
Saat membuka mata, semuanya terlihat putih bahkan di indra penciumannya tercium bau yang sudah ia kira itu ada sebuah rumah sakit. Ia memegang kepalanya yang masih berdenyut dan berusaha duduk.
"Kamu masih belum pulih, istirahatlah." Sebuah tangan besar bergerak memegang lengan Alina.
"Pergi kamu! Aku nggak mau melihat wajahmu lagi!" bentaknya seraya menepis tangan Aksa yang mencoba memegangnya.
Aksa hanya diam menatap Alina yang kesusahan mendudukkan dirinya. Ada semburat kekhawtiran di wajahnya.
Tak berapa lama seorang dokter datang membawakan peralatan yang selalu di kalungkan di lehernya. Aksa tersenyum saat dokter itu masuk.
"Selamat pagi pak Aksa, hai bu Alina, apa sudah lebih baik hari ini?" sapa seorang pria yang memakai seragam dokter yang kemudian mengalihkan ke arah Alina yang sudah terduduk di Ranjang brankar.
"Pagi pak dokter, saya sudah lebih baik, bisakah saya hari ini keluar lebih cepat?" tanya Alina seraya memaksakan senyum di bibirnya.
"Emm, perkembangannya sudah bagus, sekarang pun kamu sudah boleh pulang." Ucap dokter itu tersenyum seraya memasukkan kembali alat yang telah selesai memeriksa organ Alina.
Dokter itu pun memutar balik tubuhnya menatap Aksa yang masih terdiam di tempatnya. Lalu menepuk bahu Aksa.
"Nona Alina sudah lebih baik, Saya ingin berbicara sebentar dengan anda pak." Kata dokter itu lalu menoleh ke arah Alina dengan tersenyum dan kemudian berlalu keluar dari ruangan yang di tempati Alina.
"Aku akan menemui dokter, tunggulah aku sebentar." kata aksa yang kemudian ia juga ikut keluar.
Alina tidak menyahut apapun, ia melengos melihat kaca jendela luar. Ia menundukkan kepalanya dan menumpu pada kedua kakinya yang ia tekuk, diam diam ia mengeluarkan air mata.
Terdengar dari luar ada langkah kaki yang semakin mendekat, Alina segera mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan tisu yang berada di atas nakas di sampingnya, ia mencoba menormalkan wajahnya agar tidak di ketahui kalau ia telah menangis.
Saat Aksa masuk ke dalam ruangan, Alina membuang mukanya ke arah jendela, tidak ingin menatap wajah pria itu lama lama.
Begitu juga Aksa tidak mengatakan apapun lagi, ia membereskan sesuatu ke dalam paper bag kecil. lalu menyerahkan paper bag yang lain ke arah Alina.
"Gantilah pakaianmua dengan ini, kita bisa pulang." Ujar Aksa.
Alina tak segera menyahut, bahkan tangan Aksa yang sejak tadi tidak di sambut, ia pun meletakkan paper bag itu di pangkuan Alina, kemudian ia keluar dengan menempelkan ponsel pintar itu ditelinganya.
Alina menatap pintu yang sudah tertutup rapat, tangannya bergerak ke paper bag yang berada di pangkuannya.
Setelah 5 menit berada di dalam kamar mandi, ia keluar. Aksa yang sedari tadi menunggu di depan pintu, menoleh saat handle pintu bergerak. Alina sudah tidak terlihat sepucat tadi, ia terlohat lebih segar setelah menggunakan lips berwarna nude seperti kebanyakan para remaja menggunakannya.
"Sudah selesai?" Tanya Aksa berbalik menghadap Alina.
Alina hanya diam tidak menyahut apapun, Ia berjalan keluar dan membiarkan Aksa yang masih terdiam.
Saat di parkiran, Aksa melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Keduanya sama sama diam.
Sampai dikediaman Aksa, Alina tidak mengatakan apapun, langsung meninggalkan Aksa begitu saja. Aksa tidak tau lagi bagaimana menghadapi Alina yang tiba tiba mendiamkannya itu.
Hingga saat di sore hari, Aksa memaksakan untuk menyuapi gadis itu untuk makan.
"Aksa! Apa sih mau kamu, kamu selalu saja menggangguku, tidak cukupkah kamu selama ini menelantarkan aku!" kata kata itu begitu lancar di ucapkan Alina. Ia membeliakkan mata ke arah Aksa yang tangannya mengapung di udara bersiap menyuapi di depan mulut Alina.
