
Alina menatap laptop yang masih menyala di depannya, tidak tau lagi apakah dia harus tertawa atau sedih. Tapi sejak malam pengakuan Rafka membuat ia harus berpikir dua kali.
Memilih tinggal atau lari....
"Mbak Alina...Mbak..." Panggil Kirana seraya mengetok pintu yang berbahan kayu itu.
"Masuk aja Ki." sahut Alina mempersilahkan. Ia kembali fokus pada desaign yang berada di dalam laptopnya.
Kirana mendorong pintu sedikit terbuka.
"Mbak Alina, ada tamu yang ingin bertemu dengan mbak." sahut Kirana.
"Klient, suruh masuk aja." Sahut Alina tanpa mendongakkan wajahnya. Kirana kemudian mempersilahkan masuk lalu menutup pintu.
"Silahkan....!" Kata Alina mengangkat wajahnya,
"Rafka." Kata Alina menatap Rafka yang berjalan mendekat.
Kirana kembali menutup pintu, agar tamu yang datang tidak terusik dengan suara mesin jahit yang berada tepat di samping ruang pribadi Alina.
Alina menatap Rafka dengan dahi berkerut, pasalnya ia tak pernah memberitau alamat rumah butiknya kepada siapapun kecuali dua sahabat lelakinya.
"Kamu dapat dari mana alamat butikku?" Tanya Alina.
Rafka terlebih dulu duduk lalu menumpu kedua kakinya, menatap Alina dengan senyum seringai di wajahnya.
"Itu tidak penting, aku tau dari mana. Yang pasti, kau tidak akan lepas dari ku Alina, sayang." sahut Rafka.
Kali ini perkataan Rafka sangat berbeda dengan biasanya, di dalam kalimatnya seolah sedang menginginkan sesuatu. Alina tersenyum canggung.
"Kamu, mau apa? kenapa kamu berada di sini?" Tanya Alina.
"Hem, apakah itu sebuah pertanyaan? sepertinya bukan. kamu pasti sudah tau apa maksud ku." kata Rafka.
"Hah!" Sahut Alina merasa semakin bingung dengan Ucapan Rafka.
Alina menatap Rafka dengan perasaan kesal karna mempermainkan dirinya.
"Kamu membeli gedung ini atas bantuan dari siapa?" kali ini tatapan Rafka semakin serius dan tatapan matanya menajam.
"Aku mendapatkannya dengan usahaku sendiri." sahut Alina percaya diri.
Rafka kembali menarik sudut bibirnya.
Rafka menggeleng, mengeluarkan sebuah dokumen lalu ia lemparkan ke atas meja Alina, Alina menatap dokumen itu dengan bingung.
"Buka saja." sahut Rafka.
Alina membaca dokumen itu dengan teliti. Lalu menggeleng, ia tidak percaya.
"I-ini...." Alina menatap Rafka tidak percaya.
"Bangunan ini aku dapatkan dengan harga yang fantastis, lalu melemparkan ke kamu yang pada saat itu sedang kesulitan mencari bangunan dengan harga yang sesuai dengan kantongmu kan." jelas Rafka yang membuat Alina membulatkan matanya.
"Jadi ini hanya akal-akalannya Rafka." batin Alina.
"Tidak, itu pasti kau berbohong." Elak Alina.
"Sudahlah, Aku merasa sudah sangat lelah berada di sini. Sepertinya, istriku yang cantik ini merasa tidak nyaman jika aku berada di sini." Rafka beranjak dari duduknya.
"Ah ya...Kalau kau boleh tau. Kau tidak bisa melanggar kontrak perjanjian yang sudah kau tanda tangani. Jika saja kau mengakhiri kontrakr itu kau tau kan akibatnya." Ucap Rafka sebelum ia menarik handle pintu.
Rafka mengedipkan sebelah matanya, tersenyum puas. jika rencana keduanya sudah pasti berhasil. Kemudian ia keluar dari ruangan dengan sudut bibir yang tertarik ke atas.
Kirana yang berada tepat di luar ruangan itu menatap bingung dengan klient satu ini, pasalnya tadi saat datang memasang wajah dingin dan arogan. sekarang ia seperti orang gila yang tersenyum sepanjang jalan.
...****************...