
Alina menggeliat ketika pinggangnya tertumpu seperti batu besar yang menimpanya, ia membuka mata menyesuaikan cahaya yang ada di dalam ruangan, ia melirik pinggangnya, ternyata itu adalah lengan kekar milik suaminya, dengan perlahan ia menggeser lengan kekar itu ke samping, lantas ia pergi ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya agar lebih segar.
Rafka bergerak mencari sosok perempuan yang semalam tidur bersamanya, namun di sampingnya terasa kosong, sayub sayub terdengar suara air sower yang menyala di dalam kamar mandi, sesaat ia pun merasa tenang, dan melanjutkan tidurnya.
Begitu alina keluar kamar mandi, ia mengenakan jubah mandi. ia kebingungan berganti dengan apa. perlahan ia membangunkan suaminya.
"pak, bangun!" kata alina sambil menggoyangkan lengan rafka. tapi seakan rafka enggan untuk bangun, ia hanya bergumam tidak jelas dan memposisikan dirinya membelakangi Alina yang duduk di tepian ranjang.
"pak!" ucap alina lagi, ia terus saja mengganggu tidur rafka, sehingga sang empunya merasa tidak nyaman.
"Ada apa sih sayang." rafka mendudukkan dirinya di sandaran ranjang sambil mengucek matanya.
"a-aku." Alina mendadak gugup mendengar perkataan sayang dari mulut rafka. rafka menaikkan sebelah alisnya menunggu alina mengucapkan sesuatu.
tok tok tok
terdengar seseorang mengetuk pintu. alina dan rafka bersamaan melihat pintu yang masih tertutup rapat itu.
"aku buka dulu pintunya." secepat kilat alina segera menjauhkan diri dari rafka, tapi Tangan besar rafka menahannya. alina mengernyitkan dahi.
"tidak perlu."
"ha, di luar ada yang mengetuk pintu kenapa tidak boleh membukanya."
"ini adalah pernikahan kita, dan aku tak ingin ada yang mengganggu hari kita." rafka menaik turunkan alisnya yang dalam. menatap alina yang masih mengenakan jubah mandi berwarna putih.
"kau sudah gila, aku tidak mau." sekuat tenaga alina mengerang menarik tangannya yang di genggam rafka.
rafka tersenyum misterius, melihat alina yang melipat kedua tangannya di depan menutupi dadanya.
"kenapa kau seperti itu, bukankah ini adalah kewajibanmu?" rafka mempertahankan senyum di sudut bibirnya dengan mencondongkan tubuhnya ke depan.
alina membuka mata, tercengang dengan rafka yang tidak lagi berada di hadapannya, ia mengedarkan padangannya dan sorot matanya tertuju pada pintu yang terbuka sedikit. rafka berdiri di pintu yang terbuka sedikit. alina memandang suaminya itu dengan diam. tak berapa lama, rafka kembali masuk dan menutup pintu memberikan paperbag berwarna coklat tua.
"apa ini?" tanya alina.
"baju ganti kamu, siang ini, kau persiapkan tangan kamu." kata rafka santai.
"hah, ada apa?" tanya alina.
rafka tersenyum dan mencium dahi alina, kemudian berlalu memasuki kamar mandi.
tepat jam 11 siang, dia berada di sebuah pabrik teh milik rafka, seelama bertahun tahun, ia tidak pernah masuk ke dalam sana. para pegawai di sana menyambutnya dengan senang.
"selamat pagi nyonya." sapa salah satu pegawai di sana, seorang perempuan cantik dengan rambut tertata rapi mengembangkan senyum di wajahnya, parasnya yang cantik dan anggun itu siapa saja bisa terpesona kepadanya.
"siang!" sahut alina membalas senyum wanita itu.
"saya adalah orang yang bertanggung jawab disini, panggil saja saya Lia, jika Nyonya butuh bantuan, panggil saja saya." ungkapnya.
"ah, nyonya silahkan masuk, di sana ruangan anda. Tuan rafka sedang bertemu dengab pak Albert." ucap Lia mempersilahkan.
"Terima kasih Lia." sahut Alina mengangguk, ia memasuki salah satu ruang yang di tunjukkan oleh Lia. begitu di dalam ruangan itu ia terkagum dengan dekorasi yang menurutnya sangat unik, ruangan yang bercat putih itu seakan memberikan sensasi ketenangan. ia pun meneliti setiap sudut ruangan itu. lukisan yang sederhana tapi terlihat sangat indah. ia membuka gorden pada kaca jendela yang mengarah langsung pada sebuah taman bunga latulip yang berwarna putih, seakan memberikan kesan yang sangat harmonis.
Ia bisa melihat jelas, Rafka yang sedang berbincang dengan salah satu staf melalui kaca jendela. tiba tiba, alina terhuyung.
"punggung besar itu....."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...