The Little Sunshine

The Little Sunshine
BAB 21



"Alina!" Zel berlari mendekati Alina yang berjalan di lorong kelas, Alina menoleh sekilas dan melanjutkan langkahnya dengan pelan.


"Kau pulang di jemput lagi?" tanya Zel setelah sudah berada di samping Alina.


"enggak, aku naik angkot seperti biasa." jawab Alina.


"tumben, kemana tuh om om tampan yang jemput kamu tiap hari?" tanya Zel.


"Balik kerja lah."


"Ooh,"


"kenapa?" tanya Alina.


"enggak ada, cuma aneh aja, biasanya ada yang jemput." Zel tertawa lebar.


"Minggir!! gue mau lewat!" ketus Salma berjalan dengan angkuh menabrak bahu Alina, dan melewatinya dari tengah tengah mereka.


"woy, bisa sopan ga sih, jalan masih lebar napa lo main tabrak aja!" ketus Zel marah.


Salma dan kedua sahabatnya berbalik menatap Alina dan Zeline. menampakkan senyum smirk di sudut bibirnya.


"huh, apa kau tidak lihat ini jalan, dan kalian berdua menghalangi jalan kami." kata Salma angkuh.


"kau..."


"Sudahlah Zel, biarin aja." Alina menahan lengan Zel, yang membuat Zel berhenti melawan.


"Dan kau, anak baru!" Tunjuk Salma di wajah Alina. "Kau jangan lagi lagi mendekati Rafka, karena kau tau, dia adalah calon tunangan dari kakakku!" ancam Salma dan mereka berbalik pergi menjauh.


Alina dan Zel merasa kesal, hanya terdiam dan memandang punggung mereka hingga jauh.


"hey Al, yuk kita pulang. ga usah mikirin lambe turah kayak dia. ga ada faedahnya." Alina menatap zel sekilas lalu berjalan kembali.


Selama perjalanan pulang, Alina terdiam memikirkan perkataan salma bahwa Rafka memiliki pacar.


"Al, Alina." lamunan Alina terbuyarkan.


"Ya." jawab Alina.


"Sudah sampai."


"huh, Apa?"


"Sudah sampai, ayo kita turun." Zel menarik Alina turun dari angkotan.


Alina berjalan pelan, bahkan pikirannya tak bisa berkonsentrasi penuh, ia bahkan tak mendengarkan Zel berbicara panjang lebar.


"Al, Alina, dengar ga sih yang aku omongin." Zel menepuk lengan alina.


"huh, apa!"


Zeline memandang wajah alina dengan seksama, "apa kau sakit?"


"eng...enggak," jawab Alina terbata. Zel meletakkan punggung tangannya ke dahi Alina.


"Eh ga demam kok."


"ih, apaan sih!" Alina memindahkan tangan Zel dan berjalan terlebih dulu.


"yach malah di tinggalin."


***


"Bos, jangan lupa malam ini ada acara perjamuan dengan perusahaan Jaya Corp." peringat Aileen.


Rafka dan Aileen berada di ruangan CEO, keduanya sedang meneliti salah satu dokumen di hadapannya.


"Jam berapa?"


"saya akan datang sendiri."


Aileen tersenyum, ini kesempatan dia untuk bisa beristirahat sejak awal.


"Baik boss." baru saja Aileen akan membuka pintu, "tunggu!" Aileen kembali membalikkan tubuhnya menatap bossnya menunggu perintah seperti biasanya.


"Nanti kau tolong cek beberapa laporan yang berada di singapura."


"ha!" mulut Aileen menganga.


"hanya itu saja, Sudah kau bisa keluar sekarang!"


"Baru saja, aku akan senang bisa istirahat lebih awal. ah si boss lagi lagi beri kerjaan lagi, uh sial!" gumam Ailen yang kemudian keluar dan menutup pintu kembali.


Rafka masih meneliti dokumen di meja, ia mengecek dari halaman satu ke halaman selanjutnya, kemudian ia menilik ponsel, kalau ini adalah jam 5, pasti alina sudah sampai di rumah. ia segera menelpon ke ponsel Alina.


"Halo." jawab Alina ketika sudah tersambung.


"A...Alina."


"Ya."


"Kau ada dimana, sudah sampai rumah."


"sudah, baru selesai mandi, ada apa kak?"


"gak ada, cuma mastiin kalau kau tidak membuat masalah lagi di sekolah."


"hahaha, tidaklah mas, alina ini anak baik baik kok, di jamin semua aman."


"oh, oke kalau begitu aku tutup. bye."


"bye."


Setelah itu, Rafka tersenyum dan meletakkan kembali ponselnya, namun dering telpon kembali masuk. tanpa melihat nama yang tertera di layar telepon ia langsung mengangkatnya.


"Iya alina, ada apa?" tanya Rafka.


"halo raf, ini Rania.!" Rafka menjauhkan ponselnya dari telinga dan melihat sederet nomer yang sedang memanggilnya berlangsung.


"ya katakan!" nada suara Rafka kembali terdengar datar seperti biasa.


"em, malam ini, aku mewakili Perusahaan makan malam, bisakah kamu menemaniku datang?"


"tapi saya sudah..."


"Rafka.." tiba tiba suaranya berpindah dengan nada bundanya.


"Bunda!"


"Rafka, tolong kau temani Rania nak, dia adalah calon tunangan kamu."


"tapi bund, rafka..."


"ayolah nak, ini hanya perjamuan biasa, kalau kau tidak mau mengenalkan dengan rekanmu, maka biarkan dia memperkenalkanmu bersama rekannya, kelak di masa depan kalian akan selalu bersama."


"tapi bund.."


"sekali saja, demi bunda."


"ya baiklah."


Rafka menghela nafas dan mengeluarkannya dengan kasar, kemudian menghubungi sekertarisnya untuk mewakilkan sesi perjamuan yang di adakan jaya corp.


***