Aksa menghela nafas berat, lalu meletakkan kembali sendok itu di mangkok.
"Lalu, Aku harus bagaimana?" Ucap Aksa bingung.
"Kau lebih baik pergi saja, aku ingin sendiri." Ucap Alina melembut bahkan ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Aksa meletakkan semangkuk bubur itu di meja nakas di samping Alina. Aksa pun keluar dari kamar Alina. Alina menatap pintu yang sudah tertutup rapat, mata Alina memerah sesaat.
Aksa duduk di teras melihat putranya yang begitu aktif bermain bola di pekarangan rumah Bersama mbak Nana.
"Aksa!" Sebuah suara yang sangat familiar di gendang telinganya. Ia menoleh dan mendapati Pria paruh baya itu berjalan ke arahnya, lalu duduk di samping yang berbataskan meja.
"Bagaimana keadaan Alina?" Tanya Fandi saat sudah duduk di kursi sambil menatap cucu kesayangnya yang bahkan terlihat sangat mirip dengan Alina.
"Kata dokter, gegar otak yang di alami Alina membuat ia melupakan sebagian memorinya, mungkin saat ini ia hanya teringat pada waktu yang saat menyakitkan saja,." ucap Aksa menatap lurus ke depan.
"Emm, kamu harus bersabar menghadapi ini semua Sa, Cavin juga sangat mengerti tentang keadaan mamanya." Fandi mengelus punggumg tangan Aksa sebentar. kemudian bangkit menghampiri cucunya yang masih asyik bermain bola.
"He, cucu Opa." Cavin sangt Antusias saat sang opa datang menghampiri.
Keduanya sangat menikmati permainan bola, begitu juga pria paruh baya itu meski tenaganya tidak sekuat saat muda dulu, bahkan nafasnya sering naik turun saat menendang bola tapi tidak mengurangi semangatnya untuk mengajak bermain dengan cucunya.
Tanpa mereka sadari, Alina berdiri di balik pintu mendengarkan segala perbincangan dengan paman dan suaminya, tanpa ia sadaei ia meneteskan air mata.
"Loh, non alina, kok berdiri di sini, kenapa gak keluar bersama den cavin Non." sebuah suara Art di rumah Fandi menegurnya.
Tangan Alina mengusap air matanya yang sempat menetes, lalu memutar badannya dan tersenyum tipis.
"Nggak Apa kok mbok, aku hanya tadi sedang lewat saja. oiya aku kekamar dulu mbok." balas Alina yang kemudian ia melewati Art itu.
Aksa yang sejak tadi mendengar perbincangan itu langsung menoleh, lalu menghampiri Art itu.
"Ada apa Mbok?" tanya Aksa.
"Itu den, Non Alina tadi berada disini, lalu kembali ke kamarnya, oiya den, mbok permisi dulu ya, mau ambil jemuran." sahut Art itu yang kemudian berlalu.
#
Alina sudah tertidur pulas di kasurnya setelah meminum obat, sedangkan Aksa duduk di meja kerjanya yang tak jauh dari tempat tidur, mengecek beberapa file yang akan ia gunakan esok pagi untuk meeting bersama klien yang kemungkinan akan datang dari jepang.
"Ah, tidak! Papa! Papa! Jangan tinggalin Aku pa!" terdengar gumaman gumaman pelan dari bibir Alina, ia juga bergerak gelisah, dahinya di liputi keringat dingin.
Aksa yang sejak tadi fokus dengan laptopnya, mengalihkan padangan ke arah kasur yang digunakan Alina tidur. Aksa memeriksa dahi Alina dengan punggung tangannya saat sampai di kasur.
"Papa, jangan tinggalin aku pa." Tangan Alina menangkap tangan Aksa, kemudian ia terlelap kembali dan merasa tenang.
Tangan Alina begitu kuat menggenggam tangan Aksa, bahkan sangat sulit untuk dilepas. Aksa memandangi wajah cantik Alina, wajah yang selalu menenangkan hidupnya di saat ia berada dalam masalah apapun.
Bahkan ia juga merindukan aroma tubuh Alina yang sudah menjadk candunya selama ini.
"Aku tidak tau bagaimana menebus waktu kita yang sudah hilang Al. Aku hanya bisa berharap masa sekarang dan masa depan, Aku akan membuat kamu tersenyum lagi." gumamnya pelan. kemudian ia merebahkan kepalanya di lengan yang satunya sebagai bantalan.
...****************...