The Little Sunshine

The Little Sunshine
Bab 44



Alina duduk di kursi kerjanya. Mengecek beberapa desaign yang ia gambar selama berjam-jam tadi.


"Buk, ada tamu. katanya ingin ketemu sama ibuk." salah satu karyawannya nyelonong masuk ke dalam ruangan Alina yang tertutup.


"Hem, siapa?"Tanya Alina tidak mendongakkan wajahnya. ia masih serius dengan gambarnya.


"Itu buk, perempuan. Jika ibuk tidak mau menemuinya, dia akan merusak gaun ibuk." tuturnya.


"Baiklah." Alina meletakkan pensilnya, segera bergegas menemui siapa wanita yang di maksud oleh pegawainya.


#


"Alina! Keluar kamu! Saya tau kamu sudah kembali dari London! Alina! Keluar!" Teriak wanita itu kesetanan.


Alina berjalan menuruni tangga, sampai di tengah tangga, ia melihat wanita itu marah marah kepada ke lima karyawannya. Ia sejenak mengerutkan dahinya. menatap wanita itu seksama.


"Ada apa ini?" Serunya dari arah tangga.


"Bu Alina!" Seru salah satu karyawan yang melihat keberadaan Alina.


Wanita yang sedang emosi itu, menoleh menuju karyawan yang sedang menatap atasannya itu.Ia lantas ikut menoleh ke arah yang di pandang karyawan itu.


"Huh! Akhirnya kamu keluar juga." Sinis wanita itu.


"Ada apa ini?" Alina mengulang kalimatnya, berjalan menuruni tangga hingga lantai dasar.


"Dasar wanita jalang!" Wanita itu langsung menerkam Tubuh Alina, beruntung saja, ke lima karyawannya langsung berbaris tepat di depannya, menghalangi Alina yang masih terdiam di tempatnya.


"Gara-gara kau, Kakakku sekarang sedang berada di jalanan. Kau tau bagaimana rasanya ditinggalkan lelaki yang ia cintai. Demi Rafka! Kau tau dia rela merendahkan dirinya." lalu perempuan itu tertawa getir.


Alina hanya diam menyimak cerita wanita itu.


"Bahkan ayah dan Mamaku sekarang sangat menderita, Lelaki itu memenjarakan Ayahku, Ibuku sampai gila. Dan kakakku huhuhu....!" Lanjutnya yang kemudian menangis.


"Bahkan kakakku menjadi bahan sorotan pria be*****k di luar sana. Hidup aku hancur. Sekarang kau bahkan berani muncul di hadapan kami!" Serunya.


"Nona, saya tidak mengerti dengan kata-katamu. Anda salah orang!" seru salah satu karyawan yang berambut pendek.


"he, Aku salah orang? Aku jelas jelas tidak salah orang. Dialah penyebab keluargaku hancur seperti ini." Serunya lagi, ia tertawa lalu menangis.


"Ki, panggilkan satpam di luar, lalu bawa wanita ini ke pihak yang berwajib." Ujar Alina mengode Kirana sebagai Asistennya.


"Baik buk." Jawab Kirana, segera kembali ke lantai dua memanggil pihak satpam yang sedang berjaga di luar. takutnya suasananya akan semakin tidak terkendali.


"Alina, sini kamu! Aku ingin sekali membunuh kamu, seperti dulu yang pernah aku lakukan padamu dulu." Sinisnya.


Tak berapa lama Dua orang satpam masuk. membekuk wanita yang di anggap sinting itu.


"Mbak Alina, gak apa-apa kan?" Tanya Kirana.


"Tidak, tidak apa-apa." sahutnya seraya menggelengkan kepala.


"Sudahlah, kalian kembali bekerja." Ucap Alina kepada kelima karyawannya. Lalu berbalik menuju tangga.


Di dalam perkataan wanita itu, berputar di otaknya. Duduk di kursi melanjutkan pekerjaannya, tapi dia sama sekali tidak fokus. Tiba-tiba saja 6 tahun lalu, kejadian waktu itu berputar di otaknya.


Flash back


Kedatangannya di surabaya, adalah usulan dari paman fandj tentu saja. tapi ternyata itu adalah tempat persembunyian dari serangan keluarga Rania. Tapi Alina tidak mengerti akan maksud dari semua ini. Beruntungnya, ia sudah lulus sekolah. Ia hanya sedang menunggu pendaftaran masuk kuliah.


Namun beberapa minggu hidup di surabaya, ia sudah mulai menvenal lingkungannya, mereka sangat ramah dan bisa menerima kehadiran Alina di sana.


Tanpa Alina duga, ternyata pada malam harinya, Rafka datang memohon untuk kembali ke Bandung.


Saat itu Alina sudah bertekad. ia tidak akan kembali, apalagi ia saat itu sudah diusir oleh Shaquella. Hidupnya seakan sudah hancur hanya karena kelalaiannya tidak sengaja satu kamar dengan rafka yang sedang mabuk berat.


Alina juga tidak tau menahu soal pertunangannya dengan Rania, bahkan pernikahan yang akan di gelar mewah itu ternyata batal. Dan itu semua karena Rafka yang secara terbuka membatalkan pertunangan itu melalui berbagai media dan surat kabar.


