
Rafka menatap wanita yang sibuk memakan makan malamnya, entah ini sebuah keberuntungan atau memang ini takdirnya. Alina makan dengan begitu lahapnya.
"Kamu ini doyan atau emang laper sih?" tanya Rafka dengan senyum mengembang.
"Dua-duanya. Udah ah, kalau kamu nyebut aku doyan makan, atau bilang aku gendut, aku udahin aja." Alina meletakkan kembali daging ayam itu ke dalam piring yang masih tersisa secuil itu.
"Eh, marah. Tapi kamu cantik banget kalau lagi marah kayak gini." Goda Rafka.
"Cih! cibir Alina lalu mengambil piring kotor dan memasukkan ke dalam bak cucian. sekalian ia mencuci piring tersebut.
"Sana pergi! lagian kamu tuh ngalangin aku mau cuci piring." usir Alina.
Tapi Rafka masih bertahan dan dengan kurang ajarnya, ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku gak akan pergi sebelum kamu mencium aku." ujarnya.
"Memangnya kamu ini anak yang baru beranjak remaja ya, minta di cium." cibirnya lagi.
Alina mengelap tangannya yang basah dengan lap. "Raf, Aku jadi bingung deh, kenapa kamu mau menikahi aku sih, padahal kamu itu kan udah punya tunangan?" Tanya Alina mencoba memancing Rafka agar mau bercerita tentang masa lalunya.
"Siapa yang tunangan, sejak dulu kamu itu emang istri aku." Jawabnya jujur, dan masih posisi yang sama.
Alina membalikkan tubuhnya, kini mereka saling berhadapan. "Aku nggak ngerti, tadi siang ada wanita yang marah-marah di butik. Hampir aja wanita itu merusak gaun yang aku rancang."
"Apa!" serunya lalu merenggangkan pelukannya.
"Apa ada yang terluka?" Tanya Rafka yang melihat tubuh Alina dari bawah sampai atas.
Alina mendesah pelan.
"Aku gak apa-apa sih, udah ada satpam yang mengurusnya, mungkin sekarang ia ditahan di kantor polisi." Jawabnya.
"Emm, keributan apalagi yamg dia perbuat?"
"Dia?"
"Rania kan?"
"Rania? Siapa?"
"Em, sudahlah! Ah aku mau mandi. antarkan aku ke kamar dong, aku gak tau mana kamar kamu." Ujar Rafka mengalihkan topik.
"Cih, bisa bisanya." Cibir Alina, Rafka tersenyum lalu membalikkan badan seolah memcari kamar tidur Alina.
Alina berjalan di depan, Rafka mengekor di belakang Alina. menunjukkan kamar pribadi Alina. Saat masuk, Rafka melongo. Ia sangat merindukan dekorasai kamar yang seperti ini. Rapi dan bersih. Bahkan foto Alina terpampang besar di dinding saat masih belia dulu.
"Di sana kamar mandi, dan ini handuknya. Aku akan keluar!" Ujar Alina seraya menyerahkan handuk baru dari dalam lemari.
"Makasih sayang." Ucapnya manja bahkan ia mengedipkan sebelah matanya.
"Idih, mata kamu sakit ya." sinis Alina. Rafka hanya menanggapinya dengan tersenyum lalu masuk kamar mandi.
Kini Rafka sudah mengenakan baju gantinya, mengenakan kaos putih transparan dan celana bahan yang ia pakai tadi. Ia tidak membawa persiapan apapun saat datang kesini. apalagi ia terburu buru, ketika ia mencari keberadaan Alina yang tidak berada di rumahnya.
Alina sedang duduk menikmati secangkir kopi panas dan menyalakan televisi. Rafka datang menghampiri langsung duduk di samping Alina lalu menariknya di dekapan dadanya.
"Kenapa kamu gak langsung pulang ke rumah?" tanyanya.
"Em. Kopi?" tawar Alina saat ia sudah selesai menyesap kopi panasnya.
"Aku tadi tidak berpikir buat kembali ke rumah kamu, banyak sekali yang sedang aku pikirkan. jadi aku hanya ingin sendiri." jawab Alina.
"Apakah kamu sekarang sudah mengingat sesuatu?"
"Ya, sedikit yang ku tahu. dan soal pernikahan kita yang mendadak kamu memaksaku. Aku sedikit mendapatkan jawaban." jawab Alina.
Rafka mengusap bahu Alina pelan.
"Kita tidak pernah bercerai, tetapi sebagai umat islam kita sudah lebih tiga bulan terpisah maka lebih baik kita menikah lagi, menghindari hal buruk saja." ucapnya santai.
"Tapi kenapa dulu aku bisa berluliah di London, apa kamu tau sesuatu?" tanya Alina pensaran.
"Soal itu, Aku yang mengirim kamu ke sana, karena permintaan kamu yang ingin menyelesaikan studymu sebagai desaigner. lalu aku yang membawa Cavin, membesarkannya dan mendidiknya agar menjadi pribadi yang lebih baik." Jawab Rafka.
"Uh, papa yang hebat!" pujinya.
"Aku anggap kamu sedang memujiku."
"Ya terserah."
"Soal bibi shaqaella?" tanya Alina mengingat dulu bibinya itu sangat membencinya.
"Bunda, sekarang sudah bisa menerima keberadaan kamu sebagai mama Cavin. Dia tidak mempermasalahkan kamu lagi."
"Lalu tadi kamu menyebut soal Rania, siapa Rania?"
"Gak usah menyebut nama wanita itu lagi."
Bibir Alina mengerut. Dia menatap layar datar yang menyala di depannya. menyesap lahi kopi yang semakin menghangat dan tinggal setengah.
"Sejak kapan kamu suka kopi?" tanya Rafka melirik Alina meletakkan cangkir kopi yang tinggal ampasnya saja.
"Sejak aku mengenal Max."
"Max?" Rafka menaikkan satu alisnnya.
"Dia pria yang dulu aku suka, dia juga yang pertama kali menjadi temanku selama di london. Setiap kali dia lagi stres dia ajak aku minum kopi di cafe, nongkronv seharian di cafe." cerita Alina polos. tidak tau kalau pria di sampingnya itu sudah dongkol setengah mampus.
"Lalu?"
"Ya Lalu, aku berteman aja sama dia."
"Lalu?"
Alina mendongak, menatap wajah serius Rafka yang berubah. Kayaknya ada bau cemburu di balik wajah datar Rafka. rasanya Alina sangat senang melihat wajah Rafka yang sangat menggemaskan baginya.
"Udah ah, aku ngantuk." Kata Alina.
Seleketika wajah Rafka kembali berbinar, dan tersenyum. Ah memikirkanny saja, ia tidak bisa lagi menahan ju****r nya yamg sejak lama ia tahan.
"Kenapa kamu tersenyum?" selidik Alina.
"Enggak ada! Cuman tidur kan?" sahut Rafka. Lalu menggandeng pinggang Alina hingga memasuki kamar pribadi Alina.
...****************...