
Di depan rumah Alina banyak terkerubung para tetangga yang datang untuk berbela sungkawa, bahkan di depan rumahnya sudah didirikan tenda. Alina menangis di samping mayat Bhara yang sudah tertutup kain putih hingga kepala. Mbok jah masih terus memeluknya dengan erat.
"Alina, sabar sayang." ucap Shaquella mengelus kepala hingga punggung dengan lembut dan tiada henti hentinya Shaquella mengucapkan kata sabar.
Sedangkan Fandi sendiri mengatur semua pemakaman untuk sahabatnya. Fandi juga merasa sedih harus kehilangan sahabat serta teman satu satunya, tetapi sebagai lelaki ia harus kuat, ia merasa sangat kasihan kepada keponakannya yang sudah menjadi anak yatim. setelah ini ia akan menanggung semua biaya sekolah dan biaya hidup Alina, karna ia sudah berjanji kepada mendiang akan selalu menjadi keluarganya.
Awalnya Fandi ingin membuat Rafka dan Alina bisa menikah suatu saat nanti, tapi melihat Alina yang masih bersekolah, di tambah lagi Shaquella menyudutkan agar Rafka segera menikah, meski tak rela ia menyetujui usulan istrinya itu.
"Bos, apa kau tidak segera ke Bandung bos.?" tanya Aileen.
Rafka yang sedari tadi fokus beralih menatap Aileen yang betah berdiri sejak tadi, terlihat wajahnya ada kecemasan dan kekhawatiran.
"Kenapa? Apa bunda ada menelponmu untuk mengabariku tentang perjodohan yang aku gak mau.!" ketus Rafka dan kembali melihat segala dokumen di hadapannya.
"Bu-Bukan bos, tapi ini..."
"Kenapa? katakan dengan benar Ailen, kau disini aku bayar untuk bekerja bukan untuk memberikan laporan yang tidak berguna."
"ini tentang ayah Alina bos." seketika fokus Rafka terbuyar.
"Ada apa dengan Alina?" tanya Rafka sarkas.
"Ayah Alina mengalami kecelakaan bos."
"Apa!" Rafka merasa syok mendengar berita ini. iya hanya memikirkan Alina saat ini. kemudian tergesa mencari kunci mobil.
"Bos, mau kemana?" tanya Rafka yang tergesa akan keluar ruangannya.
"Aku akan mencari Alina."
"Bos, ini bahaya bos, biar saya saja yang menyetir untuk bos." Aileen merebut kunci yang di genggam oleh Rafka.
"Aileen, cepat sedikit, kenapa kau menyetir lambat sekali!"
"iya bos, ini sudah cepat."
Mobio Rafka membelah jalanan dari jakarta hingga Bandung, hatinya grusak grusuk, memikirkan saja sepertinya ia tak sanggup, keluarganya satu persatu meninggalkannya.
Sampai di depan rumah Alina, Rafka berlari memasuki rumah, ia tak peduli akan tatapan mata yang memandangnya, ia peluk ia cium tubuh Alina yang lemah. Alina pun memeluk tubuh Rafka dengan bersimbah air mata.
"Papa mas! Papa!" gumam Alina yang semakin tak jelas.
"Aku tau Alina, aku tau." Rafka terdiam melihat kesedihan yang terpancar di mata kekasih kecilnya.
Kini tubuh Bhara sudah terbalut kain kafan, banyak warga sekitar yang ikut menyolatkan jenazah, Begitupun Rafka dan Fandi yang ikut berbaris di antara pelayat yang hadir. setelah itu mengantarkan jenazah hingga masuk liang lahat.
Tubuh Alina semakin lemah, ia di papah oleh Mbok jah yang semakin renta dan disisi Kirinya tubuh shaquella. Kini tubuh Bhara sudah menyatu dengan tanah, hanya tertinggal papan nama di atas tanah yang kering bertabur Bunga mawar. Alina menangis dan memeluk Nisan papanya.
Rafka berdiri di samping Alina, semua pelayat yang mengantarkan jenazah sudah mulai pulang satu persatu, begitupun Ayah dan Bunda Rafka sudah meninggalkan pemakaman, hanya tinggal Alina dan Rafka di sana. baju yang berwarna putih telah ternoda dengan tanah, Alina masih bersimpuh di papan nisan dan dengan sesenggukan mengeluarkan air mata.
"Alina, ayo pulang, hari semakin gelap." bujuk Rafka
"Alin ga mau mas, Alina mau menemani papa," kata Alina menggelengkan kepala.
Rafka berjongkok disisi Alina. "Alina, papa sudah berbahagia di surganya, kau tidak boleh seperti ini, kau harus hidup Alina, memperjuangkan kembali tujuan papa kamu, hidup kamu masih panjang." ucap Rafka mengelus punggung Alina.
Alina menatap papan Nisan yang bertuliskan Bhara Alexander kemudian mengecupnya dengan lembut. Ia di papah oleh Rafka untuk berdiri dan perlahan meninggalkan pemakaman.
***