Membuat keluarga Rania menanggung malu dan kerugian yang sangat besar, Apalagi Rafka sudah membuka kedok yang di lakukan oleh Ayah Rania, telah berkompilasi korupsi secara besar-besaran. Ayahnya masuk penjara, sedangkan semua properti dan aser di sita pihak bank, Ibunya tidak terima, kemudian ia masuk rumah sakit Jiwa.


Tinggal Rania dan Adiknya yang hidup merana, Rania memohon kepada Rafka untuk membebaskan ayahnya, tapi malah di usir oleh keluarga Rafka.


Apalagi di luar sana, ternyata Rania suka bermain dengan om-om. Rafka hanya bisa menghela nafas, mencari Keberadaan Alina.


Tapi tak di sangka, Alina menolak dan tidak mau lagi bertemu dengan Rafka. Apalagi ia terlalu sakit hati saat Ia hanya diam saja saat Alina di usir dari rumahnya.


Rafka selalu datang ke rumah Alina, sekedar berbasa basi, atau bahkan ia rela berlutut di depan pintu.


"Rafka, apa yang kamu mau dari aku,!" Ucapnya tak tahan ketika Rafka hampir saja terjatuh.


Rafka mengulas senyum, menatap lekat wajah Alina yang seputih porselin di sampingnya.


"Aku ingin kau menjadi istriku." jawab Rafka lirih.


"Gila! Kau gila Rafka!" tepisnya.


"Aku gak Gila Al! Aku beneran cinta sama kamu. Bahkan aku rela melakukan apapun demi kamu, aku janji akan selalu melindungi kamu, sesuai janji aku di depan papa kamu sewaktu masih hidup. Al, maukah kamu menjadi istriku?" tuturnya lagi.


"Raf, Aku...." mendesah. kemudian menatap mata hitam Rafka yang dalam.


"Tidak! Kau gila!" lanjut Alina. Sebelum beranjak dari tempatnya Rafka mencekal tangan Alina.


Langkah Alina tertahan, "Malam itu, jika kau hamil, apa kau tidak malu pada anak yang kau kandung tidak mempunyai ayah." Sahut Rafka.


Alina membeku di tempatnya. tidak bergerak sama sekali, air matanya tiba tiba merembes begitu saja, menundukkan kepalanya menatap perutnya yang masih rata.


Tangan kekar Rafka melingkar erat di perut rata Alina, Merebahkan kepalanya di ceruk leher Alina yang jenjang, menghirup aroma wangi vanila yang sering digunakan gadis itu.


Alina memejamkan matanya, "Aku sudah berjanji dengan Om Bhara akan menjagamu sepanjang hidup kamu, dan kita akan menua bersama, menjaga anak anak kita."


"Alina, ayah sudah setuju akan pernikahan kita. Pernikahan kita akan di gelar secara tertutup, Itu akan melindungi kamu dari pihak yang tidak terduga. Hidup kamu akan aman selama kamu berada disisi aku." Rafka membalikkan tubuh Alina dan mendekapnya erat.


Alina mengangguk di dalam dekapan Rafka Shaquille Zhafran. Rafka tersenyum.


Hari minggu pagi, Jam 10. Rafka dan Alina melangsungkan pernikahan mereka secara sederhana yang di saksikan oleh paman Fandi. tentu saja di luar awak media.


"Sah!" Terdengar lantang yang menyuarakan kata sah pada suami-istri itu. Rafka dan Alina tersenyum. begitu juga Fandi sudah menunaikan Amanah Bhara.


...****************...


Alina berjalan lesu saat menaiki tangga rumahnya, Ia sangat syok. Ia berdiri termangu di pinggiran pagar balkon. Pipinya basah karena air matanya terus berjatuhan tanpa ia minta. Ia terisak pelan.


"Pa, Aku sangat rindu sama papa, Andai saja papa masih ada di sini, hidup aku tidak akan serumit ini. Aku terkadang merasa kesulitan buat menjalani hidup ini. Pa! Apa papa bahagia melihat aku disini pa? Pa, Aku sangat merindukanmu." menatap Bintanh yang terang di atas sana.


"Al! Alina! Al!...." Teriak Rafka yang kesetanan dari dalam rumahnya.


Saat membuka pintu balkon, Rafka langsung menarik tubuh Alina ke dekapannya.


"Sykurlah, kamu ga apa apa?" tanyanya.


"Rafka!" Seru Alina dari balik dekapan Rafka.


"Aku hampir saja gila, jika tidak menemukan kamu." tututrnya.


"Ini aku gak bisa nafas." Jawab Alina membuat Rafka terkekeh lalu merenggangkan pelukannya.


Alina menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Kamu kenapa kayak orang gila teriak teriak! emang ini di hutan." cibir Alina.


Rafka tersenyum tidak bisa menahan kebahagiaannya.


"Akhirnya kamu kembali seperti dulu Al. Kamu selalu saja mengomel. Aku sangat rindu kamu yang seperti ini." ucapnya menatap lekat mimik wajah Alina yang cemberut.


"Udah deh, gak usah mulai, Aku lapar." sahutnya lalu meninggalkan Rafka.


Rafka tersenyum menatap punggung kecil itu berjalan masuk. "Raf, kamu mau di situ terus mau sampai kapan? ayok ah aku lapar." ajaknya.


"iya--iya Aku kesana."


TBC


...****************...