, alina meluncur ke sekolah dimana Cavin bersekolah di sana. ia keluar dari mobil taksi yang ia tumpangi setelah membayarnya. ya sejak dia mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu ia tak berani lagi menyetir mobil, jadi ia lebih suka menaiki taksi. ia berdiri di depan pintu kelas Cavin, di mana sang ibu ibu lain sedang menjemput anak mereka.
Tak berapa lama, anak anak tk itu keluar satu persatu hingga Akhirnya cavin juga ikut berjalan keluar.
"Cavin!" panggilan yang lembut dan selalu sebagai candu buat cavij, ia tau itu adalah mamanya, Alina.
"Mama!" pekik Cavin kegirangan, ia langsung menampilkan senyum cerianya, Alina pun mencium pipi gembulnya dan kemudian ia menggandeng anak kecil itu keluar dari sekolah.
"Mama, kita sudah lama tidak pernah jalan jalan." ucap Cavin.
"Ooh, jalan jalan ya, memangnya Cavin maunya kemana?" tanya Alina, manik matanya menatap Cavin yang sedang berpikir.
"Hemmp, aku tau! gimana kalau kita ke dufan!" kata Cavin.
"Dufan ya." kata Alina berlagak seperti sedang memikirkan sesuatu. Cavin pun menatap Alina dengan tatapan puppy eyesnya, sehingga ia merasa tak tega, akhirnya Alina mengangguk setuju.
"yeay...." pekik Cavin senang lalu memeluk Alina dengan erat.
"Pak ke dufan ya." ucap Alina pada sopir taksi.
"baik non." jawab sang sopir seraya mengangguk. sopir itu pun bergegas melajukan mobilnya menuju Dufan.
...****